Selasa, 17 Januari 2017

Internasional

"Terapi Unik", 3.000-an Warga New York Bebas Tumpahkan Emosi soal Trump

Jumat, 11 November 2016 | 08:47 WIB
. "Iklan gratis: 'subway therapy'." yang digagas seniman New York Matthew Chavez untuk para kaum komuter yang kesal dan kecewa dengan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS.

NEW YORK, KOMPAS.com - Kaum komuter Kota New York menumpahkan kemarahan dan rasa frustrasi atas kemenangan mengejutkan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat ke dinding stasiun kereta.

Kegiatan ini menjadi semacam terapi bagi warga yang ingin melepaskan emosi mereka.

Warga New York yang melintas bisa menuliskan pesan di selembar "post-it" (kertas kecil dengan perekat di ujungnya), dan lalu menempelkannya di tembok terminal "subway". 

"Apakah saya satu-satunya orang yang ketakutan?"

"Saya membutuhkan pelukan."

"Saya marah."

Kalimat-kalimat itu terlihat mencolok di antara ribuan pesan serupa dengan kertas berwarna-warni yang tertempel di dinding selasar menuju stasiun Union Square.

Sejak Kamis sore, telah terkumpul tak kurang dari 3.000 pesan. Jumlah itu tercapai hanya dalam waktu 24 jam sejak seorang seniman New York Matthew Chavez "mangkal" di sana.

Seperti diberitakan AFP, Jumat WIB (11/11/2016), Chavez membuka meja dan menulis pesan "iklan gratis: 'subway therapy'."

Seniman itu mengaku mendapatkan ide terapi unik ini sejak awal tahun lalu.

Saat itu dia menawarkan ide ini sebagai terapi untuk warga New York yang mengalami tekanan. Mereka yang stres bisa melepaskannya dengan menulis uneg-uneg-nya, dan lalu menempelnya di dinding stasiun.

Ternyata, ide Chavez kali ini disambut antusias oleh warga, dan seketika menjadi sangat ramai. 

"Saya rasa warga terlalu panas untuk melakukan pembicaraan kongkrit, mereka tak ingin berbicara dengan orang lain, mereka hanya butuh tempat untuk melampiaskan emosinya," kata Chavez.

"Mungkin dengan itu mereka bisa merasa lebih baik, dan lalu melanjutkan harinya," sambung dia.

Di meja yang dibuka tak jauh dari tembok tersebut, Chavez pun menyusul lembaran post-it di samping tulisan  "E-X-P-R-E-S-S Y-O-U-R-S-E-L-F."

"Ini luar biasa," ungkap perempuan berusia 33 tahun warga New York bernama Andrea Recarte, yang berasal dari Chili.

"Dia telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengungkapkan perasaan. Ini yang lalu menghubungkan kami dengan orang-orang di sekitar yang berperasaan sama namun tak mampu bersuara," sambung dia.

"Kami membutuhkan pelampiasan yang sehat, dan tulisan dalam bentuk kesenian ini merupakan pelarian yang paling sehat yang selama ini saya rasakan," kata Terena Bell, seorang pekerja asal Kentucky.

Dalam post-it-nya, Bell menulis, "Donald Trump I'm praying for you."

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Glori K. Wadrianto