Kompas.com - 10/09/2021, 05:14 WIB
Inilah wajah Alexander Agung menurut mosaik lantai yang dibuat pada sekitar tahun 100 SM yang ditemukan di sebuah rumah di Pompeii, Italia. Mosaik ini menceritakan pertempuran antara Alexander Agung dan Raja Persia Dsrius III. Mosaik ini diyakini merupakan salinan dari lukisan Yunani dari awal abad ke-3 SM, kini disimpan di Museum Napoli. WikipediaInilah wajah Alexander Agung menurut mosaik lantai yang dibuat pada sekitar tahun 100 SM yang ditemukan di sebuah rumah di Pompeii, Italia. Mosaik ini menceritakan pertempuran antara Alexander Agung dan Raja Persia Dsrius III. Mosaik ini diyakini merupakan salinan dari lukisan Yunani dari awal abad ke-3 SM, kini disimpan di Museum Napoli.

KOMPAS.com - Alexander Agung adalah Raja Makedonia kuno yang berkuasa dari 336 hingga 323 SM.

Selama menjadi pemimpin Makedonia, ia menyatukan Yunani, membangun kembali Liga Korintus, dan menaklukkan Kekaisaran Persia.

Liga Korintus atau kadang disebut Liga Helenik, adalah sebuah federasi negara di Yunani, untuk memfasilitasi dalam menggunakan kekuatan militer terkait perangnya melawan Persia.

Ia mendirikan lebih dari 70 kota selama 13 tahun pemerintahannya, contohnya Persia, Asia Kecil, dan Makedonia.

Kehebatannya mengilhami keberanian dan kesetiaan pasukannya, ia mengadopsi banyak kebiasaan dan tradisi asing untuk memerintah jutaan rakyatnya.

Bagaimana sejarah hidup Alexander yang Agung? Berikut ringkasannya yang dilansir dari Biography.

Baca juga: 10 Pemimpin Terhebat dalam Sejarah Peradaban Dunia dari Alexander Agung hingga Raja Tut

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Alexander muda

Alexander yang Agung lahir di wilayah Pella, kerajaan Yunani Kuno Makedonia pada 20 Juli 356 SM, dari orangtua Raja Philip II dari Makedonia, dan Ratu Olympia, putri Raja Neoptolemus.

Pangeran muda dan saudara perempuannya dibesarkan di istana kerajaan Pella oleh Ratu Olympia.

Alexander muda tumbuh dengan hampir tidak pernah melihat ayahnya, yang menghabiskan sebagian besar waktunya terlibat dalam kampanye militer dan urusan lain di luar, tidak memedulikan keluarganya.

Sekalipun Ratu Olympia menjadi panutan yang kuat untuk anak-anaknya, tetap saja Alexander sangat kecewa dengan ayahnya. Ia tumbuh untuk membenci ketidakhadiran ayahnya dan perselingkuhannya.

Alexander menerima pendidikan paling awal di bawah pengawasan ketat kerabatnya, Leonidas dari Epirus.

Leonidas, yang telah dipekerjakan oleh Raja Phillip, mengajar Alexander matematika, menunggang kuda, dan memanah. Ia merasakan tidak mudah untuk mengendalikan muridnya ini yang suka memberontak.

Tutor Alexander berikutnya adalah Lysimachus, yang menggunakan permainan peran untuk menarik perhatian anak laki-laki yang bermata gelap dan berambut keriting yang suka gelisah itu.

Alexander sangat senang menyamar sebagai prajurit Achilles.

Pada 343 SM, Raja Philip II meminta filsuf Aristoteles untuk mengajar Alexander di Kuil Nimfa di Meiza. Selama tiga tahun, Aristoteles mengajar Alexander dan beberapa temannya tentang filsafat, puisi, drama, sains, dan politik.

Melihat bahwa puisi Yunani kuno "Iliad" karya Homer mengilhami Alexander untuk bermimpi menjadi seorang pejuang heroik, Aristoteles membuat versi ringkasan dari buku tebal tersebut untuk dibawa oleh Alexander dalam kampanye militer.

