Salin Artikel

Sejarah Jepang (II): Nobunaga, Zaman Edo, hingga Zaman Modern

KOMPAS.com - Sejarah Jepang mencatat selama pergolakan di periode Sengoku, tuan tanah feodal (daimyoI), memiliki pasukan dan pengikut sendiri. Penipuan dan pengkhianatan adalah strategi umum yang berkembang dalam politk masa ini.

Paling terkenal mungkin adalah pembunuhan Oda Nobunaga oleh pengikutnya sendiri Mitsuhide Akechi. Dia berusaha mengendalikan banyak wilayah kekuasaan di bawah Nobunaga, yang satu langkah lagi menyatukan negara.

Akechi akhirnya dibunuh oleh pengikut Oda, Toyotomi Hideyoshi, yang menggantikan Oda Nobunaga. Bersama dengan “Tokugawa Ieyasu”, perlawanan terakhir terhadap pemerintahan Toyotomi dikalahkan, melalui klan Hojo dan pengepungan di Kastil Odawara.

Lima keluarga samurai

Setelah menyatukan Jepang di bawah pemerintahannya, Toyotomi Hideyoshi yang sakit menyerahkan keputusan kepada Dewan Lima Tetua. Kelompok lima keluarga samurai ini sangat berpengaruh di Jepang, salah satunya adalah Tokugawa Ieyasu.

Setelah kematian Toyotomi pada 1598, Tokugawa mengambil tindakan sendiri dan menaklukkan Istana Osaka, pangkalan putra Toyotomi Hideyoshi.

Langkah agresif ini membuat negara kembali terpecah menjadi dua partai. Yakni mereka yang berada di belakang Tokugawa Ieyasu, dan mereka yang berada di belakang penguasa feodal yang kuat bernama Ishida Mitsunari.

Kedua kekuatan tersebut bentrok pada 1600 dalam Pertempuran Sekigahara yang terkenal. Tokugawa Ieyasu muncul sebagai pemenang dan mendirikan Keshogunan Tokugawa pada 1603.

Zaman Edo dan kemunculan Kurofune

Ibu kota negara Jepang lalu dipindahkan dari Kyoto, tempat istana kekaisaran berada, ke Edo, kota yang sekarang dikenal sebagai Tokyo pada 1603.

Ini menandai awal periode Edo yang damai, dengan perkembangan budaya ditentukan oleh orang-orang biasa di kota bukan bangsawan.

Banyak seni Jepang yang sekarang terkenal di dunia bermunculan, seperti pencetakan kayu ukiyo-e, teater kabuki, dan kimono seperti yang dikenal sekarang.

Kondisi yang damai dan stabil membuka kemajuan dalam segala jenis teknologi. Seni dan budaya, yang sebelumnya hampir secara eksklusif dimiliki oleh kelas atas, pun dalam periode ini jauh lebih mudah diakses oleh rakyat jelata.

Kapal Hitam, atau “kurofune”, memasuki Teluk Edo pada 1853 dan menandai awal dari berakhirnya era Edo yang bebas konflik.

Istilah kapal hitam mengacu pada yang asap hitam dari kapal uap yang saat itu dikomandoi oleh Komodor Perry, pemandangan yang menakutkan rakyat jelata dan bangsawan Jepang.

Komodor Perry membawa surat dari Presiden Millard Fillmore, Presiden Amerika Serikat ke-13, yang menuntut diakhirinya kebijakan isolasi Jepang selama satu abad dan larangan perdagangan luar negeri, serta menawarkan perjanjian perdagangan antara kedua pemerintah.

Dihadapkan dengan kekuatan militer yang luar biasa, Keshogunan tidak punya pilihan selain mematuhinya. Sekitar satu tahun kemudian, Perjanjian Perdamaian dan Persahabatan ditandatangani, mengakhiri pengasingan panjang Jepang.

Namun, tidak semua orang setuju dengan keputusan ini, dan negara itu sekali lagi berada di ambang perang saudara.

Dari Shogun kembali ke Kaisar

Konflik kemudian muncul antar dua kelompok utama, yaitu nasionalis pro-kekaisaran (“ishin shishi”), yang berusaha untuk mengangkat Kaisar kembali ke kekuasaan nyata dan untuk mengusir "barbar Barat" dari Jepang. Melawan pasukan shogun yang setia kepada pemerintah militer yang dipimpin oleh Shogun.

Ketegangan ini menyebabkan Perang Boshin di mana kedua kekuatan bentrok dalam berbagai konflik di seluruh Jepang. Pada akhirnya, pasukan kekaisaran menang dan Keshogunan menyerah pada 1868 dan Restorasi Meiji dimulai.

Restorasi Meiji mengembalikan Kaisar sebagai satu-satunya penguasa Jepang dan menghapuskan pemerintahan militer Keshogunan untuk selamanya.

Periode Meiji ini juga membawa perubahan budaya. Dengan pengaruh Barat, mode mulai bergeser dari pakaian tradisional Jepang menjadi jas, celana, dan gaun. Bahkan chonmage, gaya rambut samurai setengah dicukur yang terkenal hampir tidak terlihat lagi.

Secepat Jepang mengadopsi standar mode Barat, Jepang juga mengalami industrialisasi modern dalam waktu yang sangat singkat.

Menjadi Kekuatan Ekonomi di Asia

Kemajuan teknologi yang pesat menyebabkan Jepang berhadapan langsung dengan Barat hanya beberapa dekade kemudian.

Dalam Perang Dunia Pertama pada 1914, negara ini merupakan sekutu dari Triple Entente, yang terdiri dari Perancis, Inggris, dan Rusia. Mereka berperang melawan Jerman dan Austria-Hongaria.

Jepang berhasil merebut wilayah di Pasifik dari Jerman yang kalah dan dengan demikian meningkatkan kekuatan politik dan militernya.

Ketika Perang Dunia II pecah pada 1939, Jepang adalah bagian dari Poros, bersama dengan Jerman Hitler dan Italia pimpinan Mussolini.

Negara itu berhasil menguasai sebagian besar Asia, tapi akhirnya dikalahkan oleh Amerika Serikat dan menyerah pada 1945.

Setelah bertahun-tahun demokratisasi dan pendudukan, Jepang bergabung dengan Blok Barat pada 1952 dan mengalami ledakan ekonomi besar-besaran sepanjang tahun 60-an dan 70-an, menjadikannya salah satu ekonomi terkuat di dunia sekali lagi. 

https://internasional.kompas.com/read/2021/11/11/114500170/sejarah-jepang-ii-nobunaga-zaman-edo-hingga-zaman-modern

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.