Kematian Taseer dan Masa Depan Pakistan

Kompas.com - 09/01/2011, 03:04 WIB
Editor

Ditambah lagi, pesan teror juga diyakini sudah sangat merasuk ke mana-mana. Sejumlah kalangan seperti aktivis pejuang hak asasi manusia mengaku khawatir dan sangat pesimistis dengan keselamatan mereka. Hal itu seperti disuarakan Asma Jahangir.

”Kami menjadi sangat rapuh. Nama saya sudah dikenal. Tentu saja hal itu menyebabkan saya harus selalu berhati-hati ke mana dan bagaimana saya bergerak,” ujar Jahangir.

Kekhawatiran macam itu semakin beralasan, terutama ketika pascapembunuhan, sejumlah pihak pendukung Qadri, yang juga berlatar belakang pendidikan tinggi macam para pengacara dan murid madrasah di beberapa tempat, seperti di Islamabad, Lahore, dan Rawalpindi, tampil memberikan dukungan untuk Qadri.

Bahkan, para pendukungnya mengalungi Qadri dengan untaian bunga mawar saat hadir di salah satu pengadilan di Islamabad. Tidak hanya mengelu-elukan, sejumlah pengacara bahkan menyatakan akan membela Qadri di pengadilan dengan gratis lantaran khawatir Pemerintah Pakistan akan memperlakukannya dengan tidak adil.

Lantas apakah Pakistan bisa disebut telah jatuh dalam cengkeraman kelompok radikal?

Sejumlah pakar, termasuk juga Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Sanaullah saat ditemui Kompas di Jakarta, berpendapat hal seperti itu belum sampai terjadi di sana. Sanaullah bahkan menyebutkan, sejumlah peristiwa yang terjadi belakangan ini jangan buru-buru diterjemahkan seperti itu.

Menurut seorang analis politik dan pertahanan Pakistan, Hasan Askari Rizvi, jumlah kelompok radikal yang memilih menggunakan kekerasan sebagai alat politik masih sangat kecil. Namun, dia juga mengingatkan, saat ini justru cara berpikir yang mendukung berkembangnya paham radikal dan militanlah yang semakin luas. Pemikiran semacam itu bahkan sudah masuk ke sekolah, lembaga pemerintahan, dan juga aparat keamanan. Apalagi kepemimpinan sipil dan militer di sana juga semakin lemah.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kepala Departemen Hubungan Internasional Universitas Peshawar, Ijaz Khan, mengaku yakin kelompok radikal dan militan belum terlalu mendapat banyak simpati rakyat Pakistan. Mereka belum populer.

”Masih ada puluhan ribu orang kemarin menghadiri pemakaman Taseer dan ikut menshalatkan dia walau sejumlah ulama mengatakan hal itu dosa jika dilakukan. Masyarakat masih banyak yang mengabaikan seruan ulama seperti itu. Sampai sekarang pun perolehan suara kelompok radikal itu pada pemilihan umum masih tidak lebih dari 6 persen,” ujar Khan. (AP/AFP/BBC/CNN/DWA)

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X