Pendidikan Bahasa Inggris, Cara Vietnam Kalahkan Indonesia dan ASEAN Halaman 1 - Kompas.com

Pendidikan Bahasa Inggris, Cara Vietnam Kalahkan Indonesia dan ASEAN

Kompas.com - 30/05/2017, 20:32 WIB
Dok Karim Raslan Dang Thi Doang Trang adalah guru bahasa Inggris sekolah dasar dari Hanoi yang berusia 43 tahun.

VIETNAM adalah negara ASEAN yang sangat mengesankan sekaligus merepotkan bagi saya. Bagi saya, Kota Hanoi dan Ho Chi Minh adalah kota yang menyenangkan, sekaligus juga melelahkan.

Setelah tiga puluh tahun mengalami masa perang dan menderita kerugian besar, masyarakat Vietnam seolah bertekad untuk mewujudkan hidup yang lebih baik.

Mereka berupaya keras untuk menjadi sukses. Hal ini membuat saya khawatir ketika membandingkan keadaan tersebut dengan negara-negara lain di Asia Tenggara.

Lima negara "Pendiri ASEAN" telah mengalami ledakan pertumbuhan ekonomi yang cepat. Sekarang, kita sedang menghadapi konsekuensinya, terutama di Malaysia dan Singapura, dan tiba-tiba kita pun tersadar bahwa hidup akan jauh lebih sulit bagi para generasi muda.

Negara-negara kompetitor bisa saja menunjukkan bahwa Vietnam merupakan kompetitor yang kejam, infrastrukturnya lemah, terutama sistem pendidikannya yang masih "jauh tertinggal" di belakang negara-negara ASEAN lainnya.

Namun, survei terbaru dari the OECD’s 2016 Programme for International Student Assessment ( PISA) atau Program Penilaian Siswa Internasional menunjukkan bahwa para remaja Vietnam telah melebihi para remaja sebayanya di kawasan ASEAN.

Bahkan remaja Vietnam kini secara konsisten telah mengungguli orang-orang Amerika Serikat dan Inggris dalam matematika dan sains.

Survei itu digelar oleh PISA yang hasilnya diumumkan oleh Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Survei PISA menguji kemampuan siswa usia 15 tahun di bidang sains, matematika, dan membaca. Jumlah keseluruhan siswa yang mengikuti survei ini mencapai lebih dari 500.000 orang.

Baca juga: Singapura Teratas, Indonesia di Papan Bawah

Berdasarkan survei ini pun terlihat, siswa-siswa Singapura memperoleh nilai tertinggi, disusul oleh siswa di Jepang, Estonia, Taiwan, Finlandia, Makau, Kanada, Vietnam, Hongkong, China, dan Korea Selatan.

Negara-negara Eropa barat, seperti Inggris, Jerman, Belanda, dan Swiss, masing-masing berada di urutan ke-15, 16, 17, dan 18. Indonesia berada di papan bawah, di atas Brasil, Peru, Lebanon, Tunisia, Kosovo, Aljazair, dan Republik Dominika.

OECD via unz.com Hasil Test PISA
Memang, kemanapun saya pergi di Vietnam, saya melihat bagaimana orang-orang biasa di sana membandingkan diri mereka, dan juga negara mereka, dengan orang-orang Asia Utara seperti Taiwan, Korea Selatan, China, dan Jepang.

Jadi, sementara kita melihat Vietnam sebagai bagian integral dari Asia Tenggara, saya tidak yakin apakah mereka memiliki sudut pandang yang sama dengan negara-negara Asia Tenggara umumnya.

Terkait hal ini, saya berhenti sejenak di Kuil Konfusius di pusat Hanoi untuk melihat anak-anak sekolah setempat yang sedang dibimbing oleh para guru mereka untuk mencari inspirasi.

Posisi Vietnam yang menurut hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) cukup mencengangkan para ahli, hanyalah sepenggal kisah kesuksesan terkait anak-anak Vietnam. Di balik itu, banyak kisah lainnya yang begitu kompleks di Vietnam. 

Seperti sebagian besar wilayah Asia Tenggara lainnya, sistem pendidikan lokal masih penuh dengan kekurangan, terutama karena adanya obsesi pembelajaran dengan hafalan dan tes standar. Padahal, di era perkembangan teknologi yang sedang bergerak cepat, para murid perlu diajarkan untuk berpikir kreatif.

Ketegangan yang sudah berakar ini sangatlah jelas terlihat, terlebih lagi ketika seseorang mengingat bahwa Vietnam merupakan negara Komunis.

Karena ingin mendapatkan perspektif yang sesungguhnya mengenai masalah pendidikan yang dihadapi Vietnam, saya mengobrol dengan Dang Thi Doan Trang, seorang guru bahasa Inggris Sekolah Dasar di pinggiran kota Hanoi. 

