Jumat, 1 Agustus 2014

News / Internasional

Warga Indonesia di Mesir Diimbau Tak Keluar Rumah

Selasa, 2 Juli 2013 | 12:40 WIB
STR / AFP Kantor pusat Ikhwanul Muslimin di Kairo, dibakar para pengunjuk rasa antipemerintah yang menggelar aksi besar-besaran menuntut Presiden Muhammad Mursi mundur dari jabatannya.
JAKARTA, KOMPAS.COM — Kondisi warga Indonesia di Mesir sejauh ini dilaporkan aman di tengah aksi unjuk rasa besar yang menuntut Presiden Muhammad Mursi mundur dari kekuasaan dan ultimatum militer negara itu agar Mursi segera mencari solusi untuk masalah politik yang ada.

Direktur Informasi dan Media Kementerian Luar Negeri, PLE Priatna, dalam keterangannya kepada Kompas,com, Selasa (2/6/2013), mengatakan, berdasarkan keterangan kedutaan Indonesia di Mesir, kondisi warga Indonesia tetap aman. Namun, pihak kedutaan mengimbau warga Indonesia untuk menghindari keramaian dan tetap tinggal di dalam rumah kalau tidak ada kegiatan yang mendesak.

"KBRI telah menyebarkan imbauan agar WNI menghindari tempat keramaian aktivitas politik serta imbauan bila tidak ada kegiatan mendesak, agar tinggal tetap di rumah," kata Priatna.  

Ia menambahkan bahwa Wakil Kepala Perwakilan RI di Kairo, Teuku Dharmawan, telah menegaskan bahwa KBRI Kairo terus melakukan komunikasi intensif dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Mesir di Kairo maupun sentra masyarakat Indonesia di kota besar lainnya, seperti Aleksandria. KBRI Kairo juga membuka kontak hotline bagi WNI yang memerlukan informasi dan bantuan.

Militer Mesir, Senin, memberi ultimatum selama 48 jam kepada Presiden Mursi untuk memenuhi tuntutan rakyat atau jika tidak, militer akan melakukan intervensi. "Jika tuntutan rakyat tidak dipenuhi dalam jangka waktu ini, (angkatan bersenjata) akan mengumumkan rencana dan langkah masa depan dan akan memastikan implementasinya," demikian pernyataan angkatan bersenjata.

Namun, militer Mesir kemudian membantah bahwa ultimatum itu merupakan bagian dari kudeta.

Para pengunjuk rasa yang memprotes pemerintahan Presiden Mursi menyambut ultimatum militer itu. Mereka menilai ultimatum itu sebagai upaya mengakhiri kekuasaan Mursi.

Hari Minggu, jutaan orang melakukan aksi unjuk rasa di seluruh wilayah Mesir guna mendesak presiden turun dari jabatannya. Aksi ini terus berlanjut hingga Senin, dan dilaporkan delapan orang tewas dalam aksi yang berbuntut pada penyerangan kantor pusat Ikhwanul Muslimin —partai pendukung Mursi— di Kairo.

Editor : Egidius Patnistik