Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 19/01/2015, 12:31 WIB
EditorEgidius Patnistik
PARIS, KOMPAS.com — Mungkinkah serangan terhadap kantor majalah satire Charlie Hebdo pada 7 Januari merupakan sebuah operasi dinas rahasia, atau barangkali sebuah agenda anti-Muslim? Sejumlah teori konspirasi paling liar bertebaran di internet beberapa jam setelah pertumpahan darah di Paris itu.

Sama seperti yang terjadi saat serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat, rumor bergerak sangat cepat saat laporan pertama kali muncul.

Terkait serangan di Paris, di antara yang paling sering disebutkan adalah perubahan jelas pada warna kaca spion mobil yang digunakan Kouachi bersaudara, pelaku serangan itu. Warna kaca spion pada sebuah foto yang diambil di dekat kantor Charlie Hebdo di mana mereka membunuh 12 orang adalah putih. Warna kaca spion itu berubah jadi hitam pada sebuah foto yang muncul belakangan dari mobil yang kemudian ditinggalkan Kouachi bersaudara itu.

Para pakar mengatakan, perubahan itu terkait dengan fakta bahwa cermin terbuat dari krom, sebuah material yang dapat berubah warna karena tergantung cahaya.

Sejumlah rincian lain menyediakan bahan yang kaya untuk teori konspirasi, termasuk kartu identitas yang ditinggalkan salah seorang dari Kouachi bersaudara dan gagang telepon yang tidak diletakkan kembali secara benar di hook-nya di supermarket di mana pria bersenjata bernama Amedy Coulibaly menewaskan empat orang Yahudi dalam penyanderaan yang terjadi dua hari setelah serangan di kantor Charlie Hebdo.

Bahkan rute aksi pawai solidaritas pada 11 Januari di Paris telah menimbulkan keraguan yang signifikansi dalam benak sejumlah orang. Pasalnya, ada klaim bahwa rute itu mencerminkan garis perbatasan negara Israel.

Emmanuel Taieb, seorang profesor di Universitas Sciences-Po Lyon di Perancis dan spesialis dalam teori konspirasi, mengatakan bahwa bagi banyak orang, interpretasi resmi dari sejumlah kejadian—sebagaimana yang disediakan polisi, politisi, dan analis—terlalu membosankan. "Hal itu dianggap payah, mengecewakan. Maka dikesampingkan atau dipertanyakan," katanya.

Para pengamat mengatakan, orang-orang muda, yang menjadikan internet sebagai sumber utama informasinya, sangat rentan untuk percaya segala sesuatu yang mereka baca di dunia maya.

Mohamed Tria (49 tahun), seorang eksekutif bisnis dan presiden klub sepak bola La Duchere di daerah yang keras di Lyon, mengatakan, penafsiran arus utama tentang serangan itu tidak menjangkau sejumlah tempat. "Saya bertemu sekitar 40 anak berusia antara 13 dan 15 tahun di klub saya. Saya sangat terkejut dengan apa yang saya dengar," katanya. "Mereka tidak mendapatkan informasi mereka dari surat kabar, tetapi dari jejaring sosial, itu satu-satunya sumber yang dapat diakses mereka dan mereka yakin bahwa apa yang mereka baca di sana seolah-olah merupakan kebenaran," katanya.

Sejumlah orang lain mengatakan, orang dewasa sekarang ini punya kendali jauh lebih sedikit atas apa yang orang muda pilih untuk percaya. "Selama 30 tahun, 90 persen dari apa yang dipelajari anak-anak berasal entah dari orangtua atau sekolah mereka. Kini, itu sebaliknya. Kita perlu pendidikan tentang jejaring sosial," kata seorang guru dalam sebuah diskusi meja bundar di Sarcelles di pinggiran utara Paris pada akhir pekan.

Bagi Guillaume Brossard, salah seorang pendiri situs web hoaxbuster.com, sebuah situs yang memungkinkan orang untuk memeriksa validitas informasi, seakan-akan ekspresi diri yang dimungkinkan oleh internet dimudahkan buat remaja pemberontak. "Masa remaja adalah saat ketika seseorang butuh untuk menegaskan diri sendiri dan memberontak melawan orang dewasa, tatanan mapan, masyarakat, dan lain-lain.... Maka teori alternatif merupakan wilayah terindah untuk ekspresi diri mereka," katanya.

"Ledakan jaringan sosial telah memungkinkan apa yang dulunya merupakan diskusi di ruang kelas telah berlangsung di Twitter, Snapchat, atau Instagram," tambahnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sumber AFP
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.