Oda Nobunaga: Panglima Perang Kejam yang Berambisi Menyatukan Jepang

Kompas.com - 14/06/2021, 08:49 WIB

Dalam strategi lain untuk membangun kultus kepemimpinan, dia menyatakan hari ulang tahunnya sebagai hari libur nasional.

Di bidang seni, samurai Nobunaga mempromosikan dengan baik, terutama drama Kowaka dan Upacara Minum Teh Jepang, dengan menggunakan keterampilan dari seorang master yang diakui di bidangnya. Sen no Rikyu adalah seorang master dari Upacara Minum Teh Jepang (1522-1591).

Baca juga: Perempuan Berdaya: Nakano Takeko, Samurai Wanita Tangguh yang Dipenggal Kepalanya oleh Saudara Sendiri

Pengkhianatan dan kematian

Pada 21 Juni 1582, ketika Nobunaga hendak memulai kampanye di Jepang barat, dia menemui ajalnya di kuil Honno-Ji di Heiankyo.

Panglima perang ini dikhianati oleh salah satu bawahannya, Akechi Mitsuhide, yang juga merupakan petugas penghubung antara Nobunaga dan shogun boneka Ashikaga Yoshiaki.

Dalam sebuah episode yang dikenal sebagai Insiden Honnoji, Mitsuhide, untuk alasan yang tidak diketahui, meluncurkan serangan mendadak terhadap posisi Nobunaga.

Menurut salah satu versi cerita sejarah Jepang, ketika sudah akan ditangkap, pria yang telah menguasai setengah dari Jepang itu melakukan seppuku (bunuh diri).

Dalam versi cerita sejarah yang berbeda, panglima perang mati dalam api saat kuil terbakar. Beberapa orang itu adalah tindakan pembalasan ilahi atas pembakaran Enryakuji. Putra Nobunaga dan pewaris terpilih, Nobutada, meninggal dalam bencana yang sama.

Kematian Nobunaga akan dibalaskan dengan cepat ketika jenderal utamanya Totoyomi Hideyoshi mengalahkan Mitsuhide di Pertempuran Yamazaki dan menyatakan dirinya sebagai penerus Nobunaga.

Hideyoshi akan melanjutkan rencana Naobunaga untuk menyatukan Jepang, sebuah proses yang akhirnya tidak selesai.

Lalu, diteruskan melalui pemerintahan berikutnya, yaitu di bawah Tokugawa Ieyasu, yang mendirikan Keshogunan Tokugawa dari 1603 yang akhirnya memberi Jepang sekitar 250 tahun perdamaian. Seperti kata pepatah Jepang kuno, "Nobunaga mencampur adonan kue, Hideyoshi memanggangnya, dan Ieyasu memakannya."

Baca juga: Toyotomi Hideyoshi: Anak Petani yang Menyatukan Jepang pada Abad ke-16

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.