Sang Pencerah dari Timur

Kompas.com - 09/11/2010, 05:26 WIB
EditorJodhi Yudono

Berawal dari sebuah madrasah di Palu, Sulawesi Tengah, yang dibuka pada 14 Muharram 1349 Hijriah, bertepatan 11 Juni 1930 Masehi, sekolah yang dibiayai Habib Idrus bin Salim Ajufri terus berkembang pesat.

Bangunan sekolah sederhana yang dibangun dan dibiayai oleh Habib Idrus Bin Salim Aljufri itu, yang berkembang mencapai ratusan madrasah di kota-kota dan kampung-kampung di bagian Timur Kepulauan Indonesia, bernama Alkhairaat.

Madrasah buah karya Guru Tua, demikian Sayyid Idrus dipanggil oleh murid-muridnya, tersebar di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara,  Kalimantan Timur, Maluku Utara, dan Irian  Jaya, serta Jakarta.

Oleh Guru Tua perguran itu diberi nama Alkhairaat dengan harapan keberkatan dari nama yang banyak disebut dalam Alquran itu, kata Sofyan Thaha Bachmid, Wakil Sekjen Pengurus Besar Alkhairaat.

Dalam rentang  waktu  39 tahun sejak Habib Idrus mendirikan Perguruan Alkhairaat hingga ajal menjemputnya pada 1969, sudah ada sekitar 420 madrasah Alkhairaat yang tersebar di Indonesia bagian timur.

Guru Tua mengandalkan usaha dagang yang dikelolanya untuk membiayai madrasah tersebut, selain juga mengandalkan swadaya masyarakat melalui wakaf tanah dan harta.

Ia tidak mendamba bantuan pemerintah karena Alkhairaat justru banyak menolong merekatkan bangsa dan memberdayakan kaum papa negeri ini dengan kemampuannya mengorganisasi dan memobilisasi sumber daya ekonomi secara mandiri untuk keberlangsungan pendidikan umat.

Menurut Sofyan Bachmid, Guru Tua total dalam membantu masyarakat yang terbelakang dalam hal pendidikan dan akidah. Hal itu dapat disimak dalam syairnya, "Aku ajak setiap muslim kepada ilmu dan taqwa  dengan kesahajaanku, hartaku, pena dan lisanku."

Ikhlas menjadi kunci utama kekuatan yang menyemangati dan melandasi Guru Tua dalam membangun kejayaan perguruan Alkhairaat. Niat ikhlas yang ditunjukkannya itu pula yang mampu menumbuhkan kepercayaan orang untuk berlomba-lomba mewakafkan tanah dan hartanya untuk kemajuan pendidikan.

Dalam beberapa kesempatan di masa hidupnya, Habib Idrus selalu menganjurkan murid-muridnya dan masyarakat untuk ikhlas dalam bekerja.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X