China Bongkar Penjualan Produk Kecantikan Palsu Senilai Rp 63 Miliar

Kompas.com - 06/12/2018, 16:49 WIB
Ilustrasi Suntik Botox AndreyPopov Ilustrasi Suntik Botox

BEIJING, KOMPAS.com - Kepolisian di China berhasil membongkar jaringan yang memasok produk kecantikan tanpa izin dan palsu yang dijual ke salon kecantikan di 10 provinsi.

Diwartakan Daily Mail, Rabu (5/12/2018), produk palsu terdiri dari Botox, suntikan vitamin C, hyaluronic acid, dan peralatan yang tidak berlisensi telah terjual 30 juta yuan atau Rp 63,2 miliar dalam waktu enam bulan.

Sejauh ini, sebanyak lima orang telah dituntut polisi di kota Changde, Hunan, karena menjual produk palsu dan membahayakan kesehatan masyarakat.

Baca juga: Sedang Dibedah, Pasien Diminta Keluar Ruangan untuk Bayar Biaya Operasi


Polisi pertama kali mendalami kasus ini pada September tahun llau ketika inspeksi di salon kecantikan dan menemukan suntikan Botox palsu.

Polisi kemudian menelusuri produk hingga menemukan pemasoknya di provinsi Jilin. Pelaku bernama Zuo, menjualnya di aplikasi WeChat.

Penyelidik selanjutnya menggeledah salon kecantikan Zuo dan menyita 2.300 barang termasuk botol hyaluronic acid palsu dan berbagai produk lainnya.

Mereka juga menemukan bukti pengiriman Zuo, yang menunjukkan produk telah dikirim ke pelanggan di 10 provinsi yang berbeda.

Zuo, bersama dengan setidaknya dua tersangka lainnya, telah ditangkap karena menjual produk palsu.

South China Morning Post melaporkan, China merupakan rumah bagi pasar operasi plastik terbesar ketiga dunia, setelah Amerika Serikat dan Brasil.

Perawatan Botox dan suntikan hyaluronic acid telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir dan dianggap kurang berisiko.

Baca juga: Ingin Suntik Botox dan Filler, Berapa Dana yang Harus Disiapkan?

Hingga 70 persen dari Botox dan pasokan hyaluronic acid di China diyakini ilegal.

Pihak berwenang China sebelumnya memperingatkan tentang bahaya produk kecantikan palsu usai seorang pasien harus menerima perawatan di rumah sakit akibat prosedur kecantikan yang salah.

Beberapa kasus bahkan melibatkan produk impor ilegal yang tidak disimpan dengan benar dan dikelola secara tidak aman.



Terkini Lainnya


Close Ads X