Salin Artikel

Dampak Serangan pada Kapal-kapal Kargo di Laut Merah terhadap Perdagangan Global

Kelompok Houthi telah menyatakan dukungannya terhadap kelompok Hamas di Gaza, Palestina. Bentuk dukungannya adalah menyerang kapal-kapal komersial yang melakukan perjalanan ke Israel. Walau tidak pernah jelas apakah semua kapal yang diserang benar-benar sedang menuju Israel atau tidak.

Pasukan Angkatan Laut AS dan Inggris di Laut Merah telah melancarkan serangan udara terhadap sejumlah sasaran milik pemberontak Houthi di Yaman sebagai tanggapan atas serangan terhadap kapal-kapal kargo itu.

Kelompok Houthi melancarkan serangan sejak dimulainya perang Israel-Hamas pada 7 Oktober lalu. Kelompok militan itu, yang didukung Iran, telah menggunakan drone dan roket untuk menyerang kapal-kapal asing yang mengangkut barang melalui selat Bab al-Mandab, sebuah perairan selebar 32 km yang memisahkan Eritrea dan Djibouti di sisi Afrika dan Yaman di sisi Semenanjung Arab.

Kapal-kapal biasanya mengambil rute ini dari selatan untuk mencapai Terusan Suez di Mesir sebelum berlayar lebih jauh ke utara. Namun karena adanya serangan-serangan itu, beberapa perusahaan pelayaran terbesar di dunia, termasuk Mediterranean Shipping Company dan Maersk, telah mengalihkan kapal-kapal mereka ke rute yang lebih panjang, yaitu ke Tanjung Harapan di Afrika Selatan dan kemudian terus belayar di sisi barat Afrika untuk sampai ke Eropa.

Penelitian MUFG (Mitsubishi UFJ Financial Group) menyatakan, serangan di Laut Merah itu telah menyebabkan “pengalihan perdagangan internasional terbesar dalam beberapa dekade”.

Menurut data Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan (Unctad), serangan tersebut telah mendorong lima perusahaan pelayaran kontainer terbesar di dunia, yang mewakili sekitar 65 persen kapasitas pengiriman global, menghentikan perjalanan melalui Terusan Suez. Lalu lintas pelayaran pun telah turun sekitar 39 persen sejak awal Desember, sehingga menyebabkan penurunan 45 persen tonase muatan.

Dampaknya adalah melonjaknya harga yang dikenakan untuk mengirimkan barang antara Asia ke Eropa karena kapal-kapal harus melipir-mengelilingi benua Afrika.

“Pentingnya Terusan Suez dan Laut Merah bagi perdagangan global tidak dapat disepelekan,” kata Fabrice Maille, kepala pelayaran global di London Stock Exchange Group (LSEG). “Karena itu, dampak konflik ini sangat besar, menyebabkan pengambilan keputusan yang sangat sulit terkait biaya dan risiko keamanan,” ujar Maille.

Menurut data LSEG, pengalihan pelayaran itu telah meningkatkan waktu transit kapal tanker Suezmax dari rata-rata 16 menjadi 32 hari.

Perjalanan yang lebih panjang itu selain menambah waktu setidaknya 10 hari juga merugikan perusahaan senilai jutaan dolar. Biaya rata-rata pengiriman dari Shanghai di China ke Inggris telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak awal Desember 2023, dan biaya pengiriman ke Eropa meningkat lebih dari tiga kali lipat.

Mengapa Laut Merah begitu penting?

Setiap kapal yang melewati Terusan Suez menuju atau dari Samudera Hindia harus melalui selat Bab al-Mandab dan Laut Merah. Terusan Suez merupakan jalur laut tercepat antara Asia dan Eropa dan sangat penting dalam pengangkutan minyak dan gas alam cair (LNG).

Menurut data Vortexa, perusahaan analisis pengangkutan, sekitar sembilan juta barel minyak per hari dikirim melalui Terusan Suez pada paruh pertama tahun 2023.

