Warga Kota di Macedonia Raup Ribuan Euro dari Berita "Hoax"

Kompas.com - 12/01/2017, 18:11 WIB
EditorErvan Hardoko

SKOPJE, KOMPAS.com — Pada masa pemilihan presiden Amerika Serikat, banyak bermunculan situs hoax atau berita bohong. Sebagian situs hoax itu berasal dari Veles, sebuah kota kecil di Macedonia.

Dari Veles inilah para remaja menulis berita-berita sensasional, yang tak jelas kebenarannya, kemudian disebar melalui Facebook dan media sosial lainnya.

Lewat menyebar berita bohong itulah, para remaja Veles menghasilkan uang puluhan ribu euro per bulan dari iklan. Warga Veles menyebutnya sebagai "panen emas digital".

"Warga di Amerika sangat senang dengan berita-berita (bohong) yang kami buat dan kami mendapat keuntungan finansial dari berita-berita ini," kata Goran, bukan nama sebenarnya, seorang mahasiswa di Veles kepada BBC.


Goran mengaku berusia 19 tahun. Namun, dari penampilannya, dia terlihat jauh lebih muda. Di pergelangan tangannya, terlihat jam tangan yang cukup mewah.

"Mereka tak peduli (kalau) berita yang mereka baca akurat atau bohong," kata Goran.

Goran mewakili satu dari puluhan bahkan ratusan remaja Macedonia yang menangguk keuntungan besar dari hoax yang sebagian besar pro-Donald Trump pada pilpres AS.

Dari pembicaraan di kafe ini, Goran "membuka rahasia" bagaimana ia dan rekan-rekannya membuat dan menyebar berita bohong.

Biasanya, Goran dan rekannya menerbitkan berita-berita sensasional atau bombastis yang bahannya diambil dari situs-situs sayap kanan di Amerika yang sangat mendukung Trump.

Satu berita biasanya berisi gabungan paragraf dari beberapa artikel dan diberi judul yang sensasional.

Goran kemudian membayar Facebook untuk membagikan berita ini ke para pengguna media sosial di Amerika yang haus dengan berita-berita Trump dan pesaingnya dari Demokrat, Hillary Clinton.

Ia mendapatkan uang dari klik dan share berita yang ia terbitkan.

Tak peduli

Goran mengaku belum lama membuat hoax dan hanya menerima 1.800 euro per bulan, tetapi rekan-rekannya bisa meraup ribuan euro per hari.

Saat ditanya apakah ia tak khawatir berita palsu yang ia buat mengecoh atau membohongi pemilih di Amerika, Goran sepertinya tak terlalu peduli.

"Para remaja di kota kami tak peduli dengan pilihan warga Amerika. Yang kami pikirkan di sini adalah bagaimana mendapatkan uang dan membeli pakaian-pakaian mahal," kata Goran.

Dampak panen emas digital jelas terlihat di Veles. Data menunjukkan gaji rata-rata warga di sini sekitar 350 euro atau sekitar Rp 5 juta per bulan.

Namun, sejak aktivitas "produksi hoax" meningkat, sejumlah warga mampu membeli mobil baru, sementara kafe dan restoran makin ramai pengunjung.

Dulu, ketika masih menjadi bagian Yugoslavia, Veles biasanya disebut Tito Veles, nama yang mengacu ke presiden saat ini, Josip Tito.

Kini, warga kota, dengan setengah bercanda, mengatakan, kota itu kini lebih cocok diberi nama Trump Veles.

Siswa SMA

Selain mahasiswa, yang juga membuat berita hoax adalah murid-murid sekolah menengah atas.

Salah seorang di antaranya mengatakan kepada BBC bahwa ia bekerja beberapa jam setiap malam untuk membuat hoax.

Wartawan investigatif Ubavka Janevska mengatakan, terdapat setidaknya tujuh kelompok di Veles yang menyebar berita bohong di internet dan memperkirakan ratusan murid sekolah bekerja secara individu sebagai pembuat berita bohong.

Di Veles, membuat situs berita hoax bukan tindakan pidana. Namun, bagaimana dengan tanggung jawab moral?

Bukankah membuat berita palsu sama dengan membohongi pembaca? Bukankah uang yang diterima dari hoax adalah "uang haram"?

"Tak ada uang haram di sini," kata Slavco Chediev, Wali Kota Veles.

