Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kebijakan Kontroversial Nayib Bukele Atasi Kejahatan di El Salvador

Kompas.com - 28/03/2024, 07:37 WIB
Paramita Amaranggana,
Egidius Patnistik

Tim Redaksi

EL SALVADOR mengalami peningkatan tajam jumlah kematian akibat kekerasan di tahun 2015. Kenaikan sebesar 70 persen menjadikan tahun 2015 sebagai tahun paling berdarah di negara di Amerika Tengah itu semenjak puncak perang saudara pada tahun 1983. El Salvador pada tahun 2015 tersebut bahkan menyandang gelar sebagai negara paling berbahaya di belahan Bumi barat.

Di tahun itu, diperkirakan 6.657 orang tewas terbunuh. Setidaknya 104 orang per 100.000 penduduk tewas di El Salvador tahun 2015.

Agustus menjadi bulan paling mematikan di tahun tersebut dengan total pembunuhan lebih dari 900 kasus, termasuk satu hari di mana dilaporkan 52 kasus pembunuhan sekaligus.

Meningkatnya tingkat kematian akibat kekerasan di El Salvador tahun 2015 disebabkan oleh maraknya pembunuhan massal dan eskalasi konflik antara anggota-anggota geng dan kepolisian.

Di satu sisi, pihak berwenang menyalahkan pertikaian geng-geng jalanan sebagai penyebab utama  meningkatnya angka kematian itu. Argumen tersebut didasarkan oleh menurunnya tingkat pembunuhan hingga separuhnya pada tahun 2012 ketika pemerintah merundingkan gencatan senjata antara dua geng terbesar, Calle 18 dan Mara Salvatrucha 13. Namun, angka pembunuhan kembali meningkat ketika perjanjian tersebut berhenti tahun 2014.

Di sisi lain, ada banyak bukti menunjukkan pembunuhan di luar proses hukum yang dilakukan polisi terhadap tersangka anggota geng.

El Salvador berubah 180 derajat tahun 2023 ketika tingkat pembunuhannya turun mencapai hampir 70 persen. Jumlah pembunuhan di El Salvador tahun 2023 hanya sebanyak 154 kasus, turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 495 kasus.

Dengan 2,4 pembunuhan per 100.000 penduduk, El Salvador secara resmi berubah status dari negara paling berbahaya di belahan Bumi barat menjadi negara dengan tingkat pembunuhan paling rendah di Benua Amerika setelah Kanada.

Strategi Kontroversial

Menurun drastisnya tingkat pembunuhan di El Salvador tentu menjadi pusat perhatian banyak negara. Strategi pemerintah El Salvador dalam menangani tingginya tingkat pembunuhan menjadi strategi favorit, bukan hanya dalam negeri melainkan juga jadi panutan negara-negara lain.

Presiden El Salvador, Nayib Bukele, telah memenjarakan hampir 75 ribu orang sejak Maret 2022 dalam upaya menindak tegas anggota-anggota geng kriminal. Tindakan keras yang Presiden Bukele lakukan telah berhasil membongkar banyak geng jalanan terkenal yang terus meneror warga selama beberapa dekade.

Semenjak dia naik ke kursi kepresidenan tahun 2019, tingkat pembunuhan telah menurun dari 38 kasus per 100.000 penduduk menjadi 7,8 kasus per 100.000 penduduk setelah tiga tahun menjabat.

Keefektifan strategi Nayib Bukele yang ia sebut sebagai strategi “tangan besi” menjadi model bagi negara-negara tetangganya. Honduras contohnya menerapkan strategi sejenis untuk menangani kasus pembantaian 46 tahanan perempuan yang terkait dengan geng. Di Guatemala, masyarakat bahkan mengadakan unjuk rasa pro-Bukule.

“Salinlah, sesederhana itu,” kata seorang walikota di Ekuador tentang taktik El Salvador pasca serangan bom di kotanya.

Pada Mei 2023, tingkat persetujuan terhadap Presiden Bukele mencapai 91 persen. Politisi di seluruh Amerika Latin mulai memperhatikan Presiden Bukele dan beberapa di antaranya bahkan menyebut Bukele sebagai “model” yang “telah mencapai keajaiban.”

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Putin Bersedia Membicarakan Perdamaian, Namun Ukraina Patut Waspada

Putin Bersedia Membicarakan Perdamaian, Namun Ukraina Patut Waspada

Internasional
Ada Apa di Balik Penangkapan Sejumlah Pejabat Rusia?

Ada Apa di Balik Penangkapan Sejumlah Pejabat Rusia?

Internasional
Melihat Rencana Ambisius China Tangani Krisis Properti

Melihat Rencana Ambisius China Tangani Krisis Properti

Internasional
Mampukah Taiwan Pertahankan Diri jika China Menyerang?

Mampukah Taiwan Pertahankan Diri jika China Menyerang?

Internasional
Kematian Presiden Raisi Membuat Warga Iran Terbagi Jadi Dua Kubu

Kematian Presiden Raisi Membuat Warga Iran Terbagi Jadi Dua Kubu

Internasional
Amelia Earhart, Perempuan Pertama yang Melintasi Atlantik

Amelia Earhart, Perempuan Pertama yang Melintasi Atlantik

Internasional
Sosok Jacob Zuma, Mantan Presiden Afrika Selatan yang Didiskualifikasi dari Pemilu Parlemen

Sosok Jacob Zuma, Mantan Presiden Afrika Selatan yang Didiskualifikasi dari Pemilu Parlemen

Internasional
Iran Setelah Presiden Ebrahim Raisi Tewas, Apa yang Akan Berubah?

Iran Setelah Presiden Ebrahim Raisi Tewas, Apa yang Akan Berubah?

Internasional
Apa Itu Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Mengapa ICC Mempertimbangkan Surat Perintah Penangkapan bagi Pemimpin Israel dan Hamas?

Apa Itu Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Mengapa ICC Mempertimbangkan Surat Perintah Penangkapan bagi Pemimpin Israel dan Hamas?

Internasional
Tsai Ing-wen, Mantan Presiden Taiwan yang Dicintai Rakyat

Tsai Ing-wen, Mantan Presiden Taiwan yang Dicintai Rakyat

Internasional
Apa Tujuan Asli Putin Menginvasi Ukraina?

Apa Tujuan Asli Putin Menginvasi Ukraina?

Internasional
Siapa Ebrahim Raisi, Presiden Iran yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter?

Siapa Ebrahim Raisi, Presiden Iran yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter?

Internasional
Hubungan Israel-Mesir Memburuk Setelah Israel Duduki Perbatasan Rafah

Hubungan Israel-Mesir Memburuk Setelah Israel Duduki Perbatasan Rafah

Internasional
Minim Perlindungan, Tahanan di AS yang Jadi Buruh Rawan Kecelakaan Kerja

Minim Perlindungan, Tahanan di AS yang Jadi Buruh Rawan Kecelakaan Kerja

Internasional
Siapa 'Si Lalat' Mohamed Amra, Napi yang Kabur dalam Penyergapan Mobil Penjara di Prancis?

Siapa "Si Lalat" Mohamed Amra, Napi yang Kabur dalam Penyergapan Mobil Penjara di Prancis?

Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com