Sabtu, 20 September 2014

News / Internasional

Crimea, Lima Langkah Menuju Aneksasi Rusia

Selasa, 11 Maret 2014 | 17:24 WIB
FILIPPO MONTEFORTE / AFP Milisi pro-Rusia yang menyebut diri sebagai
SIMFEROPOL, KOMPAS.com - Di saat para pemimpin dunia "bergulat" untuk menyelesaikan krisis di Semenanjung Crimea, Rusia dan para pejabat Crima pro-Moskwa telah mengambil langkah-langkah penting untuk memastikan aneksasi Rusia terhadap wilayah Ukraina itu.

Para pakar mengatakan dalam waktu kurang dari dua pekan, pasukan Rusia dan milisi pro-Moskwa telah mengubah realitas di lapangan, yaitu memisahkan Crimea dari wilayah Ukraina lainnya.

"Sudah dilakukan sebuah rencana rasional. Langkah demi langkah mereka memutus Crimea dari Ukraina, mempersiapkan sebuah aneksasi," kata analis politik Volodymir Fesenko.

"Semua langkah itu dilakukan untuk mempersiapkan langkah selanjutnya yaitu referendum, untuk melegitimasi aneksasi," tambah Fesenko.

Inilah lima langkah yang sudah diambil untuk memastikan pemisahan Crimea dari Ukraina.

1. Menempatkan pemerintahan boneka

Lima hari setelah presiden pro-Moskwa Viktor Yanukovych digulingkan, milisi pro-Moskwa langsung bergerak menguasai parlemen dan gedung-gedung pemerintahan di ibu kota Crimea, Simferopol dan mengibarkan bendera Rusia.

Politisi pro-Rusia, Sergei Aksyonov dengan cepat ditunjuk menjadi perdana menteri sementara dan anggota parlemen memutuskan bergabung dengan Rusia dan menggelar referendum.

2. Menguasai wilayah darat

Ribuan prajurit Rusia, sebagian besar diyakini berasal dari Armada Laut Hitam yang berbasis di Crimea, dengan cepat disebar di seluruh semenanjung setelah pemerintahan berada di tangan pihak pro-Moskwa.

Penjaga perbatasan Ukraina mengatakan setidaknya 30.000 prajurit Rusia kini berada di wilayah semenanjung itu. Namun, para prajurit itu meski membawa perlengkapan standar militer mereka tidak mengenakan tanda-tanda apapun, mengepung sejumlah instalasi militer Ukraina.

Sejumlah tembakan peringatan pernah dilepaskan namun sejauh ini tidak ada aksi kekerasan besar.

3. Menutup perbatasan

Wilayah Crimea, yang menjorok ke Laut Hitam dari daratan Ukraina, relatif mudah untuk menutup perbatasannya.

Hanya dalam hitungan hari, pasukan Rusia sudah membangun pos-pos pemeriksaan di sepanjang dua jalan utama yang menuju ke semenanjung itu, lengkap dengan berbagai peringatan misalnya peringatan bahaya ranjau.

Penerbangan ke Kiev dari bandara Simferopol dialihkan ke terminal internasional dan anggota milisi memeriksa semua penumpang yang datang menggunakan kereta api.

4. Mengendalikan komunikasi

Demi mengendalikan arus informasi ke Crimea, enam stasiun televisi Ukraina dilarang mengudara pekan ini dan digantikan dengan stasiun televisi Rusia.

Para jurnalis asing dan Ukraina mendapat tekanan dan tak jarang kekerasan, termasuk lima wartawan Ukraina yang dipukuli milisi pro-Rusia saat mereka mencoba meliput upaya pendudukan sebuah pangkalan angkatan udara.

5. Menggelar referendum

Referendum yang akan digelar pada Minggu (16/3/2014) hanya akan meminta jawaban warga soal pilihan Crimea menjadi bagian Rusia atau mendapatkan otonomi luas seperti yang dinikmati berdasarkan konstitusi 1992, yang secara de facto memberikan Crimea kemerdekaan.

Sedangkan, pilihan Crimea tetap menjadi bagian Ukraina tidak akan menjadi pertanyaan dalam referendum itu.

"Selanjutnya, Crimea akan menjadi bagian Rusia, yang akan menjadi masalah baru di kawasan dan internasional, atau menjadi semacam Abkhazia, sebuah konflik yang beku," kata Volodymyr Fesenko.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Ervan Hardoko
Sumber: AFP