Kompas.com - 05/06/2013, 10:21 WIB
EditorEgidius Patnistik

PARIS, KOMPAS.com — Perancis mengatakan, ada bukti bahwa rezim Presiden Suriah, Bashar al-Assad, telah menggunakan gas saraf sarin yang mematikan dalam perang sipil di Suriah. Perancis menambahkan, "semua opsi", termasuk intervensi bersenjata ke Suriah, kini ada di atas meja.

Menteri Luar Negeri Perancis, Laurent Fabius, mengatakan, uji laboratorium menunjukkan penggunaan gas "beberapa kali di beberapa tempat". "Kami tidak meragukan bahwa gas itu telah digunakan ... uji laboratorium jelas," kata Fabius di televisi, Selasa (4/6/2013), setelah Perancis melakukan uji laboratorium terhadap sampel darah dan rambut dari Suriah yang menunjuk adanya penggunaan gas sarin.

"Tidak ada keraguan bahwa rezim itu dan kaki tangannya menggunakan gas," tambah dia. "Tak dapat disangkal bahwa sebuah garis telah dilanggar. Kami akan mengadakan pembicaraan dengan mitra kami tentang apa yang harus kami lakukan dan semua opsi ada di atas meja, guna memutuskan apakah bereaksi, termasuk dengan cara bersenjata," kata Fabius. "Tapi kami belum berada di sana," kata Fabius merujuk pada intervensi bersenjata.

"Kami harus bereaksi, tapi pada saat yang sama kami tidak harus memblokir sebuah konferensi perdamaian," katanya mengacu pada upaya AS dan Rusia yang mendukung pemberontak bergabung dalam pembicaraan damai di Jenewa.

Sementara itu, Juru Bicara Gedung Putih, Jay Carney, mengatakan, Washington masih membutuhkan lebih banyak bukti sebelum menyatakan secara resmi bahwa gas sarin telah digunakan di Suriah. "Kami perlu memperluas bukti yang kami miliki ... sebelum kami membuat keputusan apa pun," kata Carney, yang menyinggung posisi Presiden Barack Obama yang menyatakan bahwa penggunaan gas saraf mematikan akan menjadi game-changer bagi Washington.

Para penyelidik PBB pada Selasa pagi mengatakan bahwa mereka memiliki "alasan yang kuat" untuk percaya kedua belah pihak di Suriah telah menggunakan senjata kimia. Ini untuk pertama kalinya Komisi Penyelidik di Suriah—yang bertugas untuk menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia di Suriah sejak 2011—menambahkan dugaan penggunaan senjata kimia dalam daftar panjang kejahatan perang yang dilakukan di negeri itu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.