Alexander menyelesaikan pendidikannya di Meiza pada 340 SM. Setahun kemudian, saat masih remaja, ia menjadi tentara dan memulai ekspedisi militer pertamanya, melawan suku Thracian.

Pada 338 SM, Alexander mengambil alih Kavaleri Pendamping dan membantu ayahnya mengalahkan tentara Athena dan Theban di Chaeronea.

Setelah Philip II berhasil dalam kampanyenya untuk menyatukan semua negara Yunani (minus Sparta) ke dalam Liga Korintus, hubungan antara ayah dan anak ini segera hancur.

Philip menikahi Cleopatra Eurydice, keponakan Jenderal Attalus, dan menyingkirkan ibu Alexander, Ratu Olympia.

Alexander dan Olympia terpaksa pergi dari Makedonia dan tinggal bersama keluarga Ratu Olympia di Epirus sampai Alexander dan Raja Philip II dapat mendamaikan perbedaan mereka.

Baca juga: Sosok Mullah Hasan Akhund, Pemimpin Sementara Afghanistan Era Taliban

Raja Makedonia

Pada 336 SM, saudara perempuan Alexander menikah dengan raja Molossia, seorang paman yang juga dipanggil Alexander. Selama festival pernikahan itu, Raja Philip II dibunuh di tangan Pausanias, seorang bangsawan Makedonia.

Setelah kematian ayahnya, Alexander, yang saat itu berusia 19 tahun, bertekad untuk merebut takhta dengan cara apa pun yang diperlukan. Dia dengan cepat mengumpulkan dukungan dari tentara Makedonia, termasuk jenderal dan pasukan yang pernah dia lawan di Chaeronea.

Para tentara kemudian memproklamirkan Alexander sebagai raja feodal dan melanjutkan untuk membantunya membunuh calon pewaris takhta lainnya.

Sementara ibunya yang setia, Ratu Olympia, berusaha untuk memastikan kemenangan putranya dengan putri Raja Philip II bersama Cleopatra, dan mendorong ia untuk bunuh diri.

Meskipun Alexander adalah raja feodal Makedonia, tetapi tidak serta-merta dia mendapatkan kontrol otomatis dari Liga Korintus.

Negara bagian selatan Yunani merayakan kematian Philip II dan menyatakan kepentingan yang terbagi. Sementara Athena, memiliki agendanya sendiri, yaitu untuk mengambilalih liga di bawah kepemimpinan Demosthenes.

Saat mereka meluncurkan gerakan kemerdekaan, Alexander Agung mengirim pasukannya ke selatan dan memaksa wilayah Thessaly untuk mengakui dia sebagai pemimpin Liga Korintus.

Kemudian selama pertemuan anggota liga di Thermopylae, Alexander memperoleh penerimaan mereka atas kepemimpinannya.

Pada musim gugur 336 SM, dia menerbitkan kembali perjanjian dengan negara kota Yunani yang tergabung dalam Liga Korintus, yang mana ia diberikan kekuatan militer penuh dalam kampanye melawan Kekaisaran Persia. Namun, pada saat itu Athena masih menolak keanggotaan.

Namun, sebelum mempersiapkan perang dengan Persia, Raja Makedonia ini pertama-tama menaklukkan Tribalia Thrakia pada 335 SM, mengamankan perbatasan utara Makedonia.

Sebelum mempersiapkan perang dengan Persia, Alexander pertama-tama menaklukkan Tribalia Thrakia pada 335 SM, mengamankan perbatasan utara Makedonia.

Baca juga: Profil Pemimpin Dunia: Uhuru Kenyatta, Presiden Kenya

Kampanye militer dan penaklukan

Saat Alexander mendekati akhir kampanyenya di utara, dia mendapat kabar bahwa Thebes, sebuah negara kota Yunani, memaksa keluar dari pasukan Makedonia yang ditempatkan di sana.

Khawatir akan terjadi pemberontakan di antara negara-kota lainnya, Alexander segera menggiring pasukan besar, terdiri dari 3.000 kavaleri dan 30.000 infanteri ke selatan sampai ke ujung semenanjung Yunani.

Sementara itu, jenderal Alexander Agung, Parmenion, sudah pergi ke Asia Kecil.

Alexander dan pasukannya tiba di Thebes begitu cepat, sehingga negara kota tidak memiliki kesempatan untuk mengumpulkan sekutu untuk pertahanannya. Tiga hari setelah kedatangannya, Alexander memimpin pembantaian Thebes.

Tujuan Raja Makedonia ini menghancurkan Thebes adalah untuk menjadi pesan peringatan bagi negara-kota yang berniat untuk memberontak.

Taktik intimidasi Alexander terbukti efektif, negara-kota Yunani lainnya, termasuk Athena, memilih untuk bersekutu dengan Kekaisaran Makedonia atau memilih untuk tetap netral.

Pada 334 SM, Alexander memulai ekspedisi Asiatiknya, tiba di Troy pada musim semi itu. Alexander kemudian menghadapi pasukan Raja Persia Darius III di dekat Sungai Grancius dan dengan cepat mereka dikalahkan.

Pada musim gugur, Alexander Agung dan pasukannya telah berhasil melintasi pantai selatan Asia Kecil menuju Gordium, di mana mereka beristirahat pada musim dingin.

Pada musim panas 333 SM, pasukan Alexander dan Darius sekali lagi terlibat berperang di Issus. Meskipun tentara Alexander kalah jumlah, sang raja Mekodonia menggunakan kemampuan strategi militer untuk menciptakan formasi yang mengalahkan Persia lagi dan menyebabkan Darius melarikan diri.

Pada November 333 SM, Raja Makedonia ini menyatakan dirinya juga sebagai Raja Persia setelah menangkap Darius dan menjadikannya buronan.

Dengan runtuhnya tentara Persia, Alexander menjadi "Raja Babilonia, Raja Asia, Raja Empat Perempat Dunia."

Baca juga: Profil Pemimpin Dunia: Kim Jong Un, Presiden Korea Utara

Agenda kampanye militer Alexander Agung selanjutnya adalah untuk menaklukkan Mesir.

Setelah mengepung Gaza dalam perjalanannya ke Mesir, Alexander dengan mudah mencapai penaklukannya, Mesir jatuh tanpa perlawanan.

Pada 331 SM, ia menciptakan kota Alexandria, yang dirancang sebagai pusat budaya dan perdagangan Yunani.

Penaklukan Alexander berikutnya adalah Iran timur, di mana ia menciptakan koloni Makedonia, dan pada 327 SM merebut benteng di Ariamazes.

Setelah menangkap Pangeran Oxyartes, Alexander menikahi putri pangeran, Rhoxana.

Pada 328 SM, Alexander mengalahkan pasukan Raja Porus di India utara. Namun, ia terkesan oleh Porus, yang membuatnya mengembalikan Porus sebagai raja dan memenangkan kesetiaan dan pengampunannya.

Alexander melanjutkan penyerangan ke Gangga, tetapi batal karena pasukannya menolak untuk maju lebih jauh. Dalam perjalanan mereka kembali di sepanjang Indus, Alexander terluka oleh prajurit Malli.

Pada 325 SM, setelah Alexander pulih, dia dan pasukannya menuju utara di sepanjang Teluk Persia yang terjal. Di sana banyak pasukannya yang tumbang karena penyakit dan cedera. Pada 324 SM, Alexander akhirnya mencapai kota Susa.

Putus asa untuk mempertahankan kepemimpinannya dan merekrut lebih banyak tentara baru, ia mencoba menghubungkan bangsawan Persia dengan Makedonia untuk menciptakan kelas penguasa.

Di Susa, dia memerintahkan agar sejumlah besar orang Makedonia menikahi putri-putri Persia.

Setelah Alexander berhasil merekrut puluhan ribu tentara baru Persia ke dalam pasukannya, dia memecat banyak tentara Makedonia yang ada.

Hal ini membuat marah para prajurit, yang mengkritik pasukan baru Alexander, dan mengutuknya, karena mengadopsi kebiasaan dan tata krama Persia.

Alexander menenangkan tentara Makedonia dengan membunuh 13 pemimpin militer Persia. Pesta Thanksgiving kemudian diadakan di Susa, yang telah diarahkan untuk memperkuat ikatan antara Persia dan Makedonia, yang memiliki unsur yang sangat berlawanan.

Akhir hayat Alexander Agung

Saat berencana menaklukkan Kartago dan Roma, Alexander Agung yang saat itu berada di Babilonia (sekarang Irak) menghebuskan napas terakhir karena malaria.

Ia meninggal pada 13 Juni 323 SM di usia yang masih muda, 32 tahun. Beberapa bulan kemudian, Rhoxana melahirkan putranya.

Setelah Alexander meninggal, kerajaannya runtuh dan negara kota di dalamnya berebut kekuasaan.

Seiring waktu, budaya Yunani dan Timur berasimilasi dan berkembang sebagai efek samping dari strategi kekuasaan Alexander, menjadi bagian dari warisan dan menyebarkan semangat Panhellenisme, suatu ide dan cita-cita untuk mempersatukan bangsa Yunani.

Baca juga: Profil Pemimpin Dunia: Elizabeth II, Ratu Inggris

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Evolusi Pakaian Golf di Seluruh Dunia

Evolusi Pakaian Golf di Seluruh Dunia

Internasional
Alasan Golf Disebut Olahraga Mahal dan Cara Menyiasatinya

Alasan Golf Disebut Olahraga Mahal dan Cara Menyiasatinya

Internasional
Apa Turnamen Sepak Bola Tertua di Dunia?

Apa Turnamen Sepak Bola Tertua di Dunia?

Internasional
4 Turnamen Utama Golf Dunia

4 Turnamen Utama Golf Dunia

Internasional
Sejarah Golf: Berawal di Skotlandia ke Seluruh Dunia

Sejarah Golf: Berawal di Skotlandia ke Seluruh Dunia

Internasional
Berakhirnya Perang Dingin, Ditandai Runtuhnya Uni Soviet pada 1991

Berakhirnya Perang Dingin, Ditandai Runtuhnya Uni Soviet pada 1991

Internasional
Biografi Richard Nixon, Presiden Ke-37 AS yang Mundur Sebelum Dimakzulkan karena Skandal

Biografi Richard Nixon, Presiden Ke-37 AS yang Mundur Sebelum Dimakzulkan karena Skandal

Internasional
Kapan FIFA Didirikan dan Siapa Pendirinya?

Kapan FIFA Didirikan dan Siapa Pendirinya?

Internasional
Bagaimana Sejarah Sepak Bola Jadi Olahraga Mendunia?

Bagaimana Sejarah Sepak Bola Jadi Olahraga Mendunia?

Internasional
Sejarah Shuttlecock dalam Permainan Badminton

Sejarah Shuttlecock dalam Permainan Badminton

Internasional
Sejarah Sistem Poin Badminton dari 1877-Sekarang

Sejarah Sistem Poin Badminton dari 1877-Sekarang

Internasional
Sejarah BWF, Induk Bulu Tangkis Dunia dari Proses Unifikasi

Sejarah BWF, Induk Bulu Tangkis Dunia dari Proses Unifikasi

Internasional
Peraturan dan Teknik Dasar Badminton, Tak Boleh Asal Pukul

Peraturan dan Teknik Dasar Badminton, Tak Boleh Asal Pukul

Internasional
Sejarah Badminton, Dimainkan Sejak Ribuan Tahun Lalu

Sejarah Badminton, Dimainkan Sejak Ribuan Tahun Lalu

Internasional
Sejarah Chichen Itza, Kota dari Peradaban Suku Maya di Yucatan

Sejarah Chichen Itza, Kota dari Peradaban Suku Maya di Yucatan

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.