Bahaya Terorisme Pasca-Osama

Kompas.com - 28/12/2011, 14:26 WIB
EditorTri Wahono

KOMPAS.com — Tokoh teroris paling dicari, Osama bin Laden, tewas dalam sebuah operasi militer Amerika Serikat di kota Abbottabad, Pakistan, awal Mei 2011, tetapi tidak berarti ancaman teroris melemah. Banyak pakar mengatakan, jaringan teroris sedang menyusun strategi baru sehingga masih menjadi ancaman yang berbahaya bagi dunia, tidak terkecuali di Indonesia.

Aksi-aksi teror atau terorisme bukanlah hal baru. Serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan perasaan teror, suasana panik, terhadap masyarakat sudah terjadi sejak lama. Meski demikian, terorisme menjadi lebih aktual sejak muncul serangan ke World Trade Center di New York, AS, 11 September 2001.

Nama Osama bin Laden semakin populer pascatragedi nine eleven yang menewaskan lebih dari 3.000 orang tersebut. Sejak itu, semua negara di dunia berada dalam posisi siaga tinggi, termasuk negara-negara yang mayoritas penduduknya mungkin diam-diam "mensyukuri" serangan yang menyasar ke "negeri adidaya" itu.

Sejak itu pula, perburuan terhadap Osama dan upaya memberangus basis-basis jaringan teroris Al Qaeda pimpinan Osama diproklamasikan AS. Bekerja sama dengan para sekutunya, AS mengerahkan pasukan dan semua logistik perangnya ke Afganistan, lalu merambat ke Irak, Iran, dan Pakistan pun dijadikan basisnya.

Hampir 10 tahun kemudian, tepatnya 1 Mei 2011 waktu AS, Presiden AS Barack Obama mengumumkan bahwa pemimpin jaringan teroris Al Qaeda itu sudah tewas. Osama tewas dalam sebuah operasi khusus pasukan elite Navy SEAL, AS, di Abbottabad. Sebagian besar tentara AS berpesta pora setelah mengetahui Osama tewas.

Kita tidak perlu mempersoalkan bagaimana Osama tewas. Bagaimana Osama muncul, apakah jaringannya sudah mati dan sudah amankah kita dari terorisme, adalah gugatan yang lebih aktual untuk disikapi. Mungkinkah dunia bisa aman dari terorisme, jaringan internasional yang tertata itu?

Osama, bernama lengkap Usamah bin Muhammad bin Awwad bin Ladin, berasal dari keluarga petani miskin Yaman, negeri paling miskin di Arab, yang kini masih bergolak. Dia mulai membangun jaringan komunikasinya tahun 1979 ketika ia tiba di Afganistan dari Arab Saudi, negeri keduanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di Afganistan, dia bergabung dalam milisi perang kaum Mujahidin yang berperang melawan invasi Uni Soviet. Menurut analis Timur Tengah, Hazhir Teimourian, jihad melawan Uni Soviet ini didukung dana AS, mendapat restu Arab Saudi dan Pakistan, dan dia pun mendapat pelatihan keamanan dari CIA.

Osama pun mendirikan Maktab al-Khidimat yang merekrut pejuang dari seluruh dunia dan mengimpor peralatan untuk membantu perlawanan Afganistan melawan Soviet. Setelah penarikan Soviet, ”the Arab Afghans”, sebutan terhadap faksi Osama, berbalik menyerang AS dan sekutunya di Timur Tengah. Tahun 1988-1989, Osama mendirikan Al Qaeda yang berarti fondasi.

Osama kembali ke Arab Saudi untuk bekerja di bisnis konstruksi keluarga, tetapi diusir pada 1991 karena kegiatan antipemerintah di sana. Osama lalu menghabiskan lima tahun berikutnya di Sudan hingga tekanan AS mendorong Sudan untuk mengusirnya, dan dia akhirnya kembali ke Afganistan.

Halaman:
Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.