Seiring dengan pemerintah daerah yang sedang berjuang untuk mengantisipasi tantangan di masa depan maka kebijakan di bidang pendidikan menjadi ujian yang utama. Pertanyaan utamanya berkisar pada bagaimana pemerintah menangani pengajaran bahasa asing. 

Bagaimana dengan kelas agama, etika, dan moral? Sejauh mana teknologi akan berperan di Vietnam? Jelas bahwa Malaysia, Indonesia, dan Myanmar sedang menghadapi tantangan berat dalam melawan pengaruh fundamentalis agama yang terus tumbuh.

Kebanyakan para orangtua di Asia Tenggara menganggap bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi global. Mereka yakin adanya pengajaran yang baik dapat menjadikan para murid lebih memiliki banyak kesempatan kerja.

Menariknya, dan ini tidak seperti kebanyakan negara ASEAN lainnya, bahasa Mandarin tidak diangggap sebagai bahasa penting di Vietnam.

Trang dengan nada meremehkan justru balik bertanya, "China? Mengapa kita harus belajar bahasa China?" Mungkin dia ingin menunjukkan hubungan negaranya yang lemah dengan negara raksasa di utara.

Sebaliknya, kecintaan Trang terhadap bahasa Inggris tidak tertahankan. "Sejak awal, saya menyukai kata-kata bahasa Inggris. Ketika saya masih seorang mahasiswi, saya juga belajar bahasa Rusia. Namun kemudian pada 1993 saya beralih ke bahasa Inggris. Saya tahu bahasa Inggris lebih penting sehingga saya beralih. Mengajar bahasa Inggris adalah hasrat saya, saya tidak melakukan ini demi uang, " katanya.


Page:
EditorAmir Sodikin
Komentar

Terkini Lainnya

Sibuk Bekerja, Seorang Pria Telantarkan Jenazah Ayahnya selama 2 Bulan

Sibuk Bekerja, Seorang Pria Telantarkan Jenazah Ayahnya selama 2 Bulan

Internasional
Peti Matinya Dihancurkan, Lansia di China Dapat Kompensasi Rp 2 Juta

Peti Matinya Dihancurkan, Lansia di China Dapat Kompensasi Rp 2 Juta

Internasional
Mulai Tahun Ini, Calon Jemaah Haji yang Meninggal Dunia Bisa Digantikan Keluarganya

Mulai Tahun Ini, Calon Jemaah Haji yang Meninggal Dunia Bisa Digantikan Keluarganya

Nasional
Kepada Sudirman, Ganjar Minta Diajari Buka 5 Juta Lapangan Kerja dalam 5 Tahun

Kepada Sudirman, Ganjar Minta Diajari Buka 5 Juta Lapangan Kerja dalam 5 Tahun

Regional
Partai Hijau di Australia Desak Legalisasi Ganja

Partai Hijau di Australia Desak Legalisasi Ganja

Internasional
Kekuatan Jokowi Untuk Pilpres 2019 Dianggap Lebih Besar Daripada 2014

Kekuatan Jokowi Untuk Pilpres 2019 Dianggap Lebih Besar Daripada 2014

Nasional
Kasus Korupsi Berlian Rp 208 Triliun, Parlemen Zimbabwe Panggil Mugabe

Kasus Korupsi Berlian Rp 208 Triliun, Parlemen Zimbabwe Panggil Mugabe

Internasional
Tertimpa Boneka Beruang saat Tidur, Bayi 18 Bulan Meninggal

Tertimpa Boneka Beruang saat Tidur, Bayi 18 Bulan Meninggal

Internasional
Politisi PDI-P Sebut Jokowi dan Prabowo Bisa Bersatu, Asalkan...

Politisi PDI-P Sebut Jokowi dan Prabowo Bisa Bersatu, Asalkan...

Nasional
Ida Fauziyah Sebut Perempuan Paling Banyak Terdampak Kemiskinan di Jateng

Ida Fauziyah Sebut Perempuan Paling Banyak Terdampak Kemiskinan di Jateng

Regional
Para Perempuan Pengelola Sampah untuk Selamatkan Bumi

Para Perempuan Pengelola Sampah untuk Selamatkan Bumi

Regional
Sandiaga Bantah Bahas Bersatunya Jokowi-Prabowo Saat Bertemu Ketum PPP

Sandiaga Bantah Bahas Bersatunya Jokowi-Prabowo Saat Bertemu Ketum PPP

Nasional
Berteduh di Pos Ronda, Warga Sukabumi Diduga Tewas Tersambar Petir

Berteduh di Pos Ronda, Warga Sukabumi Diduga Tewas Tersambar Petir

Regional
Kota di AS Larang Polisinya Berlatih dengan Militer Israel

Kota di AS Larang Polisinya Berlatih dengan Militer Israel

Internasional
Dilarang ke Pesta Ultah Teman, Gadis 14 Tahun Lompat dari Lantai 15

Dilarang ke Pesta Ultah Teman, Gadis 14 Tahun Lompat dari Lantai 15

Internasional

Close Ads X