Protes Pembatasan Pers, Koran Australia Kompak "Rahasiakan" Halaman Depan

Kompas.com - 21/10/2019, 15:27 WIB
Dua koran besar Australia, Daily Telegraph dan Sydney Morning Herald, menyajikan halaman depan di mana teks ditutup tinta hitam disertai cap merah bertuliskan rahasia. Mereka melakukan protes atas pembatasan pers yang dilakukan pemerintah Australia. via BBCDua koran besar Australia, Daily Telegraph dan Sydney Morning Herald, menyajikan halaman depan di mana teks ditutup tinta hitam disertai cap merah bertuliskan rahasia. Mereka melakukan protes atas pembatasan pers yang dilakukan pemerintah Australia.

CANBERRA, KOMPAS.com - Sejumlah koran besar di Australia kompak "merahasiakan" halaman depan sebagai bentuk protes terhadap kebebasan pers.

News Corp Australia dan Nine misalnya. Mereka menampilkan tes yang dicoret menggunakan tinta hitam, disertai cap merah bertuliskan "rahasia".

Baca juga: Sekolah Roboh, Siswa Belajar Beralas Koran

Koran besar melakukan protes ditujukan pada UU keamanan nasional, di mana menurut jurnalis menghambat reportase dan menciptakan "budaya rahasia" di Australia.

Dikutip BBC Minggu (20/10/2019), pemerintah mengklaim kebebasan berpendapat. Namun mereka menyatakan "tidak ada yang berada di atas hukum".

Juni lalu, polisi menyerbu kantor Australian Broadcasting Corporation (ABC) dan rumah salah satu jurnalis News Corp, dan menimbulkan protes besar.

Dalam keterangannya, media besar Negeri "Kanguru" menyatakan penyerbuan itu berkaitan dengan artikel soal bocornya informasi.

Antara lain terkait dugaan kejahatan perang. Menyangkut laporan investigasi pada 2017, dikenal sebagai The Afghan Files.

Berdasarkan pemberitaan ABC, serangkaian peliputan itu mengungkapkan "tuduhan pembunuhan dan pelanggaran hukum pasukan khusus Australia di Afghanistan".

Sementara laporan lain menyebut adanya dugaan badan pemerintah sedang berupaya melakukan kegiatan penyadapan atas warganya sendiri.

Direktur Eksekutif News Corp Australia Michael Miller membagikan sejumlah halaman depan koran seperti The Daily Telegraph dan The Australian di Twitter.

"Setiap kali pemerintah menerapkan larangan baru bagi jurnalis, warga Australia harusnya bertanya 'apa yang mereka coba sembunyikan dari saya?'," ucap Miller.

Sementara editor Sydney Morning Herald Lisa Davies juga membagikan gambar serupa. "Ini bukan kampanye bagi jurnalis. Namun demi demokrasi Australia," tegasnya.

Sementara Managing Director ABC David Anderson mengatakan, Australia berada di ambang sebagai negara dengan demokrasi tertutup dunia.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyatakan, kebebasan pers penting bagi demokrasi. Namun "aturan hukum" harus ditegakkan.

"Itu termasuk saya, atau rekan-rekan jurnalis, atau siapa pun," ujar PM Morrison dalam konferensi pers Minggu. Temuan penyelidikan dugaan kebebasan pers bakal diungkap pekan depan.

Baca juga: Wapres China hingga PM Australia Akan Hadiri Pelantikan Jokowi-Maruf

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber BBC
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wanita di China Lempar Anak Kucing karena Tak Dapat 'Refund' dari Toko Hewan

Wanita di China Lempar Anak Kucing karena Tak Dapat "Refund" dari Toko Hewan

Internasional
Bertemu Mahathir, Anwar Ibrahim Kembali Tegaskan akan Jadi PM Malaysia

Bertemu Mahathir, Anwar Ibrahim Kembali Tegaskan akan Jadi PM Malaysia

Internasional
Selamatkan Penumpang, Dokter Ini Isap 800 Ml Urine di Tengah Penerbangan

Selamatkan Penumpang, Dokter Ini Isap 800 Ml Urine di Tengah Penerbangan

Internasional
Aung San Suu Kyi Bakal Bela Myanmar atas Tuduhan Genosida Rohingya di Sidang PBB

Aung San Suu Kyi Bakal Bela Myanmar atas Tuduhan Genosida Rohingya di Sidang PBB

Internasional
Tolak Tawaran dari Perusahaan China, Tuvalu Mantap Mendukung Taiwan

Tolak Tawaran dari Perusahaan China, Tuvalu Mantap Mendukung Taiwan

Internasional
'Dibully' Teman Sekelas, Balasan Murid di Malaysia Bikin Kagum Netizen

"Dibully" Teman Sekelas, Balasan Murid di Malaysia Bikin Kagum Netizen

Internasional
Paduan Suara Muslim Thailand Lantunkan 'Doa Perdamaian' untuk Paus Fransiskus

Paduan Suara Muslim Thailand Lantunkan "Doa Perdamaian" untuk Paus Fransiskus

Internasional
Didakwa Korupsi, Perdana Menteri Israel Bersumpah Tidak Akan Mundur

Didakwa Korupsi, Perdana Menteri Israel Bersumpah Tidak Akan Mundur

Internasional
Terlalu Memperhatikan Anaknya, Ibu 17 Tahun Ini Ditembak Mati Tunangan

Terlalu Memperhatikan Anaknya, Ibu 17 Tahun Ini Ditembak Mati Tunangan

Internasional
Perdana Menteri Israel Didakwa Lakukan Korupsi

Perdana Menteri Israel Didakwa Lakukan Korupsi

Internasional
Bocah 12 Tahun Jadi Terdakwa Termuda Demonstrasi di Hong Kong

Bocah 12 Tahun Jadi Terdakwa Termuda Demonstrasi di Hong Kong

Internasional
Hanya Minta Uang Receh, Pengemis di Brasil Ditembak Mati

Hanya Minta Uang Receh, Pengemis di Brasil Ditembak Mati

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Israel Serang Iran di Suriah | Abu Sayyaf Sandera 3 Nelayan Indonesia

[POPULER INTERNASIONAL] Israel Serang Iran di Suriah | Abu Sayyaf Sandera 3 Nelayan Indonesia

Internasional
China Tuduh AS Berusaha 'Menghancurkan' Hong Kong lewat UU HAM dan Demokrasi

China Tuduh AS Berusaha "Menghancurkan" Hong Kong lewat UU HAM dan Demokrasi

Internasional
Berhubungan Seks dengan Remaja 17 Tahun di Mobil Patroli, Mantan Polisi Ini Ditangkap

Berhubungan Seks dengan Remaja 17 Tahun di Mobil Patroli, Mantan Polisi Ini Ditangkap

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X