Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah dan Pentingnya Hari Kebebasan Pers Sedunia

Kompas.com - 06/05/2024, 10:10 WIB
Paramita Amaranggana,
Egidius Patnistik

Tim Redaksi

PADA 20 Desember 1993, Majelis Umum (MU) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencanangkan untuk pertama kalinya Hari Kebebasan Pers Sedunia. Keputusan ini berangkat dari rekomendasi konferensi umum UNESCO.

Sejak saat itu, hari ulang tahun Deklarasi Windhoek yang jatuh pada 3 Mei mulai dirayakan secara internasional sebagai Hari Kebebasan Pers Sedunia.

Deklarasi Windhoek merupakan pernyataan prinsip kebebasan pers yang dikemukakan oleh para jurnalis surat kabar di Afrika dalam seminar UNESCO terkait “Mempromosikan Pers Afrika yang Independen dan Pluralistik” di Windhoek, Namibia dari tanggal 29 April sampai dengan 3 Mei 1991.

Deklarasi Windhoek berisikan seruan agar media di seluruh dunia menjadi bebas, independen, dan pluralistik. Dalam dokumen tersebut, kebebasan pers dilihat sebagai hal yang penting bagi demokrasi dan hak asasi manusia. Atas dasar hal itu, Deklarasi Windhoek dipandang sebagai tolak ukur untuk menjamin kebebasan pers di seluruh dunia.

Baca juga: Industri Konten Palsu Ancam Kebebasan Pers

Lalu, apa sebetulnya yang dirayakan dari Deklarasi Windhoek atau Hari Kebebasan Pers Sedunia itu?

Jurnalis dan media berperan penting dalam distribusi informasi. Jika kebebasan pers dibatasi, distribusi informasi juga akan ikut terhambat. Sayangnya, beberapa tahun terakhir ini semakin banyak jurnalis dan media yang terancam. Banyak upaya dilakukan orang-orang tertentu untuk menutup mulut para jurnalis dan media.

Bagi jurnalis dan kru media lainnya yang berada di lokasi konflik atau medan perang, situasinya jauh lebih berbahaya lagi. Gugur saat bertugas merupakan resiko yang setiap hari harus mereka hadapi.

Demikianlah tanggal 3 Mei ini harus menjadi pengingat bagi para pemerintah dan seluruh komunitas internasional akan komitmen mereka terhadap kebebasan pers.

Melansir dari laman resmi PBB, Hari Kebebasan Pers Sedunia merupakan momen untuk merayakan prinsip-prinsip dasar kebebasan pers di seluruh dunia, menilai kondisi kebebasan pers di seluruh dunia, membela media dari serangan terhadap independensi mereka, dan memberikan penghormatan kepada para jurnalis yang gugur ketika bertugas.

Hari Kebebasan Pers Sedunia bermain peran krusial sebagai pengingat atas pentingnya peran jurnalis dan media dalam pembentukan dunia yang demokratis. Karenaitu penting sekali agar jurnalis dapat bekerja tanpa rasa takut dan bebas dari kekerasan, intimidasi, sensor, dan pembatasan berekspresi.

Seperti tercantum dalam Pasal 19 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, yaitu “Setiap orang berhak atas kebebasan berpendapat dan berekspresi; hak ini mencakup kebebasan untuk mempunyai pendapat tanpa campur tangan dan untuk mencari, menerima, dan menyampaikan informasi dan gagasan melalui media apa pun dan tanpa memandang batas-batas.”

Hari Kebebasan Pers Sedunia tahun 2024 ini bertema “Pers Untuk Planet: Jurnalisme dalam Menghadapi Krisis Lingkungan.” Tema ini juga diangkat UNESCO dalam Konferensi Hari Kebebasan Pers Sedunia ke-31 yang diadakan pada 2-4 Mei di Gabriela Mistral Centre, Santiago, Cile.

Tema ini diangkat sebagai bentuk dedikasi terhadap pentingnya jurnalisme dan kebebasan berekspresi di situasi krisis lingkungan global saat ini. Pekerjaan jurnalistik dalam bidang ini diperlukan untuk membangun kesadaran akan aspek  krisis lingkungan global beserta konsekuensinya.

Namun, jurnalis dalam upaya ini seringkali menemukan tantangan, terutama dalam mencari dan menyebarkan informasi seputar isu-isu lingkungan kontemporer seperti masalah rantai pasokan, migrasi akibat iklim, industri ekstraktif, pertambangan ilegal, polusi, perburuan liar, perdagangan hewan, penggundulan hutan, hingga perubahan iklim.

Selain itu, disinformasi dan misinformasi juga terus menjadi tantangan besar bagi para jurnalis, terlebih di era serba digital ini. Informasi menyesatkan tentang krisis lingkungan seperti perubahan iklim akan berdampak pada melemahnya upaya penanganan oleh komunitas internasional.

Disinformasi dan misinformasi terkait isu lingkungan juga dapat memengaruhi dukungan publik dan politik dalam hal perlindungan iklim, baik itu melalui kebijakan atau perlindungan terhadap masyarakat yang rentan terhadap dampak dari krisis lingkungan.

Karena itu, jurnalis perlu melaporkan isu-isu lingkungan serta konsekuensi dan solusinya secara akurat, tepat waktu, dan komprehensif. Untuk mencapai hal tersebut, diperlukan beberapa strategi yang mencakup hal-hal seperti pencegahan kejahatan terhadap jurnalis, jaminan kepada kebebasan berekspresi dan akses sumber informasi, pluralitas media, tata kelola platform digital yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan, serta promosi program literasi media dan informasi agar pengguna platform digital menjadi lebih kritis.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Mampukah Taiwan Pertahankan Diri jika China Menyerang?

Mampukah Taiwan Pertahankan Diri jika China Menyerang?

Internasional
Kematian Presiden Raisi Membuat Warga Iran Terbagi Jadi Dua Kubu

Kematian Presiden Raisi Membuat Warga Iran Terbagi Jadi Dua Kubu

Internasional
Amelia Earhart, Perempuan Pertama yang Melintasi Atlantik

Amelia Earhart, Perempuan Pertama yang Melintasi Atlantik

Internasional
Sosok Jacob Zuma, Mantan Presiden Afrika Selatan yang Didiskualifikasi dari Pemilu Parlemen

Sosok Jacob Zuma, Mantan Presiden Afrika Selatan yang Didiskualifikasi dari Pemilu Parlemen

Internasional
Iran Setelah Presiden Ebrahim Raisi Tewas, Apa yang Akan Berubah?

Iran Setelah Presiden Ebrahim Raisi Tewas, Apa yang Akan Berubah?

Internasional
Apa Itu Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Mengapa ICC Mempertimbangkan Surat Perintah Penangkapan bagi Pemimpin Israel dan Hamas?

Apa Itu Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Mengapa ICC Mempertimbangkan Surat Perintah Penangkapan bagi Pemimpin Israel dan Hamas?

Internasional
Tsai Ing-wen, Mantan Presiden Taiwan yang Dicintai Rakyat

Tsai Ing-wen, Mantan Presiden Taiwan yang Dicintai Rakyat

Internasional
Apa Tujuan Asli Putin Menginvasi Ukraina?

Apa Tujuan Asli Putin Menginvasi Ukraina?

Internasional
Siapa Ebrahim Raisi, Presiden Iran yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter?

Siapa Ebrahim Raisi, Presiden Iran yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter?

Internasional
Hubungan Israel-Mesir Memburuk Setelah Israel Duduki Perbatasan Rafah

Hubungan Israel-Mesir Memburuk Setelah Israel Duduki Perbatasan Rafah

Internasional
Minim Perlindungan, Tahanan di AS yang Jadi Buruh Rawan Kecelakaan Kerja

Minim Perlindungan, Tahanan di AS yang Jadi Buruh Rawan Kecelakaan Kerja

Internasional
Siapa 'Si Lalat' Mohamed Amra, Napi yang Kabur dalam Penyergapan Mobil Penjara di Prancis?

Siapa "Si Lalat" Mohamed Amra, Napi yang Kabur dalam Penyergapan Mobil Penjara di Prancis?

Internasional
Pemungutan Suara di Paris Bikin Pulau Milik Perancis di Pasifik Mencekam, Mengapa?

Pemungutan Suara di Paris Bikin Pulau Milik Perancis di Pasifik Mencekam, Mengapa?

Internasional
Perjalanan Hubungan Rusia-China dari Era Soviet sampai Saat Ini

Perjalanan Hubungan Rusia-China dari Era Soviet sampai Saat Ini

Internasional
Pertemanan Rusia-China Makin Erat di Tengah Tekanan Barat

Pertemanan Rusia-China Makin Erat di Tengah Tekanan Barat

Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com