Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Tak Banyak Nama Warga AS dalam "Panama Papers"?

Kompas.com - 08/04/2016, 10:27 WIB

WASHINGTON DC, KOMPAS.com — Beredarnya dokumen "Panama Papers" yang memuat kekayaan tersembunyi para tokoh ternama membuat berbagai negara, mulai dari Rusia, China, hingga Inggris dan Islandia, heboh.

Di dalam dokumen itu, nama-nama politisi, pengusaha, atlet, dan aktris papan atas tercantum dengan jelas. Pertanyaannya, mengapa nyaris tak ada nama orang Amerika Serikat ternama di sana?

Sejauh ini, dalam dokumen yang bocor dari kantor firma hukum Mossack Fonseca ini memang tak terdapat nama taipan atau politisi ternama AS.

Memang ada nama Davd Geffen, pemilik perusahaan rekaman Asylum Record dan salah seorang pendiri perusahaan film Dreamworks-SKG.

Namun, tak ada nama-nama warga AS yang bisa disetarakan dengan PM Islandia atau kawan dekat Presiden Rusia yang tercantum dalam Panama Papers, setidaknya hingga saat ini.

"Banyak nama warga AS (dalam Panama Papers), tetapi mereka lebih seperti warga swasta," kata Marina Walker Guevara, Wakil Direktur Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional (ICIJ) yang mengordinasi investigasi dokumen ini.

Namun, lanjut Marina, minimnya nama warga AS dalam Panama Papers bukan berarti warga negeri itu sudah sangat transparan dalam hal transaksi keuangan.

"Kondisi ini tidak berarti warga AS tidak terlibat dalam sistem keuangan offshore ini. AS sebenarnya adalah pemain yang sangat besar," kata Marina.

Salah satu penyebab lain minimnya nama warga AS dalam Panama Papers adalah warga AS tak menganggap Panama sebagai "surga pajak" saat menyembunyikan kekayaan di luar negeri.

Warga AS lebih memilih menggunakan fasilitas perusahaan offshore di British Virgin Islands (BVI) atau Kepulauan Cayman.

"Warga Amerika memiliki banyak 'surga pajak' untuk dipilih," kata Nicolas Shaxson, penulis Treasure Islands: Tax Havens and the Men who Stole the World.

Warga AS tak perlu pergi ke luar negeri untuk menyembunyikan kekayaan dan aktivitas mereka di balik perusahaan-perusahaan cangkang. Mereka bisa menciptakan sendiri perusahaan semacam itu di rumah masing-masing.

Negara-negara bagian, seperti Delaware dan Wyoming, mengizinkan warganya untuk menciptakan perusahaan semacam itu hanya dengan biaya beberapa ratus dollar.

Di sisi lain, pada saat bank-bank Amerika normalnya diminta untuk "mengenal nasabah mereka", tetapi pengelola bank bisa mencari celah dan membuka rekening untuk perusahaan-perusahaan cangkang dan memastikan kerahasiaan orang-orang yang ingin memindahkan uang dengan diam-diam.

Kementerian Keuangan AS kini tengah berupaya menghentikan praktik itu yang bisa digunakan para penjual senjata atau narkoba untuk mencuci uang haram mereka.

Tak hanya itu, praktik semacam ini menempatkan AS dalam posisi ketiga sebagai negara paling tidak transparan dalam hal keuangan di daftar peringkat Tax Justice Network.

Peringkat AS sebagai negara paling tidak transparan ketiga di dunia ini tepat di atas Panama yang juga dianggap sebagai surga bagi para penghindar pajak.

Hukum yang ketat

Ternyata ada hal lain yang menyebabkan nama-nama warga AS tak banyak muncul di dalam Panama Papers.

Didesak kebutuhan untuk menghentikan pengemplangan pajak besar-besaran oleh warga AS lewat bank-bank asing, Pemerintah Washington dalam beberapa tahun terakhir melakukan tindakan tegas.

Pemerintah AS melakukan penangkapan, penuntutan, dan menerapkan aturan yang lebih ketat untuk mengincar baik bank yang menawarkan "surga pajak" maupun nasabah mereka.

Sejumlah bank asal Swiss adalah yang paling terpukul, misalnya UBS dan Credit Suise. Kedua bank ini harus membayar denda 780 juta dan 2,6 miliar dollar AS karena terbukti membantu warga AS menyembunyikan uang demi menghindari pajak.

Hasilnya, menurut Shaxson, saat ini tak banyak negara "surga pajak" yang berani melayani klien asal AS karena tahu Pemerintah AS bisa menghukum mereka.

Meski demikian, minimnya nama warga AS di dalam Panama Papers memunculkan adanya teori konspirasi, misalnya bocornya dokumen ini didalangi CIA untuk mengganggu stabilitas Rusia atau negara lainnya.

Marina Walker Guevara dari ICIJ menambahkan, masih banyak yang harus diteliti dari 11,5 juta dokumen Panama Papers dan bisa saja nantinya muncul banyak nama warga AS.

"Dokumen ini sangat besar dan mungkin saya masih ada yang tersembunyi yang belum kami temukan. Pekerjaan masih terus berlangsung," ujar Marina.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com