Analis di S&P Global Market Intelligence mengatakan, hampir 15 persen barang yang diimpor ke Eropa, Timur Tengah, dan Afrika Utara dikirim dari Asia dan Teluk melalui laut. Jumlah itu termasuk 21,5 persen minyak olahan dan lebih dari 13 persen minyak mentah.

Namun ini bukan hanya tentang minyak. Kapal-kapal kontainer membawa segala macam barang konsumsi yang bisa Anda lihat di berbagai toko pajangan, termasuk TV, pakaian, sepatu olahraga, dan peralatan olahraga.

Dampak terhadap inflasi global

Bertambahnya waktu dan biaya pengiriman akan membebani perekonomian global, yang sedang mengalami pertumbuhan paling lambat dalam 30 tahun terakhir.

Jan Hoffmann, kepala logistik perdagangan di Unctad memperingatkan tentang peningkatan biaya dan potensi inflasi yang bersumber dari gangguan pengiriman itu.

Menurut MUFG, meskipun gangguan pengiriman barang kemungkinan tidak akan menyebabkan peningkatan harga energi yang signifikan, biaya pengiriman yang lebih tinggi dipastikan akan memberikan tekanan pada harga barang konsumsi. Hal itu akan meningkatkan inflasi, padahal bank sentral telah berharap dapat mulai menurunkan suku bunga.

Dampaknya terhadap konsumen

Tidak terhindarkan bahwa rantai pasokan akan terkena dampak karena kapal-kapal dialihkan dengan menjauhi Laut Merah. Namun menurut Kepala Penelitian Rantai Pasokan di S&P Global Market Intelligence, Chris Rogers., barang-barang konsumen akan menghadapi dampak terbesar. Walau dia menambahkan bahwa gangguan saat ini terjadi "bukan pada puncak musim pengiriman".

Keterlambatan produk mencapai toko-toko sudah bisa diperkirakan terjadi karena rute Tanjung Harapan membuat perjalanan bertambah sekitar 3.500 mil laut (5.632 km).

Raksasa furnitur, Ikea, dan pengecer Inggris, Next, telah memperingatkan bahwa pasokan produk dapat tertunda jika gangguan pengiriman terus berlanjut.

Tesla menghentikan produksi di satu-satunya pabrik mobil listriknya di Eropa karena pasokan terganggu.

Jarak tambahan itu juga akan sangat merugikan perusahaan. Menurut penasihat rantai pasokan Drewry, biaya penggunaan kontainer berukuran 40 kaki telah naik 15 persen dalam seminggu pada awal Januari lalu. Biaya tambahan itu dapat dibebankan pengusaha kepada pelanggan.

Namun, tarif peti kemas masih jauh di bawah tingkat yang terlihat pada tahun 2021, ketika biaya pengangkutan melonjak seiring dengan permintaan yang meningkat saat pelonggaran pembatasan Covid mulai terjadi.

Ada juga kekhawatiran gangguan ini dapat mendorong harga minyak naik. Kenaikan harga minyak, bahan utama bahan bakar mobil, dapat menyebabkan harga yang lebih tinggi di SPBU dan mendorong inflasi yang lebih tinggi. Inflasi, yang mengukur laju kenaikan harga, telah menurun di Inggris dan saat ini sebesar 3,9 persen.

Apakah mengirim barang melalui laut satu-satunya pilihan? Rogers mengatakan, pengangkutan barang dengan kereta api harus "melintasi Rusia", yang berada di bawah sanksi ekonomi karena menginvasi Ukraina. Sementara "pengangkutan dengan truk dari Teluk ke Israel mungkin hanya bisa mencapai sekitar tiga persen dari total pengiriman via laut".

https://internasional.kompas.com/read/2024/02/15/210008270/dampak-serangan-pada-kapal-kapal-kargo-di-laut-merah-terhadap

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke