Biografi Tokoh Dunia: David Ben Gurion, Pendiri Negara Israel

Kompas.com - 29/11/2018, 22:26 WIB
David Ben Gurion memproklamasikan berdirinya negara Israel pada 14 Mei 1948.Wikipedia David Ben Gurion memproklamasikan berdirinya negara Israel pada 14 Mei 1948.

KOMPAS.com - David Ben Gurion merupakan seorang negarawan sekaligus pemimpin politik yang dikenal sebagai Bapak Pendiri Negara Israel.

Lahir di wilayah Kekaisaran Rusia, Ben Gurion yang begitu gemar akan Zionisme menjadikannya sebagai pemimpin organisasi Agensi Yahudi.

Selain sebagai Perdana Menteri pertama Israel, dia juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan anggota Knesset (Parlemen Israel).

Baca juga: Konflik Israel-Palestina (1): Zionisme dan Imigrasi Bangsa Yahudi

Berikut merupakan biografi dari sosok yang dinobatkan sebagai 100 Pribadi Berpengaruh di Abad 20 oleh majalah Time tersebut.

1. Masa Kecil
Lahir dengan nama David Gruen, Ben Gurion lahir pada 16 Oktober 1886 di Plonsk, Kerajaan Polandia yang masuk di kedaulatan Kekaisaran Rusia.

Ayahnya, Avigdor Gruen, adalah seorang pengacara sekaligus pemimpin dari pergerakan bernama Hovevei Zion. Gurion diketahui punya saudara kembar yang meninggal saat lahir.

Pada usia 14 tahun, dia dan dua teman mendirikan klub bernama Ezra yang mempromosikan pengajaran ala Yahudi dan emigrasi ke "Tanah Perjanjian".

Saat berusia 18 tahun, dia mulai mengajar di sekolah Yahudi Warsawa. Kemudian dia menggabungkan sosialisme dan Zionisme, dan bergabung bersama kelompok Poalei Zion.

Pada 1905 setelah menjadi mahasiswa di Universitas Warsawa, Ben Gurion pernah dua kali ditangkap karena ikut dalam Revolusi Rusia 1905.

Keinginan Ben Gurion untuk memastikan tanah Yahudi membawanya ke Timur Tengah, tepatnya di Palestina, di mana dia melihat "tanah Israel".

Pada 1906, dia membentuk komunitas untuk para petani dan kelompok pertahanan Yahudi bernama Hashomer atau Penjaga.

Ketika Perang Dunia I pecah, dia dideportasi oleh Kerajaan Turki Ottoman dan meninggalkan Timur Tengah menuju New York, di mana dia bertemu istrinya, Paula Monbesz.

Baca juga: Konflik Israel-Palestina (2): Runtuhnya Ottoman dan Mandat Palestina

2. Mandat Palestina dan Negara Yahudi
Pada 2 November 1917, Menteri Luar Negeri Inggris Arthur James Balfour membuat sebuah pernyataan yang dikenal sebagai Deklarasi Balfour.

Balfour membuat pernyataan itu berkat lobi-lobi yang dilakukan oleh pemimpin komunitas Yahudi di Inggris, Baron Rothschild.

Isi deklarasi itu adalah Inggris akan mengupayakan Palestina sebagai rumah bagi bangsa Yahudi, tetapi dengan jaminan tidak akan mengganggu hak keagamaan dan sipil warga non-Yahudi di Palestina.

Deklarasi itu kemudian di Perjanjian Damai Sevres pada 10 Agustus 1920 antara Ottoman dengan Sekutu di akhir Perang Dunia I.

Inti dari perjanjian itu adalah pembagian wilayah milik Ottoman Turki yang membuat kerajaan itu bubar, dan memunculkan Mandat Palestina.

Setelah deklarasi itu dirilis, Ben Gurion kembali ke Timur Tengah dan berperang melawan Ottoman demi pembebasan Palestina.

Baca juga: Konflik Israel-Palestina (3): Sejumlah Konflik Awal di Palestina

Setelah Ottoman tersingkir, Ben Gurion menyerukan kepada komunitas Yahudi untuk bermigrasi dalam jumlah besar ke Palestina.

Kedatangan mereka membuat fondasi bagi Negara Yahudi. Pada 1935, dia terpilih sebagai Ketua Zionist Executive, pimpinan tertinggi Zionisme dunia.

Setelah satu dekade gelombang perpindahan itu, warga Arab Palestina mulai gerah dan merasa disingkirkan. Perasaan itu menumbuhkan nasionalisme Palestina.

Puncaknya adalah Revolusi Arab pada 1936-1939 yang dipimpin oleh Imam Besar Yerusalem Mohammad Amin al-Husayni.

Akibat revolusi ini, 5.000 warga Arab, lebih dari 300 warga Yahudi, dan 262 tentara Inggris tewas. Selain itu, sedikitnya 15.000 warga Arab terluka.

Inggris kemudian menggelar sejumlah investigasi untuk menentukan penyebab pertumpahan darah yang terjadi selama tiga tahun tersebut.

Terdapat berbagai solusi dengan yang terbaru diusulkan Inggris pada Mei 1939, atau beberapa bulan sebelum Perang Dunia II bergulir.

Solusinya adalah Inggris bakal menentukan kuota jumlah imigran Yahudi yang bisa memasuki Palestina, di mana pengelolaannya bakal dilaksanakan pemimpin Arab di masa depan.

Selain kuota, Inggris juga melarang imigran Yahudi membeli tanah dari warga Arab demi mencegah gesekan sosial antara kedua kubu.

Solusi itu membuat Ben Gurion meradang. Dia kemudian menyerukan kepada seluruh warga Yahudi lainnya untuk bangkit dan menentang Inggris.

Dia dan para pemimpin Zionis lainnya berkumpul di New York pada 1942, tepatnya di Hotel Biltmore, dan menetapkan Palestina sebagai wilayah Persemakmuran Yahudi.

Setelah Perang Dunia II berakhir, Ben Gurion terus berkampanye menentang Mandat Palestina dan pada 1948 di Sidang Umum PBB, Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet menyepakati berdirinya Negara Israel.

Baca juga: Konflik Israel-Palestina (6): Saat Inggris Menjadi Musuh Bangsa Yahudi

Page:


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Terkini Lainnya


Close Ads X