Kompas.com - 05/12/2014, 03:24 WIB
EditorFidel Ali Permana

GROZNY, KOMPAS.com - Sekelompok orang bersenjata menyerang pos polisi dan menyerbu sebuah bangunan di Grozny, ibukota bagian selatan Chechnya Rusia. Setidaknya 10 orang penyerang dan 10 orang polisi tewas dalam serangan.

Serangan paling berdarah selama beberapa bulan terakhir itu meletus saat Presiden Vladimir Putin akan menyampaikan pidatonya di Moskow. Putin menyebut akan membela mati-matian upaya pemecah-belahan Rusia.

Serangan itu menggarisbawahi rapuhnya keamanan di Chechnya selama lebih dari satu dekade sejak Putin mengirim pasukannya untuk melawan kelompok separatis Islam yang berkembang di sana.

Menurut keterangan Komite Anti-terorisme Nasional Rusia (NAK), ada 10 orang militan dan 10 orang anggota polisi Chechnya yang tewas dalam serangan itu. Belum termasuk 28 orang polisi yang cedera.

Meski begitu, Putin memuji usaha yang dilakukan oleh pemimpin yang dibekingi Kremlin, Ramzan Kadyrov, yang menurutnya telah melakukan operasi dengan profesional.

Dalam pidatonya, Putin menyatakan Rusia dikelilingi oleh musuh-musuh yang ingin memecah belah dan menghancurkan perekonomiannya. "Hal itu tidak akan kami biarkan."

NAK menyebut serangan "teroris" itu dilakukan di pos polisi di Grozny pada pukul 1 dini hari waktu setempat, setelah itu langsung menyerbu ke dalam gedung media lokal dan sekolah.

Menurut foto-foto yang didapat Reuters, terlihat tembak-tembakan terjadi pada malam hari dan pada pagi harinya berlanjut dengan persenjataan peluncur rudal.

Adapun menurut pekerja yang berada di bangunan itu mengatakan menderita karena rentetan tembakan menghampiri bangunan mereka.

Dalam tayangan video yang diunggah di Youtube, dikatakan penyerang memasuki Grozny karena melakukan aksi balasan terhadap kekerasan terhadap perempuan Muslim.

Lebih jauh, NAK mengatakan serangan itu akhirnya berhasil dihentikan setelah 10 orang militan penyerang itu tewas pada Kamis malam.

Seorang saksi mata dari Reuters di Grozny mengatakan pasukan keamanan telah dikerahkan disepanjang jalan. Mereka juga telah menutup akses ke lokasi serangan.

"Kami tidak menyangka akan terjadi hal ini, iblis telah menunjukan kekuatan terakhir mereka," kata Kadyroz selaku pemimpin Chechnya kepada wartawan di Rusia setelah menghadiri pidato Putin.

Kadyroz terus menancapkan pengaruhnya di Chechnya setelah kelompok separatis melakukan pemberontakan tahun 1994-19996 dan 1999-2000. Meski begitu, kelompok militan justru menyebarkan kelompoknya di sepanjang wilayah Muslin di Kaukasia Utara.

Pada Oktober lalu, lima orang polisi tewas dan 12 lainnya terluka saat Grozny dihantam oleh bom bunuh diri.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber Reuters
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.