Bahkan, ia mengisyaratkan bangga karena kotanya bisa memengaruhi hasil pilpres di Amerika.

Namun, Janevska mengatakan prihatin dengan kondisi saat ini.

"Sejak pilpres AS, yang menjadi perhatian anak-anak muda di sini adalah bagaimana mendapatkan uang dari berita bohong," katanya.

Goran sepertinya tak begitu peduli. Ia mengatakan, orangtua mana yang tidak senang jika anaknya bisa mendapatkan 30.000 euro atau sekitar Rp 420 juta per bulan.

Para analis meyakini aktivitas anak-anak muda seperti Goran untuk memproduksi hoax akan makin meningkat dan mereka akan menjadikan momen politik di negara-negara lain sebagai tambang uang.

HOAKS ATAU FAKTA?

Jika Anda mengetahui ada berita viral yang hoaks atau fakta, silakan klik tombol laporkan hoaks di bawah ini

closeLaporkan Hoaks checkCek Fakta Lain
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dibilang 'Muka Dua', PM Kanada Akui Bergosip soal Trump di Pertemuan NATO

Dibilang "Muka Dua", PM Kanada Akui Bergosip soal Trump di Pertemuan NATO

Internasional
Kembali Disebut Trump 'Pria Roket', Kim Jong Un Tidak Senang

Kembali Disebut Trump "Pria Roket", Kim Jong Un Tidak Senang

Internasional
Trump Sebut Perdana Menteri Kanada 'Si Muka Dua' di Pertemuan NATO

Trump Sebut Perdana Menteri Kanada "Si Muka Dua" di Pertemuan NATO

Internasional
13 Orang di Filipina Tewas akibat Amukan Topan Kammuri

13 Orang di Filipina Tewas akibat Amukan Topan Kammuri

Internasional
Penembakan di Pangkalan Pearl Harbor, 3 Orang Tewas Termasuk Pelaku

Penembakan di Pangkalan Pearl Harbor, 3 Orang Tewas Termasuk Pelaku

Internasional
Jokowi Raih Asian of the Year 2019, Dianggap Pemimpin Jujur dan Efektif

Jokowi Raih Asian of the Year 2019, Dianggap Pemimpin Jujur dan Efektif

Internasional
Presiden Jokowi Dinobatkan sebagai Asian of the Year 2019 oleh Media Singapura The Straits Times

Presiden Jokowi Dinobatkan sebagai Asian of the Year 2019 oleh Media Singapura The Straits Times

Internasional
Trump Batalkan Konferensi Pers Terakhir di Pertemuan NATO, Ada Apa?

Trump Batalkan Konferensi Pers Terakhir di Pertemuan NATO, Ada Apa?

Internasional
AS Pertimbangkan Kirim 14.000 Tentara Tambahan ke Timur Tengah

AS Pertimbangkan Kirim 14.000 Tentara Tambahan ke Timur Tengah

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] China Beri Peringatan kepada AS | Pemimpin Dunia Ketahuan Bergosip soal Trump

[POPULER INTERNASIONAL] China Beri Peringatan kepada AS | Pemimpin Dunia Ketahuan Bergosip soal Trump

Internasional
Ibu Ini Ditangkap Setelah Jual Bayinya Seharga Rp 31 Juta

Ibu Ini Ditangkap Setelah Jual Bayinya Seharga Rp 31 Juta

Internasional
Korut Rilis Gambar Kim Jong Un Tunggangi Kuda Putih di Gunung Keramat Paektu

Korut Rilis Gambar Kim Jong Un Tunggangi Kuda Putih di Gunung Keramat Paektu

Internasional
Sempat Calon Unggulan, Senator Kamala Harris Mundur dari Pertarungan Pilpres AS 2020

Sempat Calon Unggulan, Senator Kamala Harris Mundur dari Pertarungan Pilpres AS 2020

Internasional
6 Orang Tewas Diserang di Afghanistan, Salah Satunya Dokter asal Jepang

6 Orang Tewas Diserang di Afghanistan, Salah Satunya Dokter asal Jepang

Internasional
UU soal Muslim Uighur Disahkan, China: AS Bakal Membayar Akibatnya

UU soal Muslim Uighur Disahkan, China: AS Bakal Membayar Akibatnya

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X