Pelajaran dari Paus Benediktus XVI

Kompas.com - 23/02/2013, 02:28 WIB
Editor

Oleh F Rahardi

Mundurnya Paus Benediktus XVI terhitung 28 Februari 2013 mengingatkan dunia pada mundurnya Paus Gregorius XII, 4 Juli 1415. Ingatan terhadap Gregorius XII juga berarti ingatan kembali akan Skisma 1378-1417.

Skisma (Skisma Barat) adalah perpecahan intern Gereja Katolik menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mendukung Takhta Kepausan di Avignon, Perancis, yang terdiri dari negara Perancis, Aragon, Kastil dan León (Wilayah Otonomi di Spanyol), Siprus, Burgundia, Savoy, Napoli, dan Skotlandia. Kelompok kedua pendukung Takhta Kepausan di Roma yang terdiri dari Denmark, Inggris, Flandria (Belgia), Kekaisaran Romawi Suci (Takhta Kepausan Roma), Hongaria, Italia Utara, Irlandia, Norwegia, Polandia, dan Swedia.

Takhta Kepausan di Avignon waktu itu dipimpin Benediktus XIII dan Takhta Kepausan di Roma dipimpin Gregorius XII. Selain dua paus itu, selama Skisma masih ada dua paus lagi: Aleksander V (1409-1410) dan Yohanes XXIII (1410-1414) yang dipilih Dewan Kardinal dari dua kelompok dalam Konsili Pisa 1409.

Hingga saat mundurnya Gregorius XII tahun 1415, Gereja Katolik punya tiga paus: Benediktus XIII di Avignon, Gregorius XII di Roma, dan Yohanes XXIII di Florensia. Konflik intern Gereja Katolik ini berakhir dengan diselenggarakannya Konsili Konstanz (selatan Jerman) pada 16 November 1414-22 April 1418. Pada awal konsili, Dewan Kardinal dari dua kelompok berhasil membujuk Yohanes XXIII mengundurkan diri.

Nama Yohanes XXIII kemudian dipakai secara resmi oleh Paus ke-261 (28 Oktober 1958-3 Juni 1963). Para paus Avignon periode Skisma, Aleksander V dan Yohanes XXIII, tidak diakui Gereja Katolik, dan disebut sebagai antipaus. Selama Konsili Konstanz, Paus Gregorius XII juga mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan kepada konsili. Pada 1415-1417 Takhta Kepausan kosong sampai terpilihnya Paus Martinus V tahun 1417 dan berakhirlah Skisma.

Mundurnya Paus Gregorius XII dan penyerahan kekuasaan ke Konsili Konstanz dianggap telah berhasil menyelamatkan Gereja Katolik dari perpecahan. Ternyata mundurnya Gregorius XII dalam Konsili Konstanz hanya ibarat analgesik, yang mampu menghilangkan rasa sakit tanpa menyembuhkan penyakit itu sendiri.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Makin menguat

Korupsi dan kekerasan terhadap kemanusiaan akibat penyatuan kekuasaan agama dengan negara terus berlangsung sepanjang abad ke-15. Ini bukan hanya terjadi pada Gereja Katolik, melainkan juga pada Kekaisaran Ottoman, yang waktu itu masih beribu kota Adrianopel, dan dianggap representatif mewakili Islam. Kekecewaan dan ketidakpuasan rakyat terhadap kekuasaan negara dan kekuasaan agama makin menguat. Secara ideologis, kritik paling tajam dilontarkan Machiavelli.

Melalui Il Principle (1513), Machiavelli menunjukkan, kekuasaan negara harus dipisahkan dari kekuasaan agama (desakralisasi kekuasaan negara). Machiavelli dikritik karena secara rinci menunjukkan cara mempertahankan kekuasaan negara dengan cara-cara yang melanggar norma, etika, dan kemanusiaan. Namun, justru itulah makna desakralisasi kekuasaan. Kalau mau berbuat dosa, janganlah melalui (atau atas nama) lembaga keagamaan.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.