Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 27/07/2017, 11:59 WIB
Ervan Hardoko

Penulis

Sumber Telegraph

MANILA, KOMPAS.com - Presiden Filipina Rodrigo Duterte kembali membuat berita kali ini akibat "hinaannya" kepada salah satu universitas paling ternama di dunia, Oxford.

Presiden Duterte menyebut Oxford adalah sekolah untuk orang-orang bodoh setelah universitas itu merilis hasil sebuah studi.

Dalam studi itu disebutkan bahwa Duterte menyewa sepasukan pakar dunia maya untuk meningkatkan popularitasnya di media sosial.

Studi berjudul Troops, Trolls and Troublemaker: A Global Inventory of Organised Social Media Manipulation itu membahas strategi yang digunakan partai politik dan politisi di 28 negara untuk kepentingan politik mereka.

Baca: Duterte Ancam Akhiri Perundingan dengan Pemberontak Komunis

Studi ini mengklaim tim kampanye Duterte membayar 200.000 dolar AS pada 2016 untuk kepentingan kampanye dan mempromosikan Duterte di dunia maya.

Duterte pernah mengaku membayar orang untuk membelanya dari berbagai kecaman yang muncul di media sosial.

Namun, dia menegaskan hal tersebut hanya terjadi di masa kampanye dan tak berlanjut setelah dia memerintah.

"Sekarang saya tak membutuhkannya. Saya tak perlu membela diri terhadap serangan. Saya sudah menegaskan hal itu saat dilantik dan masa kampanye," kata Duterte seperti dikutip Rappler.

"Universitas Oxford? Itu adalah sekolah untuk orang-orang bodoh," tambah Duterte.

Duterte, mantan wali kota Davao, memenangkan pemilihan presiden 2016 lewat slogan-slogan populis seperti menjanjikan pemberantasan peredaran narkotika.

Kebijakan perang melawan narkoba yang dikobarkannya sudah membuat ribuan nyawa melayang sehingga Duterte dikecam di seluruh dunia.

Baca: Dibakar Amarah, Duterte Ancam Makan Hidup-hidup Teroris Abu Sayyaf

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Telegraph
Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com