Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Holodomor, Bencana Kelaparan akibat Kebijakan Stalin yang Tewaskan 3,9 Juta Warga Ukraina

Kompas.com - 26/01/2024, 11:00 WIB
Egidius Patnistik

Penulis

Penduduk Lenyap

Hasil akhir dari kampanye kolektivisasi Stalin itu adalah sebuah bencana dasyat. Pada musim semi 1933 angka kematian di Ukraina melonjak. Dari tahun 1931-1934, setidaknya lima juta orang meninggal karena kelaparan di seluruh Uni Soviet. Menurut penelitian yang dilakukan tim ahli demografi Ukraina, dari jumlah itu 3,9 juta orang adalah warga Ukraina.

Arsip polisi pada masa itu berisi banyak deskripsi tentang kejadian kanibalisme serta pelanggaran hukum, pencurian, dan hukuman mati tanpa pengadilan. Kuburan massal digali di daerah pedesaan.

Kelaparan juga berdampak pada penduduk perkotaan, meski banyak yang mampu bertahan hidup berkat kartu ransum (semacam kartu jatah sembako). Namun, di kota-kota terbesar Ukraina, mayat terlihat di jalanan.

Kelaparan itu juga disertai serangan yang lebih luas terhadap identitas Ukraina. Ketika jutaan petani mati, agen-agen polisi rahasia Soviet menyasar kelompok politik dan intelektual Ukraina.

Kelaparan itu menutupi aksi penindasan dan penganiayaan yang dilakukan terhadap budaya Ukraina dan para pemimpin agama Ukraina. Kebijakan Ukrainaisasi, yang mendorong penggunaan bahasa Ukraina, secara efektif terhenti.

Selain itu, siapapun yang memiliki hubungan dengan Republik Rakyat Ukraina, sebuah pemerintahan independen yang dideklarasikan pada Juni 1917 setelah Revolusi Februari namun dibubarkan setelah kaum Bolshevik menaklukkan wilayah Ukraina, menjadi sasaran pembalasan yang kejam.

Semua orang yang menjadi sasaran kampanye itu difitnah di depan umum, dipenjara, dikirim ke Gulag (sistem penjara dan kamp kerja paksa Soviet), atau dieksekusi.

Ketika kelaparan itu melanda, berita mengenai hal tersebut dibungkam para birokrat Soviet. Pejabat partai tidak menyebutkannya di depan umum. Jurnalis Barat yang berbasis di Moskwa diinstruksikan untuk tidak menulis tentang hal itu.

Baca juga: Sering Dikira Sama, Ini Perbedaan Uni Soviet dan Rusia

Stalin sendiri kemudian bertindak lebih jauh lagi dengan memberangus hasil sensus yang dilakukan tahun 1937. Para penyelenggara sensus itu ditangkap dan dibunuh, sebagian karena angka-angka sensus menunjukkan berkurangnya populasi Ukraina.

Bencana kelaparan itu sempat dibahas pada masa pendudukan Nazi di Ukraina pada Perang Dunia II. Namun hal itu kembali menjadi tabu untuk dibahas pada tahun-tahun pasca-perang. Kasus itu pertama kali diungkap di hadapan publik Uni Soviet tahun 1986, setelah bencana pembangkit listrik bertenaga nuklir Chernobyl. Bencana Chernobyl itu pun awalnya hendak dirahasiakan otoritas Soviet.

Genosida

Bencana kelaparan tersebut sangat mematikan. Namun secara resmi hal itu disangkal Kremlin selama lebih dari setengah abad. Walau demikian, masyarakat Ukraina memiliki ingatan yang kuat tentang tragedi yang traumatis itu.

Penyair Ukraina, Ivan Drach, orang pertama yang berbicara secara terbuka tentang kelaparan tersebut tahun 1986, setelah bencana Chernobyl. Ia mengutipnya sebagai contoh betapa sikap diam pejabat dapat berdampak buruk.

Soviet kemudian runtuh dan Ukraina menjadi negara merdeka. Rakyatnya mulai membuka kasus itu. Monumen untuk memperingati Holodomor telah didirikan Pemerintah Ukraina. Hari Peringatan Holodomor diperingati di seluruh dunia pada hari setiap Sabtu keempat November.

Pada tahun 2019, sebanyak 16 negara, termasuk Vatikan, mengakui Holodomor sebagai genosida. Kongres Amerika Serikat (AS) mengeluarkan resolusi yang menyatakan bahwa “Joseph Stalin dan orang-orang di sekitarnya melakukan genosida terhadap warga Ukraina pada tahun 1932-1933.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com