Badai Besar Hantam Pinggiran Manila, 3 Orang Tewas dan 6 Hilang - Kompas.com

Badai Besar Hantam Pinggiran Manila, 3 Orang Tewas dan 6 Hilang

Kompas.com - 12/09/2017, 16:15 WIB
Filipina. Filipina

MANILA, KOMPAS.com - Sedikitnya tiga orang tewas dan enam lainnya hilang saat badai besar diikuti banjir menghantam wilayah di sekitar Ibu Kota Filipina, Selasa (12/9/2017).

Kondisi ini memaksa otoritas terkait meliburkan sekolah, kantor pemerintah, dan bisnis.

Disebutkan, sebagian besar korban tewas dan hilang adalah mereka yang bermukim di "zona bahaya".

Wilayah itu tetap merenggut korban, meski pemerintah telah mengeluarkan peringatan mengenai risiko yang akan dialami warga saat saat badai datang.

"Otoritas lokal kami terus memperingatkan mereka bahwa tempat mereka benar-benar rentan terhadap tanah longsor, namun mereka bersikeras untuk tinggal."

Hal itu dikatakan Perwira Pertahanan Sipil Ronnie Mateo, seperti dikutip AFP.

Komentar itu diungkap Mateo, setelah hujan menyebabkan tanah longsor yang mengubur dua remaja kakak beradik di sebelah timur Manila.

Semantara itu, seorang gadis berusia 12 tahun dikabarkan tenggelam di sebuah sungai yang dilanda banjir di daerah pinggiran Kota Manila.

Badai tersebut, yang secara lokal diberi nama "maring", menghantam kota Mauban di timur Filipina, sebelum bergerak ke barat laut, melintasi Pulau Luzon, dan melewati pinggiran Manila.

Di Kota Calamba, di selatan Manila, banjir bandang menyapu sebuah pondok di tepi sungai. Peristiwa ini menyebabkan enam orang, termasuk seorang anak berusia dua tahun hilang.

"Mereka adalah pemukim informal, tinggal di bantaran sungai, saat banjir bandang datang rumah dua lantai itu pun tersapu."

Demikian dikatakan Noriel Habana, Kepala Kantor Manajemen Bencana Kota.

"Pada banjir sebelumnya, kami melakukan evakuasi antisipasi. Kebetulan terjadi banjir bandang, dan mereka tidak punya waktu untuk bereaksi," kata dia.

Prakirawan Renito Paciente mengatakan "maring" menghembuskan angin yang awalnya berkecepatan 100 kilometer per jam, kini bergerak hanya 15 kilometer per jam, hingga memperburuk banjir.

"Karena bergerak perlahan, bisa membawa lebih banyak hujan di suatu daerah," kata dia kepada AFP.

Mark Timbal, Jurubicara Dewan Pengurangan dan Pengurangan Resiko Bencana Nasional, mengatakan pemerintah daerah telah memerintahkan evakuasi penduduk dari daerah dataran rendah, pesisir, dan wilayah rawan longsor.

Pulau-pulau di Filipina kerap menjadi daratan utama pertama yang terkena badai di atas Samudra Pasifik, sehingga sering menimbulkan kematian dan penderitaan.

Dalam salah satu insiden terburuk baru-baru ini, 7.350 orang meninggal atau hilang setelah topan Haiyan melanda Filipina tengah pada bulan November 2013.

Baca: Badai Mereda, Bursa AS Ditutup Menguat Signifikan

EditorGlori K. Wadrianto
Komentar

Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM