Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Pengorbanan Dokter yang Donasikan Ginjal demi Nyawa Dokter Lain

Kompas.com - 27/02/2017, 09:10 WIB

NEWPORT BEACH, KOMPAS.com — Kisah semacam ini mungkin sangat jarang terjadi. Seorang dokter dibawa ke meja operasi untuk mendonasikan ginjalnya demi menyelamatkan nyawa koleganya. 

Namun, hal itulah yang dilakukan dokter Colleen Coleman. Perempuan itu memberikan satu ginjalnya demi dokter Brian Dunn yang sedang terbaring sekarat.

Seperti diberitakan Associated Press, Brian Dunn adalah seorang ahli anestesi yang bekerja dengan Coleman di RS Hoag, Newport Beach, California, Amerika Serikat. 

Brian Dunn mengalami ginjal gagal akibat kemoterapi yang dijalaninya pada masa remaja untuk mengobati tumor di perut.

Coleman muncul sebagai donor setelah seorang donor batal memberikan ginjalnya.

Sebab, dokter yang menangani Dunn menyarankan agar dia tak menerima ginjal dari donor yang terjangkit penyakit Lou Gehrig.

Penyakit Lou Gehrig adalah sebutan untuk Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS).

Ini merupakan penyakit neurodegeneratif progresif yang berdampak pada sel-sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang.

"Saya sempat berpikir, semua ini tak akan pernah terjadi," ungkap Dunn seperti dilansir The Orange County Register.

Operasi ini bukan kali pertama bagi Dunn. Lelaki 45 tahun itu sudah pernah menerima ginjal dari ibunya, ketika dia masih berusia 25 tahun.

Namun, ternyata donasi ginjal itu tak bisa bertahan selamanya. Pada akhir tahun 2015, kesehatan Dunn menurun.

Dia bahkan tak bisa mengimbangi aktivitas putrinya yang berumur enam tahun.

Sejak April 2016, Dunn mulai harus menjalani proses cuci darah. Dia menyebut proses itu sebagai jalan panjang yang melelahkan, bak hidup di penjara.

Budi baik Colleman untuk menolong Dunn pun sempat tak berjalan lancar. Sebuah pemeriksaan awal menyatakan ginjal Coleman tak cocok dengan Dunn. 

Hingga pada bulan Juni tahun lalu, perusahaan yang melakukan pengujian kembali menghubungi dan mengaku membuat kesalahan.

Ternyata, ginjal Coleman cocok dengan Dunn.

Coleman pun sempat terguncang. Nyalinya sempat ciut, dan mulai berpikir dua kali untuk memberikan ginjalnya. Perempuan itu dilanda ketakutan.

Hingga akhirnya, Coleman ingat dengan putri Dunn yang baru berumur enam tahun tadi.

Coleman juga ingat, dulu ibunya kehilangan orangtua perempuannya saat masih berumur enam tahun. Nenek Coleman itu pun meninggal dunia akibat gagal ginjal.

"Saya tak ingin anak itu tumbuh besar tanpa ayahnya," kata Coleman. 

Operasi yang berlangsung bulan lalu pun berjalan lancar. Coleman pun datang menemui Dunn setelah itu.

"Saya ingin memastikan ginjal saya bisa membuatnya kencing," kata perempuan itu. 

Dunn mengaku merasa bersemangat, serta bisa merasakan perubahan dan pemulihan tiga minggu pasca-operasi.

Dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Coleman, Dunn mengucapkan terima kasih atas pengorbanan koleganya itu.

"Senin, 30 Januari, akan menjadi hari yang saya ingat selamanya," tulis Dunn.

"Itu adalah hari ketika seseorang melakukan sesuatu yang sangat tanpa pamrih buat saya. Colleen, kamu adalah jawaban atas doa-doaku, dan contoh menakjubkan bagi orang-orang di sekitarmu."

Ketika perempuan berusia 51 tahun itu kembali bekerja, dia menemukan karangan bunga, sebuah cake, dan orang-orang yang menyambutnya sebagai pahlawan.

"Saya tidak tahu betapa berdampaknya upaya ini bagi seseorang," kata Coleman.

"Namun, pasti ada hikmah dari memberi. Hanya saja, menurut saya, sebutan pahlawan adalah kata yang amat memalukan," sambung dia sambil tersenyum.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terpopuler

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com