Sabtu, 20 September 2014

News / Internasional

Cuaca Buruk, Pencarian Korban Tabrakan Feri di Filipina Dihentikan

Minggu, 18 Agustus 2013 | 03:52 WIB
TED ALJIBE / AFP Tim penyelamat sedang mengangkat seorang korban tewas akibat tabrakan antara sebuah kapal feri dengan kapal barang di dekat pelabuhan kota Cebu, Filipina, Jumat (16/8/2013) malam. Sejauh ini korban tewas tercatat 31 orang dan 171 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
MANILA, KOMPAS.com - Cuaca buruk pada Sabtu (17/8/2013), membuat tim penyelamat Filipina menunda pencarian 171 orang yang hilang akibat tabrakan kapal feri dan kapal kargo di dekat pelabuhan Cebu, Filipina.

Dalam kecelakaan yang terjadi pada Jumat (16/8/2013) malam itu, sebanyak 31 orang dari 831 orang penumpang feri St Thomas Aquinas meninggal dunia.

Pasukan penjaga pantai dan angkatan laut Filipina, dibantu para nelayan, bekerja keras sepanjang Jumat malam hingga Sabtu pagi dan berhasil menyelamatkan 629 orang penumpang.

Namun, cuaca buruk yang terjadi pada Sabtu siang, membuat pemerintah menghentikan sementara upaya pencarian 171 orang penumpang yang masih hilang.

"Hujan sangat deras, ditambah angin kencang dan ombak besar," kata juru bicara AL Filipina Letnan Kolonel Gregory Fabic.

Fabic menambahkan, ombak besar juga membuat para penyelam kesulitan mencapai kapal feri yang tenggelam untuk mencari korban yang kemungkinan masih terjebak.

Meski demikian, lanjut Fabic, tim penyelamat belum menyerah dan berharap masih ada penumpang selamat bisa ditemukan.

Namun Wakil Komandan Pasukan Penjaga Pantai Laksamana Muda Luis Tuason mengatakan, jumlah korban tewas hampir pasti akan bertambah.

"Kapal feri itu begitu cepat tenggelam, sehingga kemungkinan besar masih banyak orang yang terjebak di dalamnya," kata Tuason.

Kapal feri merupakan salah satu moda transportasi penting di Filipina yang memiliki lebih dari 7.000 pulau, khususnya bagi warga miskin yang tak mampu membeli tiket pesawat terbang.

Namun, kecelakaan kapal laut di negeri ini sering terjadi. Penyebab utamanya adalah standar keselamatan yang buruk serta penegakan hukum yang lemah.


Editor : Ervan Hardoko
Sumber: AFP