Pemerintah Austria Harus Bayar Rp 23,7 Miliar untuk Rumah Hitler

Kompas.com - 08/02/2019, 15:44 WIB
Rumah tempat Adolf Hitler dilahirkan di Branau am Inn, Austria.Shutterstock Rumah tempat Adolf Hitler dilahirkan di Branau am Inn, Austria.

VIENNA, KOMPAS.com - Sebuah pengadilan di Austria memutuskan pemerintah harus membayar 1,5 juta euro atau sekitar Rp 23,7 miliar kepada pemilik rumah tempat kelahiran Adolf Hitler.

Pengadilan distrik Ried im Innkreis, Kamis (7/2/2019) memutuskan, negara harus meningkatkan jumlah uang yang ditawarkan untuk membeli rumah di Braunau am Inn itu.

"Apalagi bangunan tersebut adalah tempat kelahiran Adolf Hitler," demikian dikabarkan harian Oberösterreichische Nachrichten.

Baca juga: Rumah Kelahiran Hitler Resmi Jatuh ke Tangan Pemerintah Austria

Pada 2016, pemerintah Austria awalnya menawarkan uang sebesaar 310.000 euro atau Rp 4,9 miliar untuk mendapatkan rumah itu.

Namun, sejak saat itu sang pemilik Gerlinde Pommer melawan untuk mendapatkan kompensasi penuh karena dia kehilangan properti miliknya.

Pengadilan memerintahkan negara membayar 1,5 juta euro sesuai dengan nilai yang diajukan tim kuasa hukum Gerlinde dan lahan parkir di dekat bangunan itu juga masuk dalam penilaian tim survei properti.

Sejauh ini, pemerintah Austria belum memutuskan apakah akan menerima atau mengajukan banding atas keptusan pengadilan tersebut. Demikian dilaporkan harian Salzburger Nachrichten.

Sengketa atas rumah ini dimulai delapan tahun lalu ketika Gerlinde mengakhiri perjanjian sewa dengan kementerian dalam negeri.

Sebenarnya, kementerian dalam negeri ingin menggunakan bangunan itu sebagai tempat penampungan orang-orang dengan disabilitas.

Gerlinde menolak rencana untuk membuat bangunan itu ramah terhadap pengguna kursi roda. Dia juga menolak semua tawaran pemerintah untuk membeli bangunan atau sekadar renovasi.

Rencana untuk menjadikan bangunan itu sebagai tempat penampungan pengungsi juga tidak bisa terlaksana.

Akhirnya, pemerintah memberikan penawaran dan pengadilan menolak keluhan Gerlinde yang merasa tindakan pemerintah melanggar hak konstitusionalnya.

Sejak saat itu, nasib bangunan ini tidak jelas karena pemerintah juga tak bisa memutuskan langkah selanjutnya.

Saat itu, Menteri Dalam Negeri Wolfgang Sobotka mengatakan, pemerintah ingin menghancurkan bangunan itu.

"Sehingga tak ada lagi yang tersisa selain cerobong asap dan menggantinya dengan bangunan baru untuk kepentingan amal," kata Sobotka kepada harian Die Presse.

Tujuan sebenarnya adalah untuk mencegah para anggota Neo-Nazi yang berkumpul setiap tahun di bangunan itu untuk memperingati kelahiran Hitler.

Baca juga: Akankah Rumah Kelahiran Hitler Hancur Usai Voting Parlemen Austria?

Masalahnya, gedung itu juga tercatat sebagai cagar budaya dengan beberapa bagian bangunan berusia jauh hingga ke abad ke -17.

Jadi penghancurannya akan memicu kontroversi apalagi sebagian warga Austria menilai langkah itu adalah untuk menghapus keterkaitan negeri tersebut dengan Hitler.




Close Ads X