Kompas.com - 30/04/2018, 23:31 WIB
Foto udara ini diambil pada 9 Februari 2018 menunjukkan desa warga etnis Rshingya yang sudah diratakan dengan buldoser di Myanmar. (AFP) -Foto udara ini diambil pada 9 Februari 2018 menunjukkan desa warga etnis Rshingya yang sudah diratakan dengan buldoser di Myanmar. (AFP)

NAYPYIDAW, KOMPAS.com - Delegasi Dewan Keamanan PBB telah tiba di Myanmar dan diterima langsung oleh pemimpin de facto, Aung San Suu Kyi, pada Senin (30/4/2018).

Kunjungan tersebut menjadi kunjungan diplomatik tingkat tinggi pertama sejak terjadinya krisis Rohingya di Myanmar.

Delegasi PBB juga akan melakukan kunjungan singkat ke wilayah negara bagian Rakhine yang dilanda kekerasan.

Sebanyak 15 perwakilan dari negara anggota Dewan Keamanan PBB terus mencoba mendesak kepada pemerintah Myanmar untuk dapat memungkinkan segera dilakukannya pemulangan para pengungsi dengan selamat.

Baca juga: Dewan Keamanan PBB Akan Berkunjung ke Rakhine Pekan Depan

Kunjungan ke wilayah Rakhine dijadwalkan akan dilangsungkan pada Selasa (1/5/2018) dengan menggunakan helikopter dan memantau kawasan tersebut dari udara.

Delegasi tersebut akhirnya dapat memasuki Myanmar setelah sempat ditolak dengan alasan belum waktu yang tepat.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebelumnya utusan PBB telah lebih dulu ke Bangladesh untuk bertemu dengan para pengungsi Rohingya dan Perdana Menteri Shiekh Hasina.

"Ini adalah krisis kemanusiaan dan masalah hak asasi manusia," kata Duta Besar Kuwait untuk PBB, Mansour al-Otaibi kepada wartawan sebelum berangkat ke Myanmar.

Warga etnis Rohingya di Myanmar melarikan diri dari kampung halaman mereka di Rakhine setelah mendapat serangan dari militer Myanmar.

Kepada perwakilan PBB, mereka menyampaikan kesaksian akan tragedi pembunuhan massal, pemerkosaan dan pembakaran yang terjadi saat mereka melarikan diri.

Kendati demikian, Wakil Duta Besar Rusia Dmitry Polyanskiy, memperingatkan bahwa kunjungan tersebut tidak akan serta merta menyelesaikan krisis Rohingya.

"Kami tidak akan berpaling dari krisis ini, kami tidak menutup mata," kata dia.

Baca juga: Myanmar Bantah Laporan Adanya Lima Kuburan Massal Rohingya di Rakhine



Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X