Selasa, 21 Oktober 2014

News / Internasional

Anggota Parlemen Hidup Mewah, Rakyat Irak Protes

Minggu, 1 September 2013 | 01:02 WIB
SABAH ARAR / AFP Ratusan warga Irak berunjuk rasa di Lapangan Firdus, Baghdad, memprotes para anggota parlemen yang hidup mewah sementara rakyat harus bersusah payah memenuhi kebutuhan dasarnya.
BAGHDAD, KOMPAS.com — Ratusan orang turun ke jalanan di kota Baghdad, Irak, Sabtu (31/8/2013), untuk memprotes uang pensiun besar yang diterima para anggota parlemen di saat sebagian warga Irak menganggur dan sulit memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Polisi mengepung para pengunjuk rasa di Baghdad. Sementara itu, aparat keamanan bersenjatakan pentungan, gas air mata, dan meriam air membubarkan unjuk rasa di kota Nassiriya, wilayah selatan Irak.

Unjuk rasa warga Irak ini menandakan kemarahan warga karena para anggota parlemen bisa mendapatkan penghasilan hingga ribuan dollar AS per bulan ditambah berbagai fasilitas dari negara.

Para pengunjuk rasa membawa spanduk dan meneriakkan berbagai yel-yel yang mengecam para pejabat yang bergelimang kemewahan.

"Minyak untuk rakyat, bukan untuk para pencuri!" begitulah teriakan para pengunjuk rasa yang berkumpul di sebuah lapangan di sisi timur Baghdad itu.

Demi mengurangi ruang para pengunjuk rasa, polisi menutup sebagian besar jembatan yang menghubungkan kedua sisi kota Baghdad yang dibelah sungai Tigris itu.

Aparat keamanan juga melarang media massa untuk meliput jalannya unjuk rasa ini.

Sementara itu, di kota Nassiriya, 300 kilometer di sebelah tenggara Baghdad, polisi bersenjatakan pentungan melukai 11 orang dan menahan 10 pengunjuk rasa saat membubarkan aksi protes di kota itu.

Akibat direpotkan dengan berbagai aksi kekerasan dan bentrokan sektarian, Pemerintah Irak memang hanya sedikit berbuat untuk meningkatkan sektor pendidikan, perumahan, dan infrastruktur lainnya.

Sebagian besar rakyat Irak juga hidup susah dan harus mati-matian memenuhi sejumlah kebutuhan dasar mereka.

Angka pengangguran juga sangat tinggi, yaitu sekitar 11 persen pada 2011. Namun, Dana Moneter Internasional (IMF) yakin, angka pengangguran di Irak jauh lebih tinggi, terutama di kalangan anak muda.

Editor : Ervan Hardoko
Sumber: Reuters