Oposisi Klaim Iran Miliki Fasilitas Nuklir Rahasia Bawah Tanah

Kompas.com - 11/07/2013, 18:47 WIB
Perunding Iran Saeed Jalili (kanan) mewakili negaranya dalam perundingan program nuklir Iran dengan enam negara besar yaitu AS, Rusia, Perancis, Jerman, Inggris, dan China. Pembicaraan yang dihelat di Almaty, Kazakhstan itu berakhir tanpa kesepakatan apapun. ILYAS OMAROV / AFPPerunding Iran Saeed Jalili (kanan) mewakili negaranya dalam perundingan program nuklir Iran dengan enam negara besar yaitu AS, Rusia, Perancis, Jerman, Inggris, dan China. Pembicaraan yang dihelat di Almaty, Kazakhstan itu berakhir tanpa kesepakatan apapun.
EditorErvan Hardoko
PARIS, KOMPAS.com — Kelompok oposisi Iran di pengasingan, Kamis (11/7/2013), mengklaim memiliki bukti keberadaan sebuah fasilitas nuklir yang tersembunyi di dalam terowongan di bawah sebuah gunung di dekat kota Damavand, 70 kilometer sebelah timur laut ibu kota Teheran.

Kelompok Mujahidin Rakyat Iran (MEK), yang berbasis di Paris, Perancis, itu, mengklaim situs nuklir tersembunyi itu sudah ada sejak 2006.

Baru-baru in, lanjut MEK, serangkaian terowongan bawah tanah baru dan empat depot eksternal baru saja selesai dibangun.

"MEK menemukan bukti kredibel sebuah fasilitas nuklir rahasia. Informasi ini dikumpulkan selama satu tahun dari 50 berbagai sumber," demikian pernyataan Dewan Nasional Resistensi Iran (NCRI), kelompok yang memayungi berbagai kelompok oposisi Iran, termasuk MEK.

Laporan MEK itu juga menyebut Mohsen Fahrizadeh, seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran, menjabat sebagai salah seorang direktur perusakan yang mengawasi program-program nuklir, biologi, dan kimia Iran.

MEK melanjutkan laporannya dengan mengatakan bahwa pembangunan fasilitas nuklir itu belum rampung dan tahap berikutnya adalah pembangunan 30 terowongan dan 30 depot.

"Fakta-fakta yang terungkap ini menunjukkan bahwa rezim Mullah tidak memiliki niat untuk menunda atau menghentikan pengembangan senjata nuklir," kata MEK sambil mendesak IAEA mengunjungi fasilitas ini.

MEK juga mengklaim presiden terpilih Iran, Hassan Rohani, yang juga mantan negosiator nuklir, memiliki "peran kunci" dalam pembangunan fasilitas nuklir rahasia ini.

Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang berbasis di Vienna, Austria, memilih tidak mengomentari klaim MEK.

"IAEA akan mempelajari informasi ini, seperti kami lakukan terhadap semua informasi baru yang kami peroleh," kata Juru Bicara IAEA Gill Tudor.

MEK, yang dibentuk pada 1960-an untuk melawan kekuasaan Shah Iran, dianggap oleh Amerika Serikat dianggap sebagai organisasi teroris hingga tahun lalu.

Selama ini, MEK sudah memberikan sejumlah informasi terkait program nuklir Iran.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

China Tuduh AS Berusaha 'Menghancurkan' Hong Kong lewat UU HAM dan Demokrasi

China Tuduh AS Berusaha "Menghancurkan" Hong Kong lewat UU HAM dan Demokrasi

Internasional
Berhubungan Seks dengan Remaja 17 Tahun di Mobil Patroli, Mantan Polisi Ini Ditangkap

Berhubungan Seks dengan Remaja 17 Tahun di Mobil Patroli, Mantan Polisi Ini Ditangkap

Internasional
Sandera 3 Nelayan Indonesia, Kelompok Abu Sayyaf Minta Tebusan Rp 8 Miliar

Sandera 3 Nelayan Indonesia, Kelompok Abu Sayyaf Minta Tebusan Rp 8 Miliar

Internasional
Jalankan Bisnis Penipuan Online dari Penjara, Napi Ini Raup Rp 14 Miliar

Jalankan Bisnis Penipuan Online dari Penjara, Napi Ini Raup Rp 14 Miliar

Internasional
Pelatih Kebugaran Meksiko Ini Ditemukan Tewas Ditembak dan Ditikam di Rumahnya

Pelatih Kebugaran Meksiko Ini Ditemukan Tewas Ditembak dan Ditikam di Rumahnya

Internasional
Kim Jong Un Tolak Undangan dari Presiden Korea Selatan

Kim Jong Un Tolak Undangan dari Presiden Korea Selatan

Internasional
Didesak Indonesia, DK PBB Keluarkan Status Ilegal Pemukiman Israel di Palestina

Didesak Indonesia, DK PBB Keluarkan Status Ilegal Pemukiman Israel di Palestina

Internasional
Video Ungkap Momen Polisi Selamatkan Bocah 8 Tahun yang Diculik

Video Ungkap Momen Polisi Selamatkan Bocah 8 Tahun yang Diculik

Internasional
Berkunjung ke Thailand, Paus Fransiskus Temui Pemimpin Tertinggi Agama Buddha

Berkunjung ke Thailand, Paus Fransiskus Temui Pemimpin Tertinggi Agama Buddha

Internasional
Akhirnya, DPR AS Sahkan UU Mendukung HAM dan Demokrasi Hong Kong

Akhirnya, DPR AS Sahkan UU Mendukung HAM dan Demokrasi Hong Kong

Internasional
Trump Disebut Perintahkan Tekan Ukraina untuk Selidiki Joe Biden

Trump Disebut Perintahkan Tekan Ukraina untuk Selidiki Joe Biden

Internasional
Takut Harga Minyak Naik, Trump Tak Menentang Putra Mahkota Saudi soal Pembunuhan Khashoggi

Takut Harga Minyak Naik, Trump Tak Menentang Putra Mahkota Saudi soal Pembunuhan Khashoggi

Internasional
Israel Gelar 'Serangan Skala Besar' terhadap Iran di Suriah

Israel Gelar "Serangan Skala Besar" terhadap Iran di Suriah

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Rudal Iran Tak Tertandingi di Timur Tengah | Pria 74 Tahun Ceraikan Istri 21 Tahun

[POPULER INTERNASIONAL] Rudal Iran Tak Tertandingi di Timur Tengah | Pria 74 Tahun Ceraikan Istri 21 Tahun

Internasional
Gajah Bernama Osama bin Laden Ini Mati Setelah Injak 5 Orang hingga Tewas

Gajah Bernama Osama bin Laden Ini Mati Setelah Injak 5 Orang hingga Tewas

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X