Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 24/11/2018, 17:22 WIB

PORT BLAIR, KOMPAS.com - Jenazah pria asal Amerika Serikat John Allen Chau kemungkinan tidak akan diambil dari Pulau Sentinel Utara, Kepulauan Andaman, India.

Chau tewas pada pekan lalu terkena lesatan anak panah dari suku Sentinel yang tinggal di pulau itu.

Tidak akan ada bisa dituntut atas kematian pria berusia 27 tahun tersebut, sebab suku Sentinel dilindungi. Mereka diyakini sebagai suku pra-neolitik terakhir di dunia.

Baca juga: Penculikan di Abad 19 Penyebab Suku Sentinel Trauma Orang Asing?

Melansir AFP, Sabtu (24/11/2018), pihak berwenang India bahkan belum mencoba untuk mengirim polisi menginjakkan kaki ke pulau untuk menginterogasi anggota suku.

Namun, polisi telah mengirim perahu di sekitar Sentinel Utara untuk kedua kalinya pada Jumat lalu.

"Tindakan pencegahan sudah diambil tim untuk memastikan kelompok suku yang rentan ini tidak terganggu dan tertekan," demikian pernyataan kepolisian India.

Muncul kekhawatiran tentang penyakit abad 21 yang bisa dapat membunuh suku.

Kepala polisi Andaman, Dependra Pathak mengatakan, tidak ada batas waktu untuk menemukan jenazah Chau.

Kini, pihak berwenang mengalami dilema antara memenuhi pemintaan keluarga Chau atau menjaga privasi di sekitar Sentinal Utara, yang penting bagi kelangsungan hidup suku.

Ahli hak kesukuan dan penulis buku tentang kepulauan Andaman dan Nicobar, Pankaj Sekhsaria, mengatakan upaya untuk mencoba mengambil jenazah Chau merupakan hal yang sia-sia.

Baca juga: Polisi India Kesulitan Ambil Jenazah Pria AS yang Dipanah Suku Sentinel

"Saya tidak berpikir itu adalah ide yang bagus untuk mendekati pulau karena akan menciptakan konflik dengan penduduk di sana," katanya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh peneliti senior lembaga Survival International, Sophie Grig.

"Saya tidak yakin ada cara aman untuk mengambil kembali jenazah tanpa melibatkan suku Sentinel dan mereka yang berusaha melakukannya akan berisiko," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sumber AFP
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.