Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bagaimana Sejarah Palestina?

Kompas.com - 18/05/2021, 18:15 WIB
Shintaloka Pradita Sicca

Penulis

Sumber History

Sayangnya, Kesepakatan Oslo gagal mencapai tujuan akhir mereka untuk membawa Israel dan Palestina menyetujui rencana perdamaian yang matang.

Intifada II

Pada September 2000, Intifada Palestina II dimulai. Salah satu pemicu kekerasan tersebut adalah ketika Ariel Sharon, seorang sayap kanan Yahudi Israel yang kemudian menjadi perdana menteri Israel, mengunjungi situs suci Muslim di Masjid al-Aqsa di Yerusalem.

Banyak orang Palestina merasa ini adalah langkah ofensif, dan mereka memprotes.

Kerusuhan, bom bunuh diri, dan serangan lainnya kemudian meletus, mengakhiri proses perdamaian yang dulu menjanjikan.

Periode kekerasan antara Palestina dan Israel ini berlangsung hampir 5 tahun. Yasser Arafat meninggal pada November 2004, dan pada Agustus 2005, tentara Israel mundur dari Gaza.

Baca juga: Bocah Palestina Ini Menangis Melihat Rumahnya Hancur oleh Serangan Israel

Hamas

Pada 2006, Hamas, kelompok militan Islam Sunni, memenangkan pemilihan legislatif Palestina.

Pada tahun yang sama, pertempuran antara Hamas dan Fatah, kelompok politik yang mengendalikan PLO, pun terjadi.

Pada 2007, Hamas mengalahkan Fatah dalam pertempuran di Gaza.

Banyak negara menganggap Hamas sebagai organisasi teroris. Kelompok itu telah melakukan bom bunuh diri dan berulang kali menyerukan penghancuran Israel.

Hamas dan Israel berperang satu sama lain dalam beberapa perang berdarah, termasuk Operation Cast Lead pada Desember 2008, Operation Pillar of Defense pada November 2012, dan Operation Protective Edge pada Juli 2014.

Pada April 2014, Hamas dan Fatah menyetujui kesepakatan yang akan membentuk pemerintah nasional Palestina yang bersatu.

Palestina saat ini

Palestina masih memperjuangkan negara yang secara resmi diakui oleh semua negara.

Meskipun orang Palestina menempati wilayah Tepi Barat dan Jalur Gaza, beberapa orang Israel, dengan restu pemerintah mereka, terus menetap di wilayah yang secara umum disepakati berada di bawah kendali Palestina tersebut.

Banyak kelompok hak asasi internasional menganggap permukiman semacam itu ilegal, perbatasan tidak ditentukan dengan jelas, dan konflik yang terus-menerus berlangsung.

Sebagian besar orang Israel juga menentang permukiman tersebut dan lebih memilih menemukan cara damai untuk menyelesaikan sengketa tanah mereka dengan Palestina.

Pada Mei 2017, para pemimpin Hamas mempresentasikan dokumen yang mengusulkan pembentukan negara Palestina menggunakan perbatasan yang ditentukan pada 1967, dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya.

Namun, Hamas menolak untuk mengakui Israel sebagai sebuah negara, dan pemerintah Israel segera menolak rencana tersebut.

Pada Mei 2018, ketegangan meletus ketika Kedutaan Besar AS pindah dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Melihat ini sebagai sinyal dukungan Amerika untuk Yerusalem sebagai ibu kota Israel, warga Palestina menanggapi dengan protes di perbatasan Gaza-Israel, yang disambut dengan kekuatan Israel yang mengakibatkan kematian puluhan pengunjuk rasa.

Hingga saat ini, masih banyak masyarakat Palestina mengalami pertumpahan darah, pengungsian, dan ketidakstabilan. Sementara, banyak pemimpin dunia terus bekerja menuju resolusi yang akan menghasilkan perdamaian antara Palestina dan Israel.

Baca juga: Konflik Israel-Palestina: Kenapa Gaza Tampak Kabur di Google Maps?

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Sumber History


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com