Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Unit 731, Eksperimen Senjata Biologis Jepang Selama Perang Dunia II

Kompas.com - 19/09/2021, 08:22 WIB
Shintaloka Pradita Sicca

Penulis

Pada 1942, Unit 731 menginfeksi sumber air di provinsi Zhejiang dengan kolera dan tipus, tetapi mereka segera berhenti karena wabah itu di luar kendali, menewaskan lebih dari 1700 tentara Jepang bersama dengan target China yang dituju.

Pada 4 Oktober 1940, Jepang meluncurkan bom berisi 30.000 kutu penghisap darah yang telah diuji coba di tahanan Unit 731, ke atas kota Quzhou di China.

Saksi hidup serangan itu mengingat debu kemerahan halus menempel di permukaan di seluruh kota, diikuti oleh ruam gigitan kutu yang menyakitkan yang menimpa hampir semua orang.

Dari catatan kontemporer, diketahui bahwa lebih dari 2.000 warga sipil meninggal di Quzhou, provinsi Zhejiang, China karena serangan wabah kutu Unit 731 itu.

Sekitar 1.000 lainnya meninggal di dekat kota Yiwu, provinsi Zhejiang, China setelah wabah Unit 731 dibawa ke sana oleh pekerja kereta api yang sakit dari sana Quzhou.

Serangan senjata biologis Unit 731 lainnya menggunakan antraks, yang menewaskan sekitar 6.000 orang lagi di daerah provinsi Zhejiang.

Baca juga: 6 Kisah Misteri Harta Karun Peninggalan Perang Dunia II

Serangan Unit 731 ke Amerika Serikat

Pada akhir 1944 dan awal 1945, Jepang menerbangkan ribuan balon pembakar melintasi Pasifik dengan tujuan melakukan pembakaran hujan besar-besar di sepanjang West Coast. Untungnya, hanya beberapa yang mendarat.

Meskipun pemerintah AS tidak merilis laporan itu selama Perang Dunia II, ada laporan tentang balon bom yang menewaskan 6 orang di Oregon karena seorang secara tidak sengaja meledakkannya.

Menurut laporan, mantan perdana menteri Jepang bernama Hideki Tojo dengan keras menentang perang senjata biologis melawan AS pada pertengahan 1944.

Namun, banyak jenderal militer Jepang yang mendorong serangan semacam itu.

Laporan New York Times menyatakan bahwa ketika Amerika Serikat bersiap untuk menyerang pulau Saipan, di Kepulauan Mariana Utara pada 1944, tentara Jepang telah mengirim kapal selam berisi senjata biologis, tetapi kapal selam itu sudah tenggelam dulu di Pasifik.

Saat Jepang hampir di ambang kekalahan, sebuah rencana putus asa dibuat untuk menyerang California, dengan kode nama "Cherry Blossoms At Night".

"Cherry Blossoms At Night", sebuah rencana serangan kutu yang terinfeksi wabah yang dibawa kamikaze (pasukan penerbang bunuh diri) untuk menabrak aset Amerika di San Diego.

San Diego saat Perang Dunia II adalah rumah dari pangkalan udara besar dan halaman perperbaikan angkatan laut utama Amerika.

Melansir We Are The Mighty, serangan itu ditetapkan pada 22 September 1945. Tidak diketahui, apakah rencana serangan kutu itu lantas pernah berjalan.

Sebab, Jepang telah menyerah kepada sekutu.

Akhir dari Unit 731

Pada Agustus 1945, setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom Amerika, Tentara Soviet telah menginvasi Manchuria dan memusnahkan Tentara Jepang, Jepang menyerah pada Sekutu.

Kaisar Jepang Hirohito membacakan pernyataan menyerahnya yang terkenal melalui radio, "Siaran Suara Kaisar" atau Gyokuon-hoso, Unit 731 secara resmi dibubarkan.

Pada saat itulah, para ilmuwan menghancurkan bukti-bukti kebiadaban eksperimen Unit 731.

Namun menurut laporan, beberapa hewan uji yang terinfeksi dilepaskan, dan diyakini sebagai akibatnya setidaknya 30.000 orang meninggal karena wabah di daerah Pingfang dalam 3 tahun pertama setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Sesuai laporan pada 1945, Jenderal AS Douglas McArthur yang telah menerima data intelijen tentang pekerjaan Unit 731 dari dokumen rahasia, kemudian memberikan Shiro Ishi dan rekan-rekannya kekebalan dari penuntutan, dengan imbalan dokumen ilmiah mereka.

Melansir We Are The Mighty, dokumen rahasia Unit 731 didapatkan Douglas McArthur melalui "Operation Paperclip", setelah akhir Perang Dunia II.

Operation Paperclip adalah sebuah program rahasia Joint Intelligence Objectives Agency (JIOA) yang dilaksanakan oleh agen khusus CIC untuk mengumpulkan dan merekrut ilmuwan dan insinyur sebagian besar dari Jerman yang berjumlah sekitar 1.600 orang, yang terjadi antara tahun 1945 dan 1959 oleh Amerika Serikat.

Melalui Operation Paperclip tersebut para ilmuwan Unit 731 diberi kekebalan dari penuntutan, dan kekejaman mereka ditutup-tutupi dengan imbalan akses eksklusif ke temuan eksperimen Unit 731 selama Perang Dunia II.

Banyak anggota Unit 731 ditangkap oleh Tentara Merah Soviet dan diadili di Pengadilan Kejahatan Perang Khabarovsk.

Pada 2017, penyiar nasional Jepang NHK telah merilis sebuah film dokumenter yang merinci kekejaman Unit 731. Film dokumenter seketika menyebabkan kegemparan besar di Jepang pada waktu itu.

Baca juga: 6 Penemuan Penting Masa Perang Dunia II, dari Vaksin hingga Radar

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Baca tentang
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com