Kecewa kepada Filipina

Kompas.com - 19/02/2013, 03:08 WIB
Editor

LAHAD DATU, SENIN - Ratusan warga Kesultanan Sulu, yang awal pekan lalu mendarat dan mengklaim akan menetap di Lahad Datu, Sabah, Malaysia, mengaku terpaksa ”hijrah” dari Filipina. Mereka kecewa tak pernah dilibatkan dalam proses perdamaian di Filipina selatan.

Menurut Jamalul Kiram III (74), mantan Sultan Sulu di kawasan Filipina selatan, Senin (18/2), proses perjanjian damai di kawasan itu telah mengabaikan kesultanannya. Pemerintah Filipina, menurut dia, memberikan terlalu banyak porsi negosiasi kepada Front Pembebasan Islam Moro (MILF).

”Kami pergi ke Malaysia sebagai aksi protes untuk merespons ketidakadilan dalam proses perjanjian damai itu,” ujar Jamalul.

Terkait sikap tersebut, Jamalul mengaku tidak akan surut langkah. Dia dan semua pengikutnya mengaku siap mati demi mempertahankan prinsip dan tanah mereka.

Sebelumnya, sejumlah analis memang pernah memperingatkan, penandatanganan perjanjian damai bersejarah, yang menandai akhir 40 tahun konflik berdarah di Filipina selatan, berpotensi besar memicu ketidakstabilan.

Potensi ketidakstabilan terjadi lantaran dalam prosesnya banyak pihak, terutama para pemimpin suku berpengaruh dan punya banyak pengikut, tidak dilibatkan dalam negosiasi menuju perjanjian damai. Tidak hanya itu, para analis juga mengaku khawatir persoalan yang muncul juga akan berdampak memicu ketegangan antara Filipina dan negara tetangganya, Malaysia.

Apalagi selama ini kedua negara kerap bermasalah di sepanjang wilayah perbatasan laut mereka, terutama terkait keberadaan para pendatang ilegal dan masalah keamanan lain.

Seperti diwartakan, awal pekan lalu sekitar 100 orang bersenjata, yang mengaku sebagai tentara Kesultanan Sulu, mendarat di wilayah Sabah, lalu mendirikan rumah-rumah untuk bermukim.

Mereka mengklaim wilayah Sabah sebagai bagian dari tanah kekuasaan Kesultanan Sulu dahulu. Ratusan aparat kepolisian Malaysia dengan senjata berat dikerahkan mengepung daerah itu hingga sekarang.

Upaya negosiasi juga terus dilakukan aparat kepolisian Malaysia. Walau demikian, diyakini upaya negosiasi tersebut akan berujung buntu.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X