Kompas.com - 15/07/2021, 10:05 WIB

Pertempuran itu membuat Armada Bendera Merah menjadi lemah dan sulit bagi Ching Shih untuk melanjutkan bisnis bajak lautnya.

Setelah 3 tahun terkenal di laut lepas dan kalah dalam Pertempuran Mulut Harimau, Ching Shih akhirnya pensiun pada 1810 dengan menerima tawaran amnesti dari pemerintah China, yang memungkinkan dia dan Cheung Po Tsai untuk menyerah dan mempertahankan kekayaan yang diperoleh dari pembajakan.

Pasukan bajak lautnya juga diampuni dan kebanyakan dari mereka harus menyerahkan senjata mereka sebagai imbalan atas kebebasan mereka.

Baca juga: Perempuan Berdaya: 3 Wanita Viking Perkasa dalam Legenda

Akhir riwayat

Ching Shih dan Cheung Po Tsai meminta gubernur Guangdong, Zhang Bailing, untuk memutuskan hubungan ibu dan anak mereka, dan mengizinkan mereka menikah.

Mereka diizinkan untuk melakukannya dan Gubernur Bailing sendiri menjadi saksi dalam upacara pernikahan mereka.

Dari pernikahan itu, Ching Shih dan Cheng Po Tsai dikaruniai seorang putra dan putri pada 1813.

Pada 1822, setelah 9 tahun membangun keluarga, Cheung Po Tsai meninggal.

Kemudian, Ching Shih dan anak-anaknya pindah ke kota asalnya Guangzhou dan membuka rumah judi dan rumah bordil.

Pada 1844, di usia 69 tahun ia meninggal di tempat tidur dikelilingi keluarganya.

Ching Shih dikenang sebagai perempuan berdaya yang tangguh dan berkuasa, di mana kala itu jarang sosok pemimpin wanita.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.