Sabtu, 25 Februari 2017

Internasional

Paus Diam-diam Bertemu Panitera AS yang Tolak Terbitkan Surat Nikah bagi Pasangan Sejenis

Kamis, 1 Oktober 2015 | 12:00 WIB
Reuters Kim Davis menyatakan, imannya sebagai Kristen tak mengizinkannya menikahkan pasangan gay
WASHINGTON, KOMPAS.com — Paus Fransiskus secara diam-diam bertemu perempuan Amerika yang dijebloskan ke penjara karena menolak untuk menerbitkan surat nikah bagi sepasang kekasih sesama jenis. Hal tersebut terungkap pada Rabu (30/9/2015) waktu setempat, seperti dilaporkan harian Telegraph.

Pertemuan itu, yang digelar di Washington DC saat kunjungan Paus asal Amerika Latin itu ke Amerika Serikat, telah ditafsirkan sebagai dukungan bagi Kim Davis.

Sebagai seorang panitera di sebuah county (wilayah) di Kentucky, Davis berpendapat bahwa iman Kristennya menghalangi dia untuk menerbitkan surat nikah bagi pasangan gay.

Davis dipenjara selama lima hari pada awal bulan ini karena menentang perintah Mahkamah Agung AS, yang telah melegalkan pernikahan sesama jenis di Amerika Serikat sejak Juni.

Paus menyinggung kasus Davis itu dalam wawancara dengan para wartawan di pesawat kepausan saat dia kembali ke Roma pada Senin setelah perjalanan selama 10 hari ke Kuba dan Amerika Serikat. Paus mengatakan kepada korps pers Vatikan yang bepergian bersamanya bahwa penolakan berdasarkan suara hati merupakan hak asasi manusia. "Jika ada seseorang yang tidak mengizinkan orang lain untuk menjadi penentang berdasarkan suara hatinya, orang itu menyangkal hak asasi manusia," kata Paus.

"Penolakan berdasarkan suara hati tetap harus masuk dalam struktur hukum karena itu adalah hak asasi," kata Paus ketika itu, seperti dikutip kantor berita Reuters. Ia menganggap, penolakan berdasarkan nurani sebagai hal yang manusiawi. "Saya tidak bisa menyebut semua kasus yang pernah terjadi terkait penolakan berdasarkan suara hati, tetapi saya berpendapat penolakan berbasis nurani merupakan bagian dari hak asasi tiap manusia," kata Paus asal Argentina itu.

Davis, yang menganut gerakan Protestan yang dikenal sebagai Apostolik Pentakostalisme, melakukan pertemuan pribadi selama 15 menit dengan Sri Paus pada hari Kamis di kedutaan Vatikan di Washington.

BBC Paus Fransiskus menjadi pemimpin umat Katolik pertama yang berpidato di rapat gabungan Kongres AS.


"Benar-benar sangat mengharukan, bahkan sekadar berpikir bahwa dia ingin bertemu saya atau mengenal saya," kata Davis kepada ABC, saluran televisi AS. "Saya merentangkan tangan saya, dan dia meraihnya, dan saya memeluknya, dan dia memeluk saya, dan dia berkata, 'Terima kasih atas keberanian Anda.' Dia bilang kepada saya sebelum dia pergi, 'Tetaplah kuat.' Itu merupakan dorongan besar," kata Davis.

"Begitu tahu bahwa Paus berada di jalur yang sama dengan apa yang kita lakukan dan setujui, hal itu memvalidasi segalanya," lanjut Davis.

Paus memberinya sebuah rosario. Davis mengatakan, ia akan memberikan rosario itu kepada orangtuanya, yang memang menganut Katolik.

Vatikan awalnya menolak untuk mengonfirmasi atau menyangkal pertemuan tersebut. Namun, setelah berada dalam tekanan pertanyaan media, pihak Vatikan akhirnya mengalah.

"Saya tidak menyangkal bahwa pertemuan itu terjadi, tetapi saya tidak punya komentar," kata Pater Federico Lombardi, juru bicara Vatikan.

Kaum konservatif di AS, termasuk beberapa calon presiden Partai Republik, telah memuji Davis. Mereka mengatakan bahwa ia mempertahankan kebebasan beragama.

Namun, American Civil Liberties Union berpendapat, sebagai seorang pejabat publik, Davis memiliki kewajiban untuk mengeluarkan surat nikah, terlepas dari keyakinan pribadinya.

Paus Fransiskus telah menunjukkan sikap lebih ramah, yang lebih berbelas kasih terhadap kaum homoseksual dalam Gereja Katolik. Setelah kembali dari perjalanan ke Brasil pada tahun 2013, Paus mengatakan, kalimat yang kemudian terkenal adalah, "Jika seseorang yang kebetulan gay dan punya niat baik untuk mencari Tuhan, siapalah saya ini sehingga bisa menghakimi dia?"

Namun, Vatikan hingga kini tetap tegas menentang gagasan pernikahan sesama jenis.
Editor : Egidius Patnistik
Sumber: The Telegraph,