Mantan Pemimpin Gerilyawan Calon Kuat Presiden Timor Leste - Kompas.com

Mantan Pemimpin Gerilyawan Calon Kuat Presiden Timor Leste

Kompas.com - 20/03/2017, 14:19 WIB
VALENTINO DARIEL SOUSA / AFP Francisco Guterres tengah memberikan suaranya di Dili dalam pemilihan presiden, Senin (20/3/2017). Mantan pemimpin gerilyawan ini menjadi kandidat kuat presiden negeri kecil itu.

DILI, KOMPAS.com - Hari ini, Senin (20/3/2017), warga Timor Leste berbondong-bondong menuju ke TPS untuk memilih presiden baru.

Mantan pemimpin gerilya menjadi kandidat kuat pemenang pemilu setelah didukung dia partai politik terbesar negeri itu.

Ini adalah pemilihan presiden pertama sejak pasukan penjaga perdamaian PBB ditarik pada 2012.

Namun, kekerasan yang dikhawatirkan mewarnai proses pemilu tak terjadi sekaligus menjadi pertanda stabilitas politik di negeri termuda Asia itu.

Francisco Guterres atau lebih dikenal dengan nama Lu-Olo menjadi kandidat kuat presiden Timor Leste, yang meski hanya jabatan seremonial tetapi berperan penting menjaga perdamaian antara para politisi yang berseteru.

Guterres adalah pemimpin partai terbesar kedua Fretelin dan juga mendapatkan dukungan dari pahlawan kemerdekaan Xanana Gusmao dengan partai CNRT pimpinannya.

"Saya yakin akan menang, tak akan ada putaran kedua," ujar Guterres yang bersaing dengan tujuh kandidat lainnya, setelah memberikan suara di Dili.

Sesuai aturan, Guterres harus meraih di atas 50 persen suara untuk menghindari pemungutan suara tahap kedua pada April.

Pesaing terkuatnya dalam pemilihan presiden keempat setelah kemerdekaan pada 2002 adalah Antonio da Conceicao, politisi Partai Demokrat.

Presiden saat ini Taur Matan Ruak sudah menyatakan tidak akan mencalonkan diri lagi.

Sejumlah analis mengatakan, kemenangan Guterres akan membantu stabilitas Timor Leste yang berulang kali diguncang kekerasan.

"Dari sisi stabilitas kemenangan Guterres akan lebih baik, karena politik yang terlalu kompetitif akan memunculkan ketegangan," kata Damien Kingsbury, pakar Timor Leste dari Unniversitas Deakin Australia.

Namun, Kingsbury menambahkan, absennya oposisi kuat juga menimbulkan kekhawatiran terkait akuntabilitas pemerintah.

Siapapun pemenang pemilihan presiden ini akan mewarisi tantangan besar yang dihadapi negeri itu.

Timor Leste masih merupakan negara miskin dan pemerintah masih berjuang meningkatkan taraf hidup 1,1 juta rakyat negeri itu.

Selain melakukan diversifikasi pendapatan sehingga tak tergantung minyak bumi, para pemimpin Timor Leste juga harus menyepakati batas laut dengan Australia.

EditorErvan Hardoko
SumberAFP,
Komentar

Close Ads X