Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PM Tymoshenko Perpanjang Krisis

Kompas.com - 12/02/2010, 03:22 WIB

Kiev, Kamis - Perdana Menteri Ukraina Yulia Tymoshenko yang kalah dalam pemilihan umum presiden tahap kedua, Kamis (11/2), menolak mundur sebagai perdana menteri, dan meminta Komisi Pemilihan Umum Ukraina melakukan penghitungan ulang dan menyelidiki kecurangan yang dilakukan

Melalui wakil perdana menteri pertama sekaligus orang dekatnya, Oleksander Turchynov, ditegaskan bahwa dia tidak berniat mundur dari pemerintahannya.

   Setelah tiga hari tidak tampil di depan publik, Tymoshenko kemarin memimpin sebuah pertemuan kabinet dan menyerang Yanukovich serta Partai Regions karena membatalkan komitmen untuk menaikkan gaji pegawai sektor publik dan para pensiun.

Beberapa menit setelah Tymoshenko berbicara di depan kabinetnya, Turchynov, kepada wartawan, mengatakan, ”Pemerintah tidak berencana untuk mundur dengan sukarela.”

Di depan kabinetnya, Tymoshenko tidak menyebut posisinya ataupun kekalahannya dalam pemilu. Sebaliknya, dia menyerang kebijakan Partai Regions dalam hal belanja sosial.

Manajer Kampanye Yanukovich, Borys Kolesnikov, menegaskan, Rabu (10/2), jika Tymoshenko tidak mengundurkan diri, dia akan diberhentikan dan Yanukovich akan mencari seorang perdana menteri baru.

Jika Yanukovich tidak bisa membentuk sebuah koalisi di parlemen, dia terpaksa meminta sebuah pemilihan umum sela.

Bohongi publik

Tymoshenko menuduh rivalnya memenangi pemilu dengan membohongi para pemilih dengan janji-janji kampanye.

”Hari ini sangat jelas bahwa tidak satu pun dari tim Yanukovich bermaksud meningkatkan standar-standar sosial. Itu hanyalah sebuah upaya kehumasan,” katanya di depan kabinet.

Dia menambahkan, segera setelah pemilu, penipuan kampanye dimulai lagi, dan rakyat perlu menyikapi ini dalam pengambilan keputusan politik di masa datang.

Partai Tymoshenko menuduh pemungutan suara dipenuhi kecurangan-kecurangan substansial sehingga hasilnya diragukan. Akan tetapi, Tymoshenko pribadi tidak berkomentar apa-apa mengenai keabsahan pemilu itu sehingga semakin meningkatkan tekanan terhadapnya untuk mengakui kekalahan.

Yanukovich sudah tiga kali meminta Tymoshenko mengakui kekalahannya dan mundur dari kursi perdana menteri.

”Saya ingin mengingatkan Nyonya Tymoshenko bahwa basis dari demokrasi adalah kehendak rakyat. Para pemimpin demokratik selalu menerima hasil dari pemilu. Negeri ini tidak membutuhkan sebuah krisis baru,” tegas Yanukovich.

Para pengamat internasional, termasuk dari AS dan Rusia, memuji pemilu di Ukraina itu sebagai pemilu yang bersih dan transparan. Hasilnya, Yanukovich menang dengan unggul 3,48 persen dari Tymoshenko.

Ukraina telah mengalami kebuntuan politik selama beberapa tahun sehingga mengganggu kemampuannya untuk mengatasi krisis ekonomi yang berat. Perlawanan Tymoshenko itu bisa semakin memperpanjang ketidakstabilan di Ukraina. Oleh karena itulah, kini tekanan semakin kuat ditujukan kepada Tymoshenko.

(AP/AFP/Reuters/OKI)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com