Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Alasan Kenapa Lebih Banyak Orang Asia-Amerika Bersenjata Api di AS

Kompas.com - 16/11/2023, 15:53 WIB
Aditya Jaya Iswara

Editor

LOS ANGELES, KOMPAS.com - Toko senjata David Liu terlihat tidak mencurigakan dari luar. Terletak di bagian belakang mal di Arcadia, dekat Los Angeles (LA), Liu tetap memasang papan nama restoran sushi. Dia melakukan ini sebagai bentuk waspada.

Liu memasang brosur yang menawarkan kelas lisensi Carry Concealed Weapons (CCW) dalam bahasa Mandarin dan Inggris, ditempel di bawah bendera Trump 2020, anggrek, dan ikan hias.

Sekitar setengah dari pelanggannya adalah orang Asia, yang kebanyakan orang China, dan melakukan transaksi dalam bahasa Mandarin.

Baca juga: Kenapa di Amerika Sering Terjadi Penembakan Saat Musim Panas? Ini 3 Sebabnya

Di tokonya, banyak pelanggan yang sudah seperti teman. Pelanggan tetap datang untuk mengikuti beberapa sesi pelatihan, pengurusan dokumen, atau sekadar mengobrol.

Beberapa dari mereka adalah pemilik senjata baru. Rasa takut akan meningkatnya ancaman kekerasan dan kejahatan rasial, yang meningkat lebih dari 330 persen antara tahun 2020 dan 2021, menurut laporan Pusat Studi Kebencian dan Ekstremisme yang diterbitkan pada 2022, mendorong mereka memiliki senjata api.

Arcadia adalah kawasan yang didominasi orang Asia, jaraknya hanya beberapa menit dari Monterey Park, lokasi penembakan massal yang mematikan setelah Festival Tahun Baru Imlek tahun ini.

David Liu adalah pemilik Arcadia Firearm & Safety di California.DW/LEAH CARTER via DW INDONESIA David Liu adalah pemilik Arcadia Firearm & Safety di California.
Demografi kepemilikan senjata

Warga Asia-Amerika biasanya memiliki tingkat kepemilikan terendah dibandingkan demografi terukur lainnya di Amerika Serikat (AS). Namun, terjadi peningkatan pesat kepemilikan senjata api sebesar 43 persen antara tahun 2019 dan 2020, tepatnya sejak pandemi.

Wabah Covid-19 dilaporkan mendorong masyarakat untuk "mengkambinghitamkan" orang-orang Asia di AS. Kejahatan seperti perampokan juga meningkat dalam beberapa tahun terakhir, menyusul pandemi dan kenaikan biaya hidup yang pesat.

Liu mengatakan bahwa di wilayah LA, orang-orang China terkadang menjadi sasaran kekerasan baik di depan umum maupun di rumah mereka karena stereotipe bahwa mereka menyimpan uang tunai dalam jumlah besar.

"Situasinya semakin buruk,” kata Ray Gong (27), salah satu pelanggan Liu. "Saya baru saja keluar dari militer baru-baru ini dan mendengar beritanya, pikiran saya berubah."

Gong tiba di AS pada 2016 dari Hangzhou, selatan Shanghai. Dia membeli pistol pertamanya pada Agustus lalu dan dua senjata api lainnya pada September, dengan maksud untuk "siap menghadapi apa pun".

Meski dia belum pernah mengalami kekerasan terkait etnisnya, Gong mengalami diskriminasi di militer, di mana dia dilarang mengambil jabatan yang lebih tinggi karena dia adalah orang Tionghoa dan sering kali diberikan pekerjaan yang tidak diinginkan orang lain.

Dia juga sedang dalam proses mendapatkan CCW-nya, yang biasanya memakan waktu lebih dari enam bulan di California. "Saya berpikir untuk membawanya (pistol) sepanjang waktu."

Dalam survei Public Policy Institute of California tahun lalu, dua pertiga warga California mengatakan mereka melihat kejahatan sebagai masalah serius.

"Semua orang (bukan hanya orang Asia-Amerika) membeli lebih banyak senjata,” kata Liu. "Orang-orang takut.”

Halaman:


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com