Turis Membludak Bikin Pulau di Thailand Alami Krisis Air Bersih

Kompas.com - 06/12/2018, 20:42 WIB
Suasana di Pantai Maya yang ada di Pulau Phi Phi, Thailand.AFP PHOTO/LILLIAN SUWANRUMPHA Suasana di Pantai Maya yang ada di Pulau Phi Phi, Thailand.

BANGKOK, KOMPAS.com - Pulau Phi Phi yang indah di Thailand saat ini dilaporkan mengalami krisis air minum karena meningkatnya jumlah turis.

Kabar kurangnya air terjadi beberapa hari setelah pakar lingkungan merayakan kembalinya hiu karang di perairan dangkal Pantai Maya.

Diwartakan The Telegraph Rabu (5/12/2018), Pantai Maya awalnya ditutup selama empat bulan sejak Juni untuk memulihkan ekosistem.

Baca juga: Krisis Air Bersih di Ponorogo Akibat Kekeringan Meluas hingga 10 Kecamatan


Penutupan itu sebagai dampak 5.000 turis dan 200 kapal setiap harinya. Pada Oktober, larangan itu diperpanjang selama satu tahun.

Penutupan itu membuahkan hasil dengan terdeteksinya puluhan ekor hiu karang di perairan dangkal menunjukkan ekosistem di sana mulai pulih.

Namun, media lokal memberitakan pemerintah Pulau Phi Phi meminta bantuan otoritas pusat setelah mereka mengalami kekurangan air bersih buntut polusi dan turis membludak.

Tim peneliti dari Universitas Kasetsart dikutip The Nation menemukan cadangan air bersih di kawasan utama Phi Phi Don telah mencapai level membahayakan.

Ditemukan sumber air di sana tidak cukup bagi turis yang meningkat. Sementara air keran telah terkontaminasi limbah yang disebabkan industri pariwisata.

Ketua peneliti Sitang Pilailar mengemukakan, Phi Phi hanya punya dua fasilitas penampung air meski mempunyai iklim basah.

Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya jumlah pengunjung di saat curah hujan di pulau itu sedang rendah.

Pilailar berkata sepanjang masa terkering antara November hingga April, pulau itu begitu penuh akan turis yang membuat permintaan air bersih meningkat.

"Sementara saat itu tak ada cukup hujan untuk mengisi dua fasilitas penampung yang merupakan sumber satu-satunya air bersih," ujarnya.

Para peneliti memperingatkan konsumsi air tanah yang berlebihan berpotensi membuat air asin merembes masuk ke sistem tersebut.

Yang lebih mengkhawatirkan, peneliti menemukan air tanah sudah terkontaminasi patogen berbahaya dan logam berat dari pencemaran lepas pantai.

Kondisi itu membuat pejabat tinggi pulau Phankam Kittithonkul secara resmi meminta bantuan kepada pemerintah pusat. "Banyak isu yang sudah terlalu berat untuk kami tangani sendiri," katanya.

Tim peneliti kemudian memberikan solusi bahwa otoritas setempat bisa memangkas jumlah pengunjung untuk menghindari hal yang tak diinginkan.

Baca juga: 3 Fakta di Balik Krisis Air Bersih di Gunung Kelud, Pipa Air Rusak hingga 875 KK Terdampak



Terkini Lainnya


Close Ads X