Salin Artikel

Kisah Pria Penembak Paus Yohanes Paulus II, Sempat Lega Sang Paus Masih Hidup

"Penembakan itu merupakan takdir. Dan takdir pula dia (Paus) selamat. Saya senang dia tidak mati," ucap Agca.

Dalam wawancaranya yang dilansir dari Daily Mirror, Agca (62) merasa dirinya sedih ketika sang Paus wafat pada 2005.

"Dia seperti kakak bagi saya. Ketika dia wafat, saya merasa salah satu kakak atau kawan karib saya telah pergi," kisahnya dilansir pada Jumat (14/2/2020).

Sejak penembakan 38 tahun silam itu, Agca kini tinggal di Istanbul, Turki, di sebuah apartemen kecil di pinggir kota yang tenang.

Setelah 29 tahun dipenjara, dia meninggalkan masa lalunya dan kini para tetangga mengenal Agca sebagai pria yang baik dan suka memberi makan kucing juga anjing jalanan.

Agca mengaku bahwa dirinya masih terus memikirkan perbuatannya yang telah melukai Paus Yohanes Paulus II. "Saya sering memikirkannya. Tidak setiap hari tapi sangat sering."

"Saya orang baik sekarang," ujarnya, "Saya mencoba untuk hidup sebagaimana mestinya. Ketika saya menembak Paus, usia saya masih 23 tahun. Saya masih sangat muda dan bodoh."

Agca mengaku kalau dirinya tidak menggunakan logika ketika menembakkan peluru tepatnya pada 13 Mei 1981.

Kenangan buruk penembakan yang dilakukan Agca rupanya juga mengantarnya pada cerita kenangan manis bersama kekasihnya saat itu, Edith.

Edith, perempuan asal Inggris yang menjadi kekasih Agca selama lima bulan sebelum dia menyerang Paus asal Polandia itu di Lapangan Santo Petrus, Vatikan.

Dia mengaku tidak bisa jujur kepada pacarnya ketika dia berencana menyerang Paus. Menurutnya, itu akan terdengar sangat buruk dan tidak adil.

Agca berjumpa dengan kekasihnya, Edith yang ditemuinya pertama kali di Tunisia pada Desember 1980.

Mereka bertemu di Hotel Intercontinental di Hammonasset. Saat itu Agca memakai identitas palsu dengan paspor yang bernama Farouk.

Agca mengatakan, dia sengaja tidak memberi kabar kepada Edith untuk mencoba membunuh Paus dengan nama asli Karol Josef Wojtyla.

"Dia berusia tujuh tahun lebih tua dari saya tapi tentu dia tidak pernah tahu bahwa saya akan menembak Paus. Terkadang saya memikirkan nasibnya kini," jelasnya.

Dalam wawancaranya, Agca masih enggan membahas dengan tepat tentang bagaimana dia bertekad membunuh Paus. Tapi fakta-fakta yang terjadi sudah dapat didokumentasikan dengan baik.

Pada Rabu, 13 Mei 1981, ketika Paus Yohanes Paulus II melewati Popemobile melalui para peziarah yang semangat di Lapangan Santo Petrus, Agca menembakkan empat tembakan dengan pistol semi-otomatis cokelat berkaliber 9 milimeter.

Tak lama, Agca panik dan melarikan diri. Dia melemparkan pistolnya ke bawah truk. Dia kemudian ditangkap oleh seorang kepala keamanan Vatikan, seorang biarawati dan beberapa penonton.

Keempat peluru itu mengenai Paus dan melukai dirinya secara kritis. Dua buah peluru bersarang di usus besar, satu mengenai jari telunjuk kiri dan yang lainnya melukai lengan kanannya.

Peristiwa ini diliput oleh Daily Mirror dan kolom pimpinan harian tersebut menyebut, "Upaya pembunuhan Yohanes Paulus II adalah tindakan yang paling mengerikan."

Agca, yang juga dituding membunuh editor harian sayap kiri Abdi Ipekci di Istanbul pada 1979 dijatuhi hukuman seumur hidup karena mencoba membunuh Paus.

Namun, Sri Paus memaafkannya. Setelah pulih dari lukanya, dia mengunjungi Agca di penjara. Agca mengaku tidak bisa menjelaskan apa saja yang mereka bicarakan.

"Dalam pertemuan privat selama 22 menit ketika dia mengunjungiku di penjara, terdapat sebuah hal spesial yang tidak bisa saya utarakan," jelasnya.

Pada 2000, Agca mendapat pengampunan atas permintaan Paus, dan diekstradisi ke Turki di mana dia menghabiskan 10 tahun berikutnya karena membunuh Ipekci dan merampok du bank.

Agca masih menolak bagaimana misi itu bisa dia dapatkan, maupun siapa yang menyandang dana. Namun, dia menyebut Uni Soviet adalah dalangnya.

"Adalah mereka (Soviet) yang merencanakan penembakan tersebut. Mereka menginginkannya mati," jelas pria yang ingin jadi profesor tersebut.

https://internasional.kompas.com/read/2020/02/15/17383361/kisah-pria-penembak-paus-yohanes-paulus-ii-sempat-lega-sang-paus-masih

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.