Hari Disabilitas Internasional, Upaya agar Kesetaraan Jadi Milik Semua - Kompas.com

Hari Disabilitas Internasional, Upaya agar Kesetaraan Jadi Milik Semua

Kompas.com - 03/12/2018, 12:32 WIB
Ilustrasi difabelShutterstock Ilustrasi difabel

KOMPAS.com – Tanggal 3 Desember ditetapkan oleh Persatuan Bangsa Bangsa sebagai Hari Disabilitas Internasional atau International Day of Persons With Disabilities.

Adapun, tema perayaan yang diangkat tahun ini adalah "Memberdayakan dan memastikan inklusivitas juga kesetaraan bagi penyandang cacat”.

Dikutip dari laman PBB, tema ini sengaja diangkat untuk mewujudkan agenda besar pada 2030. Pada tahun itu, masyarakat dunia akan berjalan beriringan dalam berbagai rupa perbedaan dan tidak meninggalkan siapa pun atas dasar kelompok dan golongan, termasuk para penyandang cacat.

Hal ini sesuai dengan tiga pilar utama PBB, yakni pembangunan, HAM, dan perdamaian keamanan.

Namun, untuk mencapai itu semua diperlukan tindakan nyata dari kedua pihak, baik penyandang cacat maupun masyarakat pada umumnya.

Para penyandang disabilitas perlu menunjukkan kepada lingkungannya, mereka dapat berbuat sesuatu meski dalam kondisi yang terbatas. Ada hal-hal yang bisa dikerjakan dengan baik meskipun dengan cara mereka yang pasti berbeda.

Atlet difabel Indonesia, Jaenal Aripin memacu kursi roda balap saat test event Para Games Invitational Tournament di Stadion Madya Kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (30/6/2018).KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Atlet difabel Indonesia, Jaenal Aripin memacu kursi roda balap saat test event Para Games Invitational Tournament di Stadion Madya Kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (30/6/2018).
Masyarakat pun harus membuka mata bahwa dalam lingkungan sosial, mereka hidup berdampingan dengan saudara-saudaranya yang memiliki keterbatasan kemampuan secara fisik dan mental.

Untuk itu, pembangunan berbagai sarana dan prasarana ramah disabilitas penting untuk diwujudkan. Hal itu dikarenakan, dunia ini tidak hanya dihuni oleh mereka yang memiliki keadaan normal.

Jika kedua hal itu bisa terlaksana dengan baik, maka mimpi pada 2030 tentang dunia yang damai dalam kesetaraan tidak sulit untuk dicapai.

Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), jumlah penyandang disabilitas di seluruh dunia mencapai 15 persen dari total populasi dan 2 persen hingga 4 persen di antaranya mengalami kesulitan dalam menjalankan fungsi tubuhnya.

Sementara total penduduk dunia saat ini berdasarkan data Worldometer, kurang lebih ada di angka 7,7 miliar jiwa. Itu berarti lebih dari 1,1 miliar jiwa hidup dalam berbagai macam bentuk kelainan tubuh atau mental.

Inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua, terutama dalam pergaulan dan pembangunan yang berkeadilan.

Pemahaman bahwa cacat adalah keadaan yang bisa saja terjadi di dalam kehidupan manusia, baik bersifat sementara maupun permanen, harus diterapkan. Mereka yang menyandang cacat fisik maupun mental, selamanya akan menjadi  bagian dari kehidupan sosial di masyarakat yang juga memiliki hak sama.



Close Ads X