Salin Artikel

Aksi Perkosaan oleh Militer Myanmar Hantui Wanita-wanita Rohingya

Shamila adalah salah satu warga Rohingya yang kini berada di kamp penampungan Reda, di Banglades. 

Dia bercerita tentang kejadian memilukan saat tentara Myanmar memperkosanya di depan anak-anaknya. 

Kisah semacam ini berulang kali terdengar dari mulut para pengungsi Rohingya, yang ada di kamp-kamp penampungan.

Baca: Tengoklah Derita Warga Rohingya di Pengungsian...

Pengamat Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pun mengaku telah mendapati sejumlah korban perkosaan, pada mereka yang kabur dari kekerasan di Myanmar dalam beberapa pekan terakhir.

Hampir semuanya mengatakan, pelaku adalah orang-orang berseragam yang mereka yakini sebagai anggota militer Myanmar.

Kasus tersebut, menurut para ahli, hampir pasti merupakan "puncak gunung es", dari perkara serupa yang jumlahnya lebih banyak lagi.

Stigma sosial seputar korban pemerkosaan dan tantangan untuk menemukan tempat berteduh dan makanan, semakin menambah beban kaum perempuan yang menjadi korban.  

Shamila, bukan nama sebenarnya. Dia mengaku masih berdarah, bahkan hingga dia tiba di pengungsian di Banglades, meski telah berjalan kaki tiga hari.

"Semua tiga tentara memperkosa saya," katanya sambil menangis.

Baca: Myanmar Bunuh Tiga Terduga Militan Rohingya di Rakhine

Dia terus mencengkeram tangan anaknya yang berusia enam tahun yang duduk di sampingnya.

"Ketika mereka pergi, saya berlari keluar rumah dengan dua anak saya. Saya mengikuti kerumunan orang yang berlari untuk menyelamatkan hidup mereka."

Suami Shamila keluar saat serangan terjadi, namun dia belum pernah terlihat kembali sejak serangan itu terjadi.

Dia pun tidak tahu di mana ketiga anaknya yang lain - mereka bermain di luar saat tentara datang, dan menghilang saat kejadian usai.

Misi pencarian fakta PBB sedang bekerja di kamp-kamp pengungsian untuk menyelidiki tuduhan pelanggaran hak asasi manusia di Myanmar, termasuk kekerasan seksual.

Perwakilan Khusus PBB untuk Urusan Kekerasan Seksual dalam Konflik, Pramila Patten mengatakan, minggu ini dia sangat prihatin dengan operasi keamanan di negara bagian Rakhine, Myanmar.

Korban selamat menggambarkan kekerasan seksual yang digunakan sebagai alat teror untuk memaksa populasi Rohingya melarikan diri.

Baca: Konflik di Rakhine Telah Tewaskan Lebih dari 1.000 Orang

https://internasional.kompas.com/read/2017/09/24/13000081/aksi-perkosaan-oleh-militer-myanmar-hantui-wanita-wanita-rohingya

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.