Akhirnya, Yaman Mencari Aman

Kompas.com - 18/05/2011, 20:39 WIB
EditorJosephus Primus

KOMPAS.com — Krisis politik berkepanjangan memang bakal merugikan siapa pun. Berangkat dari situlah, semua pihak di Yaman kembali mengupayakan cara-cara damai agar negeri itu menjadi aman.

Alhasil, pemerintah dan oposisi bersedia menandatangani kesepakatan politik. Menurut warta AP dan AFP pada Rabu (18/5/2011), kesepakatan itu akan segera terwujud. Sebelumnya, Presiden Ali Abdullah Saleh bulan lalu mundur dari penandatanganan kesepakatan itu pada menit-menit terakhir.

Saat itu, Presiden Saleh dilaporkan hanya bersedia menandatangani kesepakatan itu dalam kapasitasnya sebagai pemimpin partai yang berkuasa. Sementara kubu oposisi mendesak Ali Abdullah Saleh menandatangani kesepakatan itu dalam kapasitasnya sebagai presiden.

Meski begitu, kesepakatan baru sudah memuat amandemen. Pasalnya, ada campur tangan diplomat Amerika Serikat dan Eropa.

Partai Kongres Rakyat Umum yang memerintah dan koalisi kubu oposisi, Barisan Bersama, sudah mencapai kesepakatan untuk berpartisipasi dalam pemerintahan nasional bersatu. "Setelah upaya dari Teluk, Amerika Serika, dan Eropa, tercapai persetujuan dari Presiden dalam prakarsa Teluk yang mengalami perubahan sederhana dan penandatanganan akan dilaksanakan hari ini," kata Yahya Abu Usbua.

Seorang staf Presiden Saleh menegaskan, "Ya, akan dilakukan hari ini."

Lengser

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pihak oposisi mengatakan, kesepakatan itu akan membuat Presiden Saleh–yang sudah memerintah selama 33 tahun–mundur dari jabatannya dalam waktu sebulan. Kesepakatan ini diharapkan bisa mengakhiri krisis politik di Yaman setelah unjuk rasa antipemerintah selama berbulan-bulan.

Bagaimanapun, kubu oposisi mendapat kecaman dari kelompok muda pengunjuk rasa yang menuduh mereka melanggar janji untuk membawa Presiden Saleh ke pengadilan. Kritik lain menyebutkan bahwa membiarkan Presiden berkuasan untuk satu bulan lagi akan memperburuk kondisi negara itu.

Berdasarkan kesepakatan, Presiden akan menyerahkan kekuasaan kepada wakilnya. Ia pun akan mendapat kekebalan dari proses penuntutan hukum.

Hingga saat ini, sekitar 130 orang tewas dari aparat keamanan ataupun pendukung Presiden Saleh. Unjuk rasa menuntut perubahan di Yaman berawal pada Januari lalu.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.