Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Profil Ferdinand Marcos Jr, Anak Diktator yang Jadi Presiden Terpilih Filipina

Kompas.com - 10/05/2022, 16:30 WIB
Aditya Jaya Iswara

Penulis

Sumber AFP

MANILA, KOMPAS.com - Ferdinand Marcos Jr adalah anak dari mantan diktator dan presiden Filipina Ferdinand Marcos.

Marcos Jr, yang dikenal dengan nama panggilannya "Bongbong", memenangi pemilihan presiden atau pilpres Filipina pada Senin (9/5/2022) dengan telak.

Dalam 36 tahun sejak pemberontakan rakyat menggulingkan patriark dan mendepak keluarga ke pengasingan AS, klan Marcos membangun kembali kekayaan politik mereka.

Baca juga: Kembalinya Dinasti Marcos yang Kejam ke Pucuk Kekuasaan Filipina

Terlepas dari kekhawatiran ayahnya sendiri tentang sifatnya yang bebas dan malas, Ferdinand Marcos Jr (64) berhasil mencapai posisi tertinggi.

Setelah kalah tipis dalam pemilihan wakil presiden dari Leni Robredo dalam pemilihan 2016, dia bertekad bertanding ulang dalam pilpres Filipina yang diharapkan hasilnya akan berbeda.

Bersumpah untuk menyatukan negara, Ferdinand Marcos Jr membuat janji besar saat kampanye untuk meningkatkan lapangan kerja dan mengatasi kenaikan harga di negara berpenghasilan menengah ke bawah tersebut.

“Persatuan adalah tujuan saya karena saya sangat yakin bahwa persatuan adalah langkah pertama untuk keluar dari krisis yang kita alami sekarang ini,” kata Ferdinand Marcos Jr pada Februari tanpa pernah menjelaskan lebih lanjut apa arti slogan itu.

Sosok yang terpolarisasi

Calon presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr (tengah) yang merupakan putra diktator terakhir negara itu, menyapa massa saat berkampanye di Quezon City, Filipina, Rabu (13/4/2022).AP PHOTO/AARON FAVILA Calon presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr (tengah) yang merupakan putra diktator terakhir negara itu, menyapa massa saat berkampanye di Quezon City, Filipina, Rabu (13/4/2022).
Tumbuh di istana kepresidenan di Manila, Ferdinand Marcos Jr ingin menjadi astronot sebelum ia mengikuti jejak ayahnya ke dunia politik.

Dia menjabat sebagai wakil gubernur dan dua kali sebagai gubernur provinsi Ilocos Norte, juga pernah betugas di Dewan Perwakilan Rakyat serta Senat.

Ibunya yang berusia 92 tahun, Imelda, memimpikan Ferdinand Marcos Jr menjadi pemimpin negara.

Hubungan Ferdinand Marcos Jr dengan ayahnya, yang pemerintahannya ditandai dengan penindasan berdarah pada tahun-tahun darurat militer, menjadikannya salah satu politisi paling terpolarisasi di negara itu.

Dia mendapat keuntungan dari banjir misinformasi di media sosial yang menargetkan mayoritas pemilih muda tanpa ingatan tentang korupsi, pembunuhan, dan pelanggaran lain yang dilakukan selama 20 tahun pemerintahan Marcos senior.

Kampanyenya didukung dengan bekerja sama dengan Sara Duterte, yang hasil awalnya memenangi pemilihan wakil presiden dengan telak dan dukungan dari elite-elite politik lainnya.

Sejarah bersama Ferdinand Marcos Jr dan Duterte sebagai keturunan para pemimpin otoriter mengkhawatirkan kelompok-kelompok hak asasi manusia, dan banyak di kalangan pemuka agama yang takut mereka akan menggunakan kemenangannya untuk mempertahankan kekuasaan.

Baca juga: Disorot Dunia, Kenapa Pilpres Filipina 2022 Kontroversial?

Kebangkitan politik dinasti Marcos

Presiden Filipina Ferdinand Marcos diwawancarai pada 11 Maret 1985, oleh Georges Biannic, direktur regional Agence France Presse untuk Asia dan Pasifik, di Istana Malacanang, Manila. (AFP/Romeo Gacad) Presiden Filipina Ferdinand Marcos diwawancarai pada 11 Maret 1985, oleh Georges Biannic, direktur regional Agence France Presse untuk Asia dan Pasifik, di Istana Malacanang, Manila. (AFP/Romeo Gacad)
Ferdinand Marcos Jr berada di sekolah asrama di Inggris pada 1972 ketika ayahnya mengumumkan darurat militer, melakukan korupsi skala besar, dan tindakan keras berdarah terhadap perbedaan pengunjuk rasa.

Halaman:
Sumber AFP
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Seberapa Kuat Militer Iran?

Seberapa Kuat Militer Iran?

Internasional
Serangan Iran ke Israel Tampaknya Direncanakan untuk Gagal

Serangan Iran ke Israel Tampaknya Direncanakan untuk Gagal

Internasional
Bagaimana Israel dan Sekutunya Cegat Lebih dari 300 Rudal dan Drone Iran?

Bagaimana Israel dan Sekutunya Cegat Lebih dari 300 Rudal dan Drone Iran?

Internasional
Seberapa Dekat Israel Singkirkan Hamas?

Seberapa Dekat Israel Singkirkan Hamas?

Internasional
Mengenal Sistem Pertahanan Iron Dome Israel

Mengenal Sistem Pertahanan Iron Dome Israel

Internasional
30 Tahun Genosida Rwanda yang Menewaskan 800.000 Orang

30 Tahun Genosida Rwanda yang Menewaskan 800.000 Orang

Internasional
Seberapa Berpengaruh Greta Thunberg?

Seberapa Berpengaruh Greta Thunberg?

Internasional
Trump Dituduh Menjual Alkitab untuk Kebutuhan Kampanye

Trump Dituduh Menjual Alkitab untuk Kebutuhan Kampanye

Internasional
Belajar dari Cara Taiwan Menghadapi Gempa Bumi

Belajar dari Cara Taiwan Menghadapi Gempa Bumi

Internasional
Korupsi dan Kecurangan Pemilu, Alasan AS Jatuhkan Sanksi pada Zimbabwe

Korupsi dan Kecurangan Pemilu, Alasan AS Jatuhkan Sanksi pada Zimbabwe

Internasional
Bagaimana AI Digunakan Israel Dalam Perang Melawan Hamas?

Bagaimana AI Digunakan Israel Dalam Perang Melawan Hamas?

Internasional
Apa Saja Opsi Iran untuk Membalas Israel, Setelah Jenderalnya Dibunuh?

Apa Saja Opsi Iran untuk Membalas Israel, Setelah Jenderalnya Dibunuh?

Internasional
Mengapa Al Jazeera Dilarang Beroperasi di Israel?

Mengapa Al Jazeera Dilarang Beroperasi di Israel?

Internasional
Peran Penting Organisasi Kemanusiaan di Gaza

Peran Penting Organisasi Kemanusiaan di Gaza

Internasional
Al Quds, Pasukan Elite dan Rahasia Iran untuk Operasi di Luar Negeri

Al Quds, Pasukan Elite dan Rahasia Iran untuk Operasi di Luar Negeri

Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com