Kompas.com - 03/09/2014, 21:34 WIB
EditorErvan Hardoko
WASHINGTON DC, KOMPAS.com — Kelompok militan Libya diyakini merampas belasan pesawat jet komersial saat merebut bandara internasional Tripoli bulan lalu. Jaringan intelijen Barat kemudian memberikan peringatan terkait kemungkinan pesawat-pesawat itu akan digunakan untuk melakukan aksi teror di Afrika Utara.

Laporan intelijen terkait pencurian pesawat-pesawat jet komersial itu didistribusikan ke kalangan pejabat AS selama dua pekan terakhir. Laporan itu memuat peringatan terkait kemungkinan digunakannya pesawat-pesawat itu untuk melakukan aksi teror seperti tragedi 11 September 2001.

"Ada sejumlah pesawat komersial  yang hilang di Libya. Kami menduga pesawat-pesawat itu akan digunakan untuk mengulangi tragedi 11 September," ujar seorang pejabat intelijen.

Sejumlah pejabat AS mengatakan, badan-badan intelijen negeri itu belum memastikan kabar soal pencurian pesawat-pesawat itu menyusul didudukinya bandara internasional Tripoli oleh kelompok militan Fajar Libya pada akhir Agustus lalu. Kini pihaknya tengah mencoba mencari semua pesawat yang adalah milik dua maskapai penerbangan resmi Libya.

Hingga musim panas ini, Libya Airlines memiliki 14 pesawat penumpang dan kargo, termasuk tujuh Airbus A320, satu Airbus A330, dua pesawat turboprop ATR-42 buatan Perancis, dan empat Bombardier CJR-900.

Sementara maskapai Pemerintah Libya lainnya, Afriqiyah Airways, memiliki 13 buah pesawat terbang, termasuk tiga Airbus 319, tujuh Airbus A320, dua Airbus A330, dan satu Airbus A340.

Seorang pakar militer asal Maroko, Abderrahman Mekkaoui, kepada stasiun televisi Al Jazeera mengatakan, pesawat-pesawat yang hilang kini di bawah kendali sebuah organisasi bernama Brigade Pria Bertopeng, yang diduga memiliki kaitan dengan kelompok Ansar al Sharia yang terafiliasi Al Qaeda.

Mekkaoui menambahkan, kelompok ini mengancam akan menggunakan pesawat-pesawat itu untuk meneror negara-negara Maghribi pada peringatan tragedi 11 September 2001.

Sedangkan pakar kontraterorisme Sebastian Gorka menduga pesawat-pesawat itu akan digunakan sebagai "sebuah peluru kendali dengan presisi tinggi" seperti yang dilakukan pada 11 September di New York.

"Atau pesawat itu digunakan untuk mengangkut teroris bersenjata dalam jumlah besar ke lokasi yang terbuka untuk pesawat-pesawat komersial," ujar Gorka.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.