Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mungkinkah Uni Eropa Memutus Hubungan dengan Presiden Putin?

Kompas.com - 08/05/2024, 14:49 WIB
Paramita Amaranggana,
Egidius Patnistik

Tim Redaksi

PEMILIHAN umum (pemilu) presiden Rusia bulan Maret lalu menghasilkan kemenangan mutlak bagi Vladimir Putin dengan perolehan suara 87 persen. Kemenangan ini secara resmi memberi Putin satu periode lagi untuk menjabat setelah sebelumnya telah menjabat empat periode.

Pada 7 Mei ini, Putin resmi dilantik. Meski begitu, Amerika Serikat (AS), Kanada, Inggris, dan beberapa negara anggota Uni Eropa menolak untuk mengirim perwakilan ke acara pelantikan Putin karena menilai pemilu yang diadakan tidak bebas dan tidak adil sebagaimana seharusnya.

“Kami tidak akan memiliki perwakilan pada pelantikannya,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Matthew Miller. Walau tidak hadir dalam pelantikan, Miller menjelaskan bahwa bagaimanapun juga, Putin tetaplah “presiden Rusia dan dia akan terus melanjutkan kapasitasnya.”

Baca juga: AS, Inggris, dan Sebagian Besar Negara Uni Eropa Tak Akan Hadiri Pelantikan Putin

Lain halnya dengan AS yang setidaknya masih mengakui Putin sebagai presiden, di Eropa, langkah yang tengah mereka perbincangkan akhir-akhir ini jauh lebih ekstrem: tidak mengakui kemenangan dan kekuasaan Putin di Rusia.

Pada pertengahan April, Majelis Parlemen pada Dewan Eropa (PACE) mengajukan rekomendasi tidak mengikat kepada Dewan Eropa dan negara-negara anggota Uni Eropa untuk berhenti mengakui Putin dan mengakhiri kontak dengan Putin kecuali menyangkut urusan kemanusiaan atau upaya perdamaian.

Seminggu kemudian, Parlemen Eropa memungut suara untuk menyetujui resolusi serupa yang berisi desakan kepada negara anggota Uni Eropa dan komunitas internasional untuk “tidak mengakui hasil pemilu presiden Rusia sebagai sah” dan “membatasi hubungan dengan Putin hanya pada hal-hal yang diperlukan untuk perdamaian regional serta tujuan kemanusiaan dan hak asasi manusia.”

Namun sama seperti rekomendasi PACE sebelumnya yang bersifat tidak mengikat, resolusi Parlemen Eropa kali ini juga bersifat demikian.

Meski begitu, Ionela Maria Ciolan, pakar kebijakan luar negeri Eropa di Pusat Studi Eropa Wilfried Martens berpendapat, resolusi itu tetap akan memiliki pengaruh.

“Ini mempunyai dampak simbolis dan tidak langsung yang kuat, karena bertindak sebagai rekomendasi kepada (negara-negara anggota) dan mengirimkan pesan kepada pemerintah di seluruh Eropa bahwa partai-partai di seluruh spektrum politik mendukung pandangan ini,” katanya.

Sejauh ini, dari Uni Eropa hanya perdana menteri Hungaria, Viktor Orban saja yang telah menyelamati Putin atas kemenangannya. Tindakan Orban itu mendapat banyak kritik dari Parlemen Eropa dan para pembuat kebijakan.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Mampukah Taiwan Pertahankan Diri jika China Menyerang?

Mampukah Taiwan Pertahankan Diri jika China Menyerang?

Internasional
Kematian Presiden Raisi Membuat Warga Iran Terbagi Jadi Dua Kubu

Kematian Presiden Raisi Membuat Warga Iran Terbagi Jadi Dua Kubu

Internasional
Amelia Earhart, Perempuan Pertama yang Melintasi Atlantik

Amelia Earhart, Perempuan Pertama yang Melintasi Atlantik

Internasional
Sosok Jacob Zuma, Mantan Presiden Afrika Selatan yang Didiskualifikasi dari Pemilu Parlemen

Sosok Jacob Zuma, Mantan Presiden Afrika Selatan yang Didiskualifikasi dari Pemilu Parlemen

Internasional
Iran Setelah Presiden Ebrahim Raisi Tewas, Apa yang Akan Berubah?

Iran Setelah Presiden Ebrahim Raisi Tewas, Apa yang Akan Berubah?

Internasional
Apa Itu Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Mengapa ICC Mempertimbangkan Surat Perintah Penangkapan bagi Pemimpin Israel dan Hamas?

Apa Itu Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Mengapa ICC Mempertimbangkan Surat Perintah Penangkapan bagi Pemimpin Israel dan Hamas?

Internasional
Tsai Ing-wen, Mantan Presiden Taiwan yang Dicintai Rakyat

Tsai Ing-wen, Mantan Presiden Taiwan yang Dicintai Rakyat

Internasional
Apa Tujuan Asli Putin Menginvasi Ukraina?

Apa Tujuan Asli Putin Menginvasi Ukraina?

Internasional
Siapa Ebrahim Raisi, Presiden Iran yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter?

Siapa Ebrahim Raisi, Presiden Iran yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter?

Internasional
Hubungan Israel-Mesir Memburuk Setelah Israel Duduki Perbatasan Rafah

Hubungan Israel-Mesir Memburuk Setelah Israel Duduki Perbatasan Rafah

Internasional
Minim Perlindungan, Tahanan di AS yang Jadi Buruh Rawan Kecelakaan Kerja

Minim Perlindungan, Tahanan di AS yang Jadi Buruh Rawan Kecelakaan Kerja

Internasional
Siapa 'Si Lalat' Mohamed Amra, Napi yang Kabur dalam Penyergapan Mobil Penjara di Prancis?

Siapa "Si Lalat" Mohamed Amra, Napi yang Kabur dalam Penyergapan Mobil Penjara di Prancis?

Internasional
Pemungutan Suara di Paris Bikin Pulau Milik Perancis di Pasifik Mencekam, Mengapa?

Pemungutan Suara di Paris Bikin Pulau Milik Perancis di Pasifik Mencekam, Mengapa?

Internasional
Perjalanan Hubungan Rusia-China dari Era Soviet sampai Saat Ini

Perjalanan Hubungan Rusia-China dari Era Soviet sampai Saat Ini

Internasional
Pertemanan Rusia-China Makin Erat di Tengah Tekanan Barat

Pertemanan Rusia-China Makin Erat di Tengah Tekanan Barat

Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com