Lagi, Biksu Tibet Membakar Diri

Kompas.com - 27/10/2011, 04:50 WIB
Editor

Beijing, Rabu - Seorang biksu Tibet menyiram dirinya dengan bahan bakar dan membakar dirinya di China barat, Rabu (26/10). Menurut catatan Free Tibet, biksu itu adalah orang etnis Tibet kesepuluh yang mengambil bentuk protes ekstrem tersebut selama tahun ini.

Organisasi hak asasi manusia yang berbasis di Inggris itu mengatakan, aksi bakar diri paling akhir itu terjadi di luar sebuah wihara di Ganzi, Provinsi Sichuan. Kota itu terletak sekitar 150 kilometer sebelah selatan Aba, tempat delapan dari sembilan aksi bakar diri terakhir sejak bulan Maret untuk memprotes kontrol agama yang diterapkan Pemerintah China.

Dalam pernyataan yang dikirim lewat surat elektronik, Selasa malam, Free Tibet mengatakan belum mempunyai informasi mengenai nama, keberadaan, atau apakah biksu itu bertahan hidup dari insiden itu. Organisasi itu juga tak menyebutkan sumber informasi mereka.

Para pejabat pemerintah, polisi, dan pekerja di beberapa hotel di Ganzi—kota yang disebut Kandze oleh orang Tibet—mengatakan kepada Reuters, mereka tidak tahu mengenai insiden yang dilaporkan tersebut.

”Saya tidak tahu mengenai ini, bahkan kalau saya tahu, saya tidak bisa bocor mulut,” kata seorang pejabat di kantor wilayah Ganzi.

Sebagian besar orang di Ganzi dan kawasan tetangganya, Aba, adalah penggembala dan petani Tibet. Banyak dari mereka menganggap diri sebagai warga kawasan Tibet yang lebih luas yang meliputi Wilayah Otonomi Tibet yang resmi, dan daerah lain di dataran tinggi China yang luas.

Stephanie Brigden, direktur Free Tibet, yang mengampanyekan otonomi wilayah itu, mengatakan, rangkaian bakar diri itu, sedikitnya lima di antaranya berakibat fatal, ”mewakili penolakan pendudukan China atas Tibet”.

Kelompok itu melaporkan, semakin banyak personel keamanan siaga, termasuk di ibu kota Tibet, Lhasa, ratusan kilometer dari lokasi aksi bakar diri.

Bagi Pemerintah China, protes itu merupakan tantangan yang kecil, tetapi mendestabilisasi kebijakan regionalnya, yang diklaim telah mengangkat warga Tibet keluar dari kemiskinan dan perhambaan.

China menguasai apa yang mereka sebut Wilayah Otonomi Tibet sejak pasukan komunis masuk kawasan itu tahun 1950. Pemerintah China menolak kritik kelompok-kelompok HAM dan warga Tibet di pengasingan, serta mengecam aksi bakar diri itu sebagai destruktif dan amoral.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.