Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Taliban Kuasai Afghanistan, Patutkah Indonesia Khawatir Akan Potensi Teror?

Kompas.com - 17/08/2021, 18:35 WIB
Ardi Priyatno Utomo

Editor

Untuk itu, Taufik melihat, hingga kini belum ada potensi ancaman teror di Indonesia akibat kebangkitan Taliban, terutama berasal dari JI.

Baca juga: Kenapa Amerika Meninggalkan Afghanistan sehingga Taliban Merajalela? Begini Ceritanya...

Ditambah lagi, ujarnya, aparat keamanan melakukan penangkapan secara besar-besaran anggota JI yang melemahkan dan mereduksi ancaman mereka.

"Semua pemimpinnya ditangkap sepanjang tiga tahun terakhir, saat ini JI cukup lemah, jadi potensi atau kesempatan untuk melakukan serangan saya kira cukup kecil," tambahnya.

Walaupun demikian, menurut Kepala Program Studi Kajian Terorisme Universitas Indonesia, Muhamad Syauqillah, kebangkitan Taliban berpotensi memberikan inspirasi bagi jaringan radikal di Indonesia.

Hal ini berdasarkan pengalaman sebelumnya di mana gerakan terorisme di Indonesia mendapat dorongan dari luar, seperti jaringan al-Qaeda dan ISIS.

"Jadi, selalu mereka terpesona dengan Islam transnasional, atau kemudian fenomena yang terjadi di luar negeri yang juga mereka mengupayakan juga terjadi di Indonesia. Ini yang perlu kita antisipasi ke depan," kata Syauqillah.

Ia juga mengemukakan, aksi Taliban di Afghanistan tak bisa serta merta ditiru di Indonesia, karena "peredaran senjata itu tidak ada. Jadi tidak sebesar Taliban".

Baca juga: Taliban Umumkan Amnesti Massal untuk Pegawai Pemerintah Afghanistan

Apa yang harus dilakukan pemerintah Indonesia?

Senada, Taufik meminta pemerintah untuk mengawasi glorifikasi kemenangan Taliban di Indonesia.

"Jangan sampai menjadi inspirasi, malah kelompok-kelompok di Indonesia melakukan konsolidasi, bahkan mencoba strategi perjuangan Taliban," ujarnya.

Untuk itu, seperti kata Nasir Abbas, aparat keamanan harus terus aktif melakukan antisipasi dengan cara menangkap anggota-anggota JI, ISIS dan afiliasinya.

"Dan perbanyak deradikalisasi agar kelompok jihadi bisa saling mengingatkan dan mencegah tidak terlibat konflik di luar," katanya.

Baca juga: Kenapa Taliban Tidak Membantu Palestina dan Tak Menyerang Israel?

Bagaimana hubungan JI, Al-Qaeda dan Taliban terjalin?

Nasir Abbas adalah mantan anggota JI yang sempat mendapatkan pelatihan militer di Afghanistan dari tahun 1987-1993. Saat ia di sana, belum ada namanya Taliban.

Menurut Nasir, Taliban muncul sekitar tahun 1993/1994 akibat ketidakpuasan masyarakat lokal atas pemerintahan saat itu.

Dalam aksi awalnya, Taliban menyerang semua kelompok di luarnya, termasuk kelompok terorisme Al-Qaeda, orang Arab, pemerintah dan warga asing lainnya.

"Mereka menyerang, menyita barang-barang, senjata, amunisi dan semuanya di kamp saya di Afganistan, termasuk Osama Bin Laden yang lari ke Sudan" kata Nasir.

Taliban menguasai pemerintah Afghanistan pada tahun 1996. Kemudian, Taliban melunak kepada kelompok teroris Al-Qaeda karena Osama Bin Laden.

Baca juga: Siapa Taliban dan Mengapa Ingin Menguasai Afghanistan?

Afghanistan pun jadi "surga" pelatihan militer kelompok Al-Qaeda pada sekitar tahun 1997-1998, termasuk afiliasinya yaitu Jamaah Islamiyah dari Indonesia.

"Orang-orang ke Afghanistan bukan karena Taliban, tapi karena Osama Bin Laden," katanya.

Hubungan JI dengan Taliban tidak terjalin secara langsung, melainkan lewat proksi kelompok Al-Qaeda.

Taliban menguasai pemerintahaan hingga tahun 2001 sebelum akhirnya dijatuhkan oleh Amerika Serikat dengan sekutu atas tuduhan melindungi Osama Bin Laden - yang terlibat dalam serangan Menara kembar WTC, New York pada 11 September 2001.

Kematian Osama Bin Laden dan jatuhnya Afghanistan ke tangan Barat, menyebabkan Al-Qaeda dan Taliban terpukul serta hubungan pun terputus.

Namun, kejatuhan tersebut tak lantas menghilangkan JI. Hingga kini kelompok itu masih ada dan terus bergerak di Indonesia.

Halaman Berikutnya
Halaman